Modul Surya Paling Ringan di Dunia

Minggu, 28 Juli 2019 - 13:05 WIB
Modul Surya Paling Ringan...
Modul Surya Paling Ringan di Dunia
A A A
JAKARTA - Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dianggap menjadi salah satu energi baru terbarukan (EBT) yang paling mudah. Perangkatnya yang kini banyak ditemui dengan berbagai jenis.

Salah satunya produksi dari PT Sky Energy Indonesia (JSKY) produsen panel sur ya yang sudah hadir selama 11 tahun. Mereka mengenalkan rangkaian produk mo dul surya yakni J-Leaf, J-Feather, dan J-Bifacial. Dua dari ketiga produk baru tersebut berbobot ringan pertama di du nia yang terintegrasi di Japan Patent Office.

Jackson Tandiono, Presiden Direktur JKSY mengatakan, J-Leaf dan J-Feather ini merupakan solusi dari kelemahan modul surya konvensional yang berat. Meskipun ringan, keduanya tetap mampu menghasilkan daya maksimum setara 240 Pmax/W dengan tingkat efisiensi 18% yang sebelumnya hanya 16%.

J-Leaf dan J-Feather hadir dengan desain tanpa bingkai dan tanpa sekrup untuk pemasangannya. Keuntungannya, lebih mudah dalam proses instalasinya dengan biaya yang lebih sedikit dan tidak merusak struktur atap. “Jadi aman untuk dipasang di atap perumahan. Bahkan karena strukturnya fleksibel, J-Feather dapat dipasang di atap garasi dengan posisi melengkung,” jelasnya.

Sementara itu, J-Bifacial menghasilkan lebih banyak daya karena memiliki dua modul di kedua sisi. Jika dibandingkan dengan modul surya standar, JBifacial menghasilkan daya meningkat 5-30%. Ketiga produk baru ini baru mulai dipasarkan pada September 2019. Ronald Sibarani, Direktur Marketing JSKY, mengaku ingin mengedukasi masyarakat umum terlebih anak muda mengenai PLTS.

Tidak hanya memasarkan produk, tapi juga fungsi dan cara kerja. Masyarakat kota menjadi target karena inilah pasar yang potensial. “Masyarakat Papua sudah punya panel surya karena selalu diberi sebagai bantuan, tapi tidak dipakai karena mereka tidak tahu dipakai untuk apa. Kami ingin mengedukasi masyarakat perkotaan karena banyak dari mereka yang tidak mengerti, mereka hanya tahu panel surya untuk pemanas air, padahal alat itu tidak menghasilkan listrik, hanya memanaskan air,” ucapnya.

Peluang dilihat di kota lebih banyak karena ada kemampuan beli. Wilayah Jabodetabek yang akan jadi utama level edukasi tinggi, kemampuan ekonomi tinggi. “Kalau sudah menjadi tren di daerah ini, akan jadi tren juga di daerah lain,” tambahnya.

JSKY memang akan fokus untuk penjualan kepada konsumen, tidak hanya kepada bisnis. Jadi, mereka akan memiliki mitra dan menyediakan service center di lima wilayah di Jakarta. Mitra mendapat keuntungan dari perawatan dan pemasangan. JSKY juga akan membuat sistem crowd funding atau cicilan sebagai bagian dari strategi marketing. “Karena kami melihat orang Indonesia suka dengan biaya urunan, seperi crowd funding. Namun, belum bisa dilakukan karena terhalang regulasi,” ungkapnya.

Solar panel tengah dibicarakan oleh Kementerian Keuangan dan ESDM nantinya bisa dilakukan pembiayaan melalui perbankan, targetnya akhir tahun ini kebijakannya keluar. Ke depannya JSKY menyasar proyek hunian, rumah yang akan dibangun lebih mudah karena akan dibuat konstruksinya sesuai.

JSKY pun turut berkontribusi bagi kemajuan inovasi anak muda dengan menjadi sponsor tim yang ingin berlaga di kompetisi. Selain itu, dengan berbagai kampus salah satunya akan diadakan uji coba di danau UI untuk PLTS terapung menggunakan kapal. “Setelah diskusi dilakukan, kami katakan punya tipe yang sesuai untuk PLTS terapung. Biasanya kerja sama dengan memberikan produk kami. Kami ingin turut mendukung kreativitas anak muda dalam mengembangkan EBT,” ucap Ronald.

Pengamat energi Marwan Batubara mengatakan, PLTS tidak juga menjadi EBT yang paling mudah. Tidak bisa disamaratakan potensi EBT di setiap daerah. Namun jika memang benar, nanti akan semakin banyak orang yang memiliki panel surya. Perlahan namun pasti, masyarakat akan meninggalkan ketergantungan listrik dari PLN. “Melihat energi yang cocok didaerahnya itu harus dilihat secara masif. Tidak bisa juga langsung menentukan,” ungkapnya.

Bagi Marwan, jika masyarakat tinggal di dekat sungai dengan aliran air deras bisa dimanfaatkan. Mengembangkan EBT bukan sekadar melihat tren di daerah lain, masyarakat dapat mengeksplorasi potensi daerahnya sendiri. (Ananda Nararya)
(nfl)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
DRMA Percepat Transisi...
DRMA Percepat Transisi ke Energi Terbarukan Melalui Inovasi Penyimpanan Energi
Kementerian ESDM Genjot...
Kementerian ESDM Genjot Capaian Energi Baru Terbarukan
Sekolah dengan Teknologi...
Sekolah dengan Teknologi Energi Terbarukan di Tasmania
Transisi Me­nu­ju...
Transisi Me­nu­ju Era Energi Bersih Men­dekati Kenyataan
SunCable Bangun Jembatan...
SunCable Bangun Jembatan Listrik Raksasa, Indonesia Siap Jadi Pusat Energi Hijau ASEAN
EBT Bakal Menjadi Tulang...
EBT Bakal Menjadi Tulang Punggung Pemenuhan Energi Pasca 2031
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
4 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
4 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
4 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
6 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
6 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
6 jam yang lalu
Infografis
Daftar Skuad Timnas...
Daftar Skuad Timnas Mesir di Piala Dunia 2026, Mohamed Salah Ujung Tombak
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved