alexametrics

Semester I, Laba Bersih Astra Terkoreksi 6%

loading...
A+ A-
JAKARTA - PT Astra International Tbk (ASII) mencatat penurunan laba bersih sebesar 6% pada semester I-2019, dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada paruh pertama tahun ini, laba bersih Astra mencapai Rp9,8 triliun berbanding Rp10,38 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, Selasa (30/7/2019), pendapatan bersih Astra pada semester I-2019, meningkat 3,32% menjadi Rp116,18 triliun, berbanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp112,5 triliun. Peningkatan pendapatan ini berasal dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi serta divisi jasa keuangan.

Adapun beban pokok pendapatan Astra pada semester I tahun ini mencapai Rp91,7 triliun, naik 2,71% secara tahunan (year on year/yoy). Beban penjualannya sebesar Rp4,73 triliun, naik 3,21%. Biaya keuangannya Rp2,17 triliun, melonjak hingga 72,5%. Kenaikan beberapa pos beban tersebut membuat laba periode berjalan mereka turun 6,77% yoy menjadi Rp12,3 triliun.



Presiden Direktur Astra International, Prijono Sugiarto, menerangkan bahwa penurunan tersebut disebabkan oleh penurunan kontribusi dari divisi otomotif dan agribisnis, yang penurunannya lebih besar dari peningkatan kontribusi dari divisi jasa keuangan, infrastruktur dan logistik, serta alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi.

"Kinerja Grup Astra pada semester pertama 2019 dipengaruhi oleh lesunya konsumsi domestik dan tren penurunan harga-harga komoditas, tetapi juga diuntungkan oleh peningkatan kinerja bisnis jasa keuangan dan kontribusi dari tambang emas yang baru diakuisisi," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima SINDOnews di Jakarta, Selasa (30/7/2019).

Berdasarkan segmennya, laba bersih dari segmen otomotif tergerus sebesar 18% pada semester I-2019, sektor agribisnis turun 94%, teknologi informasi turun 35%, dan properti turun 33%.

Namun dari segmen alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi meningkat 2%, segmen jasa keuangan meningkat 32%, dan segmen infrastruktur dan logisiktik pertumbuhannya sangat melesat.

Sebagai rincian, laba bersih dari divisi otomotif menurun 18% menjadi Rp3,5 triliun, terutama disebabkan oleh penurunan volume penjualan mobil dan meningkatnya biaya material pada aktivitas manufaktur.

Penjualan mobil Astra turun 6% menjadi 253.000 unit dengan penjualan mobil secara nasional menurun 13% menjadi 482.000 unit, pangsa pasar Astra meningkat dari 48% menjadi 53%, 8 model baru dan 2 model revamped telah diluncurkan pada periode ini.

Laba bersih dari divisi Agribisnis grup turun 94% menjadi Rp35 miliar, PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) yang 79,7% sahamnya dimiliki perseroan, melaporkan penurunan laba bersih sebesar 94% menjadi Rp44 miliar, terutama disebabkan oleh penurunah harga minyak kelapa sawit.

Pelemahan harga rata-rata minyak kelapa sawit sebesar 18% menjadi Rp6.441 per kilogram dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Volume penjualan minyak kelapa sawit dan produk turunannya meningkat sebesar 19% menjadi 1,2 juta ton.

Laba bersih bisnis jasa keuangan Grup Astra meningkat 32% menjadi Rp2,8 triliun. Penyokongnya adalah pemulihan kredit bermasalah (non performing loan/NPL), provisi kerugian kredit yang lebih rendah, dan portofolio pembiayaan yang lebih besar.

Bisnis pembiayaan konsumen mengalami peningkatan nilai pembiayaan sebesar 6% menjadi Rp 42,1 triliun. Kontribusi laba bersih dari perusahaan pembiayaan mobil naik 39% menjadi Rp713 miliar, disebabkan oleh penurunan kerugian atas kredit bermasalah. Kontribusi laba bersih dari PT Federal International Finance (FIF) yang fokus pada pembiayaan sepeda motor meningkat 10% menjadi Rp1,2 triliun karena portofolio pembiayaan yang lebih besar.

Dan untuk total pembiayaan yang disalurkan oleh unit usaha pembiayaan alat berat turun sebesar 4% menjadi Rp2,1 triliun. Kontribusi laba bersih dari segmen ini meningkat 32% menjadi Rp50 miliar, seiring dengan penurunan biaya provisi.

PT Bank Permata Tbk (BNLI), yang 44,6% sahamnya dimiliki Astra, mencatat peningkatan laba bersih sebesar 146% menjadi Rp711 miliar. Hal itu terutama disebabkan oleh pemulihan kredit bermasalah. Rasio kredit bermasalah kotor (gross NPL) dan bersih (nett NPL) membaik menjadi masing-masing 3,6% dan 1,3%, dibandingkan dengan masing-masing sebesar 4,4% dan 1,7% pada akhir tahun 2018.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top