Bos Medco Sebut Ketidakpastian Tarif Hambat Pengembangan Panas Bumi

Rabu, 14 Agustus 2019 - 14:20 WIB
Bos Medco Sebut Ketidakpastian...
Bos Medco Sebut Ketidakpastian Tarif Hambat Pengembangan Panas Bumi
A A A
JAKARTA - Pengusaha panas bumi mengeluhkan ihwal regulasi tarif listrik yang tidak konsisten. Ketidakpastian terkait aturan tersebut dituding sebagai faktor utama lambatnya pengembangan panas bumi di Indonesia.

“Pernah suatu saat aturan menarik tapi ada menteri baru berubah lagi tidak menarik. Itulah yang ditakutkan pengusaha sehingga pengembangannya lambat,” ujar Presiden Direktur Medco Energi Internasional Hilmi Panigoro saat ditemui di acara Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition 2019 bertajuk ‘Making Geothermal the Energy of Today’ di JCC, Jakarta, Rabu (14/8/2019).

Menurutnya, aturan mencla-mencle terkait regulasi khususnya ketentuan tarif sangat disayangkan karena potensi pengembangan panas bumi cukup besar.

Pihaknya menyebut potensi panas bumi di Indonesia mencapai 12 giga watt (GW) tapi baru sekitar 2.000 MW yang berhasil dikembangkan.

“Mengulang Pak JK (Wakil Presiden Jusuf Kalla), pengembangan panas bumi 2.000 MW dibandingkan potensi sebesar 12 GW itu sangat lambat. Apalagi kemarin (Pertamina) tandatangan pengembangan 10 MW di depan Wakil Presiden itu memalukan,” cetusnya.

Pihaknya berharap pemerintah membuat aturan tarif baru yang berpihak kepada investor sehingga pengembangan panas bumi lebih atraktif. Pasalnya, kebutuhan investasi pengembangan panas bumi (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi/PLTP) cukup besar.

“Investasi geothermal itu mencapai USD5 juta per megawatt. Jadi kalau tarif terlalu rendah berat kita investasi. Makanya itu, tarif diberesin dulu,” tandasnya.

Sebagai gambaran tarif listrik di PLTP Sarulla sebesar 6,9 sen per kWh berbeda dengan kondisi tarif di Sumatera Utara rata-rata 10,2 sen per kWh. Artinya, pengembang PLTP rata-rata hanya dihargai 60% dari harga listrik.

“Sebab itu kita minta supaya tarif itu di-link daripada risiko di lapangan. Pengusaha itu sederhana kok kasih kita return resources yang cocok pasti kita invest,” tandas dia.
(ind)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Indonesia Punya Harta...
Indonesia Punya Harta Karun Energi Terbesar ke-2 Dunia, Tapi Baru Dipakai 9%
Skema Insentif Kompensasi...
Skema Insentif Kompensasi Eksplorasi Panas Bumi Disusun Demi Investasi
Garap Harta Karun Energi...
Garap Harta Karun Energi di Jantung Indonesia, PGE Buka Peluang Kemitraan Strategis
Berpengalaman Hampir...
Berpengalaman Hampir 50 Tahun, PGE Dapat Dukungan Jadi Induk BUMN Panas Bumi
Meneropong Tantangan...
Meneropong Tantangan Merger Anak Usaha Pertamina dan PLN dengan Geo Dipa
Indonesia Kuasai Cadangan...
Indonesia Kuasai Cadangan Geothermal Dunia, Tapi Pengelolaan Masih Minim
Berita Terkini
Harga Emas Antam dan...
Harga Emas Antam dan Buyback Kompak Turun Rp20.000 per Gram, Ini Rinciannya
47 menit yang lalu
Perkuat Tata Kelola...
Perkuat Tata Kelola Keamanan Informasi, MNC Sekuritas Perpanjang Sertifikasi ISO/IEC 27001:2022
56 menit yang lalu
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Menguat 0,17% ke 5.934
2 jam yang lalu
MSIG Life Kolaborasi...
MSIG Life Kolaborasi dengan Bank Sinarmas Meluncurkan Smile Critical Prime
2 jam yang lalu
Takeda Investasi Rp542...
Takeda Investasi Rp542 Miliar Bangun Ekosistem Plasma di Indonesia
3 jam yang lalu
AS-Iran Kembali Saling...
AS-Iran Kembali Saling Serang, Harga Minyak Dunia Melesat Lebih 3%
3 jam yang lalu
Infografis
Siapa John Ternus, Bos...
Siapa John Ternus, Bos Baru Apple Pengganti Tim Cook?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved