Pengamat Nilai Target Pertumbuhan Ekonomi 2020 Masih Stagnan

Jum'at, 16 Agustus 2019 - 23:39 WIB
Pengamat Nilai Target...
Pengamat Nilai Target Pertumbuhan Ekonomi 2020 Masih Stagnan
A A A
JAKARTA - Pemerintah telah menyusun asumsi dasar ekonomi makro yang digunakan sebagai acuan dalam RAPBN tahun 2020. Pertumbuhan ekonomi ditargetkan tetap tumbuh 5,3%.

Inflasi masih dapat terkendali dalam kisaran 3,1%. Nilai tukar rupiah diperkirakan berada pada Rp14.400 per dolar Amerika Serikat. Tingkat suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan sebesar 5,4%, dengan optimisme terkait persepsi positif dan perbaikan iklim investasi di Indonesia sehingga arus investasi akan terus mengalir ke dalam negeri.

Indonesia Crude Price (ICP) diperkirakan rata-rata mencapai USD65,0 per barel. Lifting minyak dan gas bumi diperkirakan masing-masing mencapai 734.000 barel per hari dan 1.19 juta barel setara minyak per hari.

Peneliti dari Institute For Develompent of Economics and Finance (Indef), Rizal Taufikurahman, mengatakan asumsi pertumbuhan ekonomi pada tingkat 5,3% tidak beranjak dari target pertumbuhan ekonomi 2019. Ini menunjukkan bahwa perekonomian nasional stagnan.

"Artinya perekonomian nasional tidak jauh lebih baik dari tahun ini. Tentunya akan mempunyai tantangan besar tersendiri dalam mencapai target tersebut," ujarnya di Jakarta, Jumat (16/8/2019).

Rizal melanjutkan, target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3% mengandalkan konsumsi dan investasi sebagai motor penggerak utama. Padahal, kedua indikator tersebut masih belum memberi sinyal lebih baik sesuai yang diharapkan.

Di sisi lain, kondisi eksternal masih dibayangi oleh ketidakpastian global karena perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Apalagi kondisi nilai tukar terhadap dolar AS yang kian tidak mudah dikendalikan. "Kondisi ini menunjukkan nilai tukar rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp14.400 per dolar," jelasnya.

Untuk ICP yang diperkirakan USD65 per barel, masih bersifat unpredictable dimana sangat dipengaruhi oleh dinamika global. Tentu angka ini juga masih sangat rentan berubah. Sementara asumsi pertumbuhan ekonomi berasal dari lifting migas tahun 2020 lebih rendah dibandingkan tahun 2019.

"Ini menunjukkan kontribusi dari lifting ini sangat berat dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Dari kondisi ini, dapat dilihat bahwa keempat asumsi ini, tahun 2020 masih belum memberikan kondusifitas pertumbuhan ekonomi yang kian membaik," kata Rizal.

Peneliti Indef, Abdul Manap Pulungan, mengatakan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3% di tahun 2020 sangat sulit dicapai. Sejak tahun 2015 hingga semester I 2019, pertumbuhan tertinggi ekonomi Indonesia hanya mencapai 5,27% (yoy).

"Apalagi saat ekonomi global yang semakin berat. Target pertumbuhan sebesar 5,3% rasanya sulit," ungkapnya.

Dia menuturkan, dari sisi permintaan, ekonomi belum masuk ke aktivitas produktif karena rendahnya pertumbuhan PMTDB (Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto). Bahkan pada kuartal I dan II tahun 2019, pertumbuhannya di bawah target pertumbuhan ekonomi.

"Ini sangat mengkhawatirkan. Sementara inflasi memang sudah demikian kondisinya, saat ekonomi tumbuh terbatas, tentu inflasi juga rendah (IHK). Akan tetapi, inflasi bahan makanan masih membumbung. Artinya persoalan inflasi belum juga beres," tandasnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
RAPBN 2021 Dinilai Ringkih...
RAPBN 2021 Dinilai Ringkih dan Bisa Merugikan Bangsa
Ramalan Jokowi: Ekonomi...
Ramalan Jokowi: Ekonomi RI Tahun 2022 Tumbuh 5,5%
Perry Warjiyo Lebih...
Perry Warjiyo Lebih Pede dari Pemerintah Soal Pertumbuhan Ekonomi RI di 2021
Efek Perang Dagang,...
Efek Perang Dagang, Indef Revisi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI di 2025 Jadi 4,87%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Harga Emas Hari Ini...
Harga Emas Hari Ini Berbalik Merayap Naik Rp3 Ribu per Gram, Intip Rincian Lengkapnya
1 jam yang lalu
DJP Gandeng Babinsa...
DJP Gandeng Babinsa dan Bhabinkamtibmas Awasi Pajak: Hanya Pendamping, Tak Perlu Khawatir
2 jam yang lalu
60 Negara Jadi Sasaran...
60 Negara Jadi Sasaran Tarif Baru Trump, Termasuk Sekutu Dekat AS!
2 jam yang lalu
Diplomasi Sawit Perlu...
Diplomasi Sawit Perlu Diperkuat untuk Jaga Daya Saing Ekspor
11 jam yang lalu
Perang AS-Iran Kian...
Perang AS-Iran Kian Sengit, ASEAN Wanti-wanti Krisis Pangan dan Energi
12 jam yang lalu
Garudafood Resmikan...
Garudafood Resmikan Rumah Maggot di Depok, Kelola 100 Ton Sampah Organik Jadi Nilai Ekonomi
12 jam yang lalu
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved