Penuruan Suku Bunga Acuan Masih Terbuka Saat Inflasi Terjaga
Rabu, 21 Agustus 2019 - 19:46 WIB
Penuruan Suku Bunga Acuan Masih Terbuka Saat Inflasi Terjaga
A
A
A
JAKARTA - Penurunan suku bunga acuan alias BI 7-Day Repo Rate masih terbuka seiring dengan faktor inflasi yang masih tetap terjaga dan rendah. Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudisthira menerangkan, ruang penurunan suku bunga acuan masih bisa sebesar 25 bps dalam RDG bulan ini sehingga menjadi 5,5%.
"Faktornya proyeksi inflasi tahun ini diperkirakan rendah di bawah 3,5%. Apalagi di 2020 inflasi diasumsikan hanya 3,1%, Periode inflasi yang rendah biasanya disertai dengan bunga acuan yang rendah," ujar Bhima saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Rabu (21/8/2019).
Ditambah menurutnya stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) masih terjaga di bawah asumsi Rp15.000 per USD seperi dipatok dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2019. Pada sesi perdagangan hari ini, rupiah terlihat berdiri kokoh pada zona hijau untuk jadi sentimen positif.
"Ketiga, suku bunga yang rendah diperlukan untuk menstimulus perekonomian. Proyeksi pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya mencapai 5%. Tekanan perang dagang, harga komoditas yang rendah dan konsumsi lambat memerlukan stimulus moneter," jelasnya.
Sebagai informasi target pertumbuhan ekonomi dalam RAPB) 2020 yang diusulkan sebesar 5,3% atau hanya meningkat 0,1% dari tahun lalu menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional hingga tengah tahun 2019 tidak begitu menggembirakan. Bahkan ekonomi pada 2020 diyakini masih bergantung pada konsumsi rumah tangga, sama seperti 2019.
"Faktornya proyeksi inflasi tahun ini diperkirakan rendah di bawah 3,5%. Apalagi di 2020 inflasi diasumsikan hanya 3,1%, Periode inflasi yang rendah biasanya disertai dengan bunga acuan yang rendah," ujar Bhima saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Rabu (21/8/2019).
Ditambah menurutnya stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) masih terjaga di bawah asumsi Rp15.000 per USD seperi dipatok dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2019. Pada sesi perdagangan hari ini, rupiah terlihat berdiri kokoh pada zona hijau untuk jadi sentimen positif.
"Ketiga, suku bunga yang rendah diperlukan untuk menstimulus perekonomian. Proyeksi pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya mencapai 5%. Tekanan perang dagang, harga komoditas yang rendah dan konsumsi lambat memerlukan stimulus moneter," jelasnya.
Sebagai informasi target pertumbuhan ekonomi dalam RAPB) 2020 yang diusulkan sebesar 5,3% atau hanya meningkat 0,1% dari tahun lalu menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional hingga tengah tahun 2019 tidak begitu menggembirakan. Bahkan ekonomi pada 2020 diyakini masih bergantung pada konsumsi rumah tangga, sama seperti 2019.
(akr)
Lihat Juga :