China dan AS Mulai Terapkan Tarif Baru

Senin, 02 September 2019 - 10:43 WIB
China dan AS Mulai Terapkan...
China dan AS Mulai Terapkan Tarif Baru
A A A
BEIJING - China dan Amerika Serikat (AS) mulai menerapkan tarif tambahan pada produk-produk pihak lain dalam perang dagang yang kian memanas. Tarif baru itu tetap diterapkan meski negosiasi perdagangan akan kembali digelar bulan ini.

Tarif baru tersebut mulai berlaku dengan China menerapkan tarif 5% pada minyak mentah AS. Ini pertama kali minyak menjadi target tarif sejak kedua negara memulai perang dagang lebih dari setahun silam. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump akan mulai mengumpulkan tarif 15% pada lebih dari USD125 miliar produk impor dari China, termasuk speaker cerdas, headphone bluetooth, dan beragam sepatu serta sandal.

Sebagai pembalasan, China mulai menerapkan tarif tambahan pada beberapa produk AS senilai USD75 miliar dalam daftar target. Beijing tidak secara rinci menyebut nilai barang yang menghadapi tarif lebih tinggi sejak kemarin.

Tarif tambahan 5% dan 10% itu diterapkan pada 1.717 jenis dari total 5.078 produk dari AS. Beijing akan mulai mengumpulkan tarif tambahan pada sisa produk lainnya mulai 15 Desember mendatang. Media China memberikan pernyataan tegas dalam langkah Beijing terkait perang dagang kedua negara.

“AS harus belajar bagaimana berperilaku sebagai kekuatan global bertanggung jawab dan berhenti bertindak seperti seorang pengganggu di sekolah,” kata laporan kantor berita China, Xinhua, dilansir Reuters.

“Sebagai satu-satunya superpower dunia, AS perlu bertanggung jawab dan bersama negara lain menjadikan dunia lebih baik dan tempat yang lebih sejahtera. Hanya dengan itu Amerika dapat menjadi hebat lagi,” kata laporan Xinhua.

Harian People’s Daily menyatakan tarif tidak bisa menghentikan pembangunan China. “Pertumbuhan ekonomi China membuat China lahan subur untuk investasi yang perusahaan asing tak dapat mengabaikan,” ungkap laporannya dalam komentar berjudul Suara China yang sering digunakan sebagai pendapat negara atas isu kebijakan luar negeri.

Bulan lalu, Presiden AS Donald Trump menyatakan ingin menaikkan tarif yang ada dan rencana tarif hingga 5% pada sekitar USD550 miliar produk impor dari China setelah Beijing mengumumkan pembalasan pada tarif AS. Tarif sebesar 15% pada telepon seluler, komputer laptop, mainan, dan pakaian akan berlaku mulai 15 Desember.

Kantor Perwakilan Dagang AS menyatakan, pihaknya akan mengumpulkan pendapat publik hingga 20 September tentang rencana menaikkan tarif hingga 30% pada produk senilai USD250 miliar yang telah terkena tarif 25%.

Tim negosiasi perdagangan dari AS dan China terus berunding dan akan bertemu pada September. Namun, Trump mengatakan, kenaikan tarif pada produk-produk China mulai berlaku kemarin dan tak akan ditunda. Selama dua tahun, pemerintahan Trump berupaya menekan China untuk membuat perubahan pada kebijakan terkait perlindungan kekayaan intelektual, transfer teknologi secara paksa pada perusahaan China, subsidi industri, dan akses pasar. China secara konsisten menolak berbagai tuduhan Washington bahwa Beijing melakukan praktik dagang tak adil.

Beijing berjanji membalas berbagai tindakan dan kritik AS yang dianggap aksi proteksionisme. Beijing mendesak AS membatalkan kenaikan tarif, tapi pekan lalu menyatakan bahwa perundingan September sedang dibahas antara kedua negara.

Perang dagang semakin memperburuk hubungan Beijing dan Washington yang sudah dibayangi latihan kebebasan navigasi AS dekat kepulauan yang dikontrol China di Laut China Selatan dan dukungan AS pada Taiwan. Pekan lalu, Wakil Perdana Menteri (PM) China Liu He berharap bisa menghentikan perang dagang antara Beijing dan Washington.

Liu merupakan pemimpin delegasi perundingan dagang dengan Washington. Liu berbicara di konferensi teknologi di Chongqing, China, bahwa tak ada satu pihak pun yang diuntungkan dari perang dagang. “Kami ingin menyelesaikan itu melalui konsultasi dan kerja sama dalam sikap yang tenang dan menentang eskalasi perang dagang,” kata Liu yang merupakan penasihat ekonomi Presiden China Xi Jinping dilansir Reuters.

“Kami yakin eskalasi perang dagang tidak menguntungkan bagi China, AS atau kepentingan warga dunia,” kata Liu. Liu menjelaskan, perusahaan-perusahaan AS sangat disambut di China dan akan diperlakukan baik.

“Kami menyambut perusahaan-perusahaan dari penjuru dunia, termasuk AS, untuk berinvestasi dan beroperasi di China,” ujar dia. “Kami akan terus menciptakan lingkungan investasi yang baik, melindungi hak kekayaan intelektual, mempromosikan pembangunan industri cerdas dengan membuka pasar kami, menentang blokade teknologi dan proteksionisme, serta terus melindungi jaringan suplai sepenuhnya,” ungkap Liu. Trump tampak bersikap lebih tenang pada Minggu (25/8) terkait ancamannya memerintahkan perusahaan-perusahaan AS keluar dari China.

Belum jelas bagaimana Trump akan memaksa perusahaan-perusahaan AS meninggalkan China. Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin menyatakan, Trump bisa memerintahkan perusahaan-perusahaan keluar dari China sesuai Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional, jika Presiden AS mendeklarasikan darurat nasional.

Perang dagang telah merusak pertumbuhan global, menyulitkan aliansi, dan memicu kekhawatiran pasar bahwa ekonomi global akan mengalami resesi. Bursa global terguncang dan mata uang yuan China turun ke level terendah dalam 11 tahun. (Syarifudin)
(nfl)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
China Menyerah? Xi Jinping...
China Menyerah? Xi Jinping Sebut Tak Ada Pemenang dalam Perang Dagang Melawan AS
Tak Pernah Terjadi Sebelumnya,...
Tak Pernah Terjadi Sebelumnya, China Mampu Tundukkan AS
Perang Dagang China...
Perang Dagang China dan AS Makin Panas, Beijing Terapkan Tarif 15%
Indonesia Diminta Tak...
Indonesia Diminta Tak Terjebak dalam Isu Perang Dagang AS-China
Apakah Trump 2.0 Bikin...
Apakah Trump 2.0 Bikin Perang Dagang Memanas? China Cari Win-win Solusi
140 Perusahaan China...
140 Perusahaan China Masuk Daftar Hitam AS, Perang Dagang Chip Memanas
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
8 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
9 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
10 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
10 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
10 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
10 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved