Tak Mampu Beradaptasi, Forever 21 Bangkrut

Selasa, 01 Oktober 2019 - 11:33 WIB
Tak Mampu Beradaptasi,...
Tak Mampu Beradaptasi, Forever 21 Bangkrut
A A A
NEW YORK - Ritel fashion dari Amerika Serikat (AS), Forever 21, mengalami pailit dan dililit utang. Bangkrutnya brand ini selain akibat gempuran situs belanja dalam jaringan, juga karena kurang mampu beradaptasi seiring dengan perubahan yang sangat cepat di dunia fashion.

Perusahaan yang berdiri sejak 16 April 1984 tersebut sedikitnya akan menutup 350 toko di seluruh dunia, 178 diantaranya berada di Amerika. Sisanya merupakan gerai-gerai yang berada di Eropa dan Asia.

Forever 21 hanya akan melanjutkan operasi di AS, Meksiko, dan Amerika Latin. Mereka mengalami kesulitan keuangan sejak lima tahun terakhir.

Meski mampu bertahan dengan menggebyarkan diskon barang aksesori dan busana, perusahaan dengan revenue USD4 miliar pada 2016 itu tak mampu keluar dari pailit.

Forever 21 memperoleh dana segar sekitar USD275 juta(Rp3,9 triliun) dari peminjam dana sebelumnya dan USD75juta (Rp1 triliun) dari peminjam dana baru. Wakil Presiden Eksekutif Forever 21, Linda Chang, berharap perusahaannya dapat kembali bangkit setelah dilakukan pengaturan ulang posisi dan tata ulang bisnis.

Para ahli mengatakan, Forever 21 merupakan korban terbaru dari gempuran situs belanja daring karena gagal melakukan adaptasi terhadap perkembangan zaman. Dengan surutnya pendapatan, perusahaan ritel busana itu mengandalkan dana pinjaman untuk dapat beroperasi sebelum akhirnya bocor pada tahun ini.

Forever 21 mengajukan surat perlindungan kebangkrutan sesuai peraturan yang berlaku di AS. Secara hukum, setiap perusahaan di AS yang mengajukan surat perlindungan kebangkrutan berhak menunda kewajiban melunasi utang untuk merancang ulang rencana atau mengumpulkan dana dengan menjual asetnya.

Forever 21 juga mengambil langkah mundur dan kemungkinan hanya akan mengoperasikan 450 toko di seluruh dunia. Kendati demikian, mereka tidak menerangkannya secara rinci, termasuk lokasi persis toko yang akan ditutup. Menurut sumber dari perusahaan, Forever 21 tidak akan keluar dari pasar utama di dunia. “Keputusan lokasi mana saja yang akan ditutup masih dalam perundingan. Kami tidak akan menutup toko di lokasi yang memiliki iklim bisnis bagus,” ujar sumberitu, dikutip BBC.

Pada pekan lalu, Forever 21 mengumumkan akan menutup toko di Jepang pada Oktober mendatang akibat rendahnya penjualan.

Forever 21 meyakini pengajuan surat perlindungan kebangkrutan Bab 11 merupakan langkah yang tepat untuk mempertahankan bisnis dan mencari solusi baru agar dapat keluar dari pailit. Mereka meyakinkan para pelanggan, terutama di pasar AS, toko-toko Forever 21 akan tetap buka dan beroperasi seperti biasanya. “Hal ini tidak berarti kami gulung tikar. Sebaliknya, kami sedang berupaya merumuskan strategi baru dalam menggapai kesukses an di masa depan,” ungkap Forever 21.

Menurut Direktur Manajer Global Data Retail, Neil Saunders, ancaman kebangkrutan akibat perubahan tren dan selera merupakan hal biasa. Forever 21 dinilai kurang cepat beradaptasi, menyusul banyaknya perubahan yang terjadi di pasar busana internasional. Selain salah langkah, perusahaan yang didirikan DoWong Chang dan Jin Sook Chang itu tidak memiliki ciri khas yang menonjol ketika berhadapan dengan beragam brand terkenal lain seperti Zara dan H&M.

“Selama beberapa tahun terakhir Forever 21 telah kehilangan daya tarik yang sangat penting untuk membantu kaki perusahaan tetap melangkah ke depan hingga tak dapat diabaikan para pelanggan,” ujar Saunders. “Standar toko, kualitas tampilan, barang dagangan, dan variasi inspirasi juga menurun tajam.” (Muh Shamil)
(nfl)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Bertahan Saat Pandemi,...
Bertahan Saat Pandemi, Theshonet Beri Stimulus ke Pelaku Industri Fashion dan Beauty
Industri Ritel Makin...
Industri Ritel Makin Tertekan
K3Mart Raih Penghargaan...
K3Mart Raih Penghargaan Best Leading Retail Innovation of the Year
Peritel Minta Aktivitas...
Peritel Minta Aktivitas Ekonomi Tetap Jalan dengan Protokol Kesehatan
Peritel Ingin ‘Gas-Rem’...
Peritel Ingin ‘Gas-Rem’ Diatur Secara Bijak
Matahari Masih Bersinar...
Matahari Masih 'Bersinar' Saat Pandemi, Gerai Ketiga Tahun Ini Diresmikan
Berita Terkini
Tokenisasi Saham AI...
Tokenisasi Saham AI Diminati Investor, Bittime Catat Kepemilikan Naik 106%
5 jam yang lalu
Iran-AS Memanas Lagi,...
Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
5 jam yang lalu
Pertamina Manfaatkan...
Pertamina Manfaatkan Jakarta Fair Perkuat Daya Saing UMKM Lokal
5 jam yang lalu
Pasar Saham RI Terancam...
Pasar Saham RI Terancam Turun Kelas, Modal Asing Bisa Kabur Rp3,6 Triliun
6 jam yang lalu
Sertifikasi Influencer...
Sertifikasi Influencer Kripto Dinilai Jadi Langkah Positif Bangun Ekosistem Lebih Sehat
6 jam yang lalu
Rupiah Kian Krasan di...
Rupiah Kian Krasan di Kisaran Rp18.000, Apa Penyebabnya?
6 jam yang lalu
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved