Pengusaha Wanita Paling Sukses di Inggris Soroti Kesenjangan Upah

Jum'at, 04 Oktober 2019 - 06:02 WIB
Pengusaha Wanita Paling...
Pengusaha Wanita Paling Sukses di Inggris Soroti Kesenjangan Upah
A A A
LONDON - Kelompok 100 pengusaha wanita paling sukses di Inggris telah meluncurkan kampanye untuk menghentikan kesenjangan upah berdasarkan gender. Beberapa nama perusahaan terbesar Inggris berada di balik gerakan tersebut dengan tagar #MeTooPay, termasuk Dame Minouche Shafik yang berpeluang menjadi Gubernur Bank of England (BoE) dan Bos GSK Emma Walmsley.

Kampanye ini dipicu menyusul mencuatnya kasus bias gender yang melibatkan bank BNP Paribas. Gerakan kesetaraan upah bagi semua gender juga dipelopori oleh mantan kepala Royal Mail yakni Dame Moya Greene.

"Diskriminasi upah lebih luas daripada yang kita duga, meskipun kami telah memiliki undang-undang tentang ini selama 40 tahun. Kami ingin menjaga masalah ini tetap menjadi perhatian," katanya kepada BBC.

"Sebagian besar perusahaan memiliki kebijakan yang sangat baik, tetapi dalam banyak kasus mereka (wanita) tidak diberlakukan dengan benar (dalam hal upah). Ditambah juga tidak selalu mengarah pada hasil yang baik," sambung usai #MeTooPay telah meluncurkan situs web dan kampanye media sosial untuk menjaga kesenjangan pembayaran gender tetap menjadi sorotan.

Bias Gender


Pengalaman karyawan bank BNP Paribas Stacey Macken yang bekerja di divisi broker utama perusahaan telah mengejutkan para kelompok pengusaha wanita. Pengadilan ketenagakerjaan mengungkapkan gaji pokok Macken tercatat 25% lebih rendah dari rekan kerjanya dengan gender pria, bahkan pembayaran bonus tahun pertama kurang dari setengahnya.

Hal itu didapatkan Macken, meski mendapatkan nilai dari kinerja yang sama. Tiga tahun setelah bergabung, perbedaan antara bonus Macken dan bonus rekan kerja laki-lakinya telah melebar menjadi 85%. Kemudian Macken memenangkan klaim atas diskriminasi gender terhadap bank investasi tersebut.

"Ini adalah bagian dari serangkaian kasus diskriminatif tingkat tinggi yang telah kami saksikan selama 12 hingga 18 bulan terakhir. Diskriminasi upah pada dasarnya masalah manajemen, mereka memutuskan siapa yang akan dibayar berapa," kata Dame Moya, bos Royal Mail dari 2010 hingga 2018 yang saat ini menjadi direktur non-eksekutif di maskapai Easyjet.

Namun dia mengatakan, bahwa sebagian besar kasus diskriminasi tidak disengaja, tetapi apakah sama dalam kasus "bias gender".
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Menanti Gebrakan Ekonomi...
Menanti Gebrakan Ekonomi PM Inggris Rishi Sunak
Keuangan Inggris Terburuk...
Keuangan Inggris Terburuk Sejak 1945, Menkeu Baru Rachel Reeves Salahkan Pendahulunya
Ekonomi Inggris di Ambang...
Ekonomi Inggris di Ambang Kolaps, Krisis 1976 Bakal Terulang?
Inggris Masih Resesi,...
Inggris Masih Resesi, Ekonominya Minus 9,6 Persen pada Kuartal III
5 Fakta Resesi Ekonomi...
5 Fakta Resesi Ekonomi Inggris dan Apa Saja Dampaknya
Ekonomi Inggris Jatuh...
Ekonomi Inggris Jatuh ke Dalam Resesi pada Akhir 2023
Berita Terkini
Hari Anak Nasional,...
Hari Anak Nasional, Jasa Raharja Ajak Generasi Muda Jadi Pelopor Keselamatan
6 jam yang lalu
Gonjang-ganjing Sektor...
Gonjang-ganjing Sektor Energi, Singapura Rombak Kabinet Besar-besaran
7 jam yang lalu
Di Balik Penghargaan...
Di Balik Penghargaan CCEPC Indonesia, Gao Hai Komitmen Bangun Kemitraan Jangka Panjang
7 jam yang lalu
Pertamina Trans Kontinental...
Pertamina Trans Kontinental Ajak Siswa Lestarikan Ekosistem Laut
7 jam yang lalu
PLN EPI Tawarkan Kontrak...
PLN EPI Tawarkan Kontrak hingga 5 Tahun untuk Pemasok Biomassa
8 jam yang lalu
Ancaman Blokade Laut...
Ancaman Blokade Laut Merah, Asia Nego Arab Saudi Alihkan Rute Tanker Minyak ke Afrika
8 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved