Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Dipangkas, Ini Kata Kemenkeu

Jum'at, 11 Oktober 2019 - 15:25 WIB
Proyeksi Pertumbuhan...
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Dipangkas, Ini Kata Kemenkeu
A A A
TANGERANG - Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 menjadi 5%. Angka ini lebih rendah dari laporan kuartalan Bank Dunia bulan Juni lalu, dimana lembaga internasional tersebut meramal ekonomi Indonesia tumbuh 5,1% tahun ini dan kemudian akan naik menjadi 5,2% pada tahun 2020.

Menanggapi perkembangan itu, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) masih yakin bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa di atas 5% tahun ini, di tengah ketidakpastian global yang semakin tak menentu. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Suahasil Nazara mengatakan, perekonomian Indonesia diperkirakan tumbuh 5,08% hingga akhir tahun.

"Perkiraan kita juga 5,08%, ya sama dengan pertimbangan kita yang lain seperti melihat kondisi ekonomi dunia, kalau sedang turun, ekspor kita juga turun. Perdagangan turun, pendapatan di luar negeri juga tidak naik secepat yang dibayangkan," ujar suahasil di Tangerang, Jumat (11/10/2019).

Dia mengatakan dampak ketidakpastian ekonomi global membuat kinerja perdagangan Indoensia tertekan. Namun, dia meyakini pemerintah bisa memperbaiki sektor perdagangan agar tidak mengalami defisit.

"Kalau ekspor turun, menjalar ke yang lain lain, ke manufaktur kita. Terus perang dagang dan seterusnya punya impak ke kita. Dari beberapa bulan lalu kita sudah memperkirakan pertumbuhan ekonomi indonesia sepanjang 2019 di 5,08%," jelasnya.

Sebagai informasi, dalam laporan berjudul Weathering Growing Risk, laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2019, yang baru dirilis Bank Dunia disebutkan bahwa risiko penurunan prospek pertumbuhan telah meningkat di tengah ketidakpastian global yang masih terus berlanjut.

Perang dagang dan ketidakpastian kebijakan perdagangan global menimbulkan risiko bagi perdagangan dunia dan prospek pertumbuhan ekonomi China. Perselisihan dagang yang terus berlanjut ini, kata Bank Dunia, dapat membebani pertumbuhan regional dan harga komoditas.

Hal tersebut juga berimbas pada penerimaan ekspor Indonesia yang lebih rendah sehingga pada akhirnya mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan saldo transaksi berjalan. Di sisi lain, Bank Dunia memandang konsumsi swasta di Indonesia akan tetap kuat karena inflasi masih rendah dan pasar tenaga kerja kuat.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Catat Nih! Beda Hitungan...
Catat Nih! Beda Hitungan Pertumbuhan Ekonomi Bank Dunia dengan Pemerintah
Proyeksi Pertumbuhan...
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Kembali Dipangkas
Bank Dunia Proyeksi...
Bank Dunia Proyeksi Ekonomi 2020 Minus
4 Direktur Bank Dunia...
4 Direktur Bank Dunia dari Indonesia, Nomor 3 Pegawai Kementerian Keuangan
Integrasi Keuangan ASEAN...
Integrasi Keuangan ASEAN Sepakat Dukung Pertumbuhan Ekonomi
Net Zero School Dukung...
Net Zero School Dukung Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan di Indonesia
Berita Terkini
S&P Tahan RI Masih Investment...
S&P Tahan RI Masih Investment Grade, Fuad Bawazier Prediksi Ekonomi Bangkit 6 Bulan Lagi!
7 jam yang lalu
Transaksi Serba Digital,...
Transaksi Serba Digital, Pembelian Token Listrik Semakin Praktis
8 jam yang lalu
BI Injeksi Likuiditas...
BI Injeksi Likuiditas Rp837,11 Triliun, Tekanan di Pasar Uang Mulai Reda
8 jam yang lalu
Mantan Menkeu Ungkap...
Mantan Menkeu Ungkap 3 Gol Besar Sistem Ekspor Satu Pintu yang Dipuji S&P
9 jam yang lalu
MAMI Kelola Aset Rp125...
MAMI Kelola Aset Rp125 Triliun hingga Juni 2026, Catat Lebih 2,6 Juta Investor
9 jam yang lalu
Elnusa Petrofin Pastikan...
Elnusa Petrofin Pastikan Distribusi BBM di Sumatra Utara Kembali Normal
9 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Jalan...
10 Negara dengan Jalan Terbaik di Dunia, Juaranya Tetangga Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved