Harga Minyak Melambung 1,6% Setelah Membaca Laporan OPEC

Rabu, 23 Oktober 2019 - 11:55 WIB
Harga Minyak Melambung...
Harga Minyak Melambung 1,6% Setelah Membaca Laporan OPEC
A A A
NEW YORK - Harga minyak mentah melambung tinggi menyusul laporan OPEC yang akan mempertimbangkan untuk mengurangi produksi lebih dalam dalam rencana pertemuan pada Desember mendatang.

Mengutip dari Reuters, Rabu (23/10/2019), sumber yang dekat dengan OPEC mengatakan rencana pemotongan lebih besar ini dilakukan demi menaikkan harga karena belakangan ini terus melemah.

Selain itu, OPEC menilai pembicaraan dagang Amerika Serikat dengan China teris mengalami kemajuan. Sehingga hal ini dapat memupus kekhawatiran perlambatan ekonomi global. Pemangkasan produksi lebih lanjut juga untuk mengantisipasi kelebihan pasokan, dimana AS terus meningkatkan produksi minyaknya.

Pembacaan laporan Organisasi Negara-negara Produsen Minyak (OPEC) tadi membuat harga minyak mencuat. Harga Brent ditutup lebih tinggi 1% menjadi USD59,59 per barel. Sedangkan, harga minyak mentah AS, West Texas Intermediate melambung 1,6% menjadi USD54,16 per barel.

Pada Juli lalu, OPEC dan Rusia serta anggota non OPEC sepakat memperpanjang pengurangan produksi 1,2 juta barel per hari selama sembilan bulan. Arab Saudi telah membuat pengurangan terbesar.

Namun, faktor geopolitik membuat pengurangan ini tidak berjalan mulus. Perang dagang AS dan China telah berdampak pada pertumbuhan permintaan minyak.

Analis pasar komoditas Lukman Otunuga dari FXTM, mengatakan suasana pasar keuangan dan pasar minyak tetap terpengaruh dari faktor perdagangan. Pembicaraan atau konflik dagang AS-China selalu mempengaruhi.

Dana Moneter Internasional (IMF) pun pada pekan lalu, memperkirakan dampak perang dagang AS-China telah memperlambat ekonomi dunia tahun 2019 menajdi 3,0%, terlemah dalam satu dekade. Pertumbuhan ekonomi yang melambat berarti berkurangnya permintaan komoditas seperti minyak.

Harga minyak semakin tertekan akibat terus meningkatnya pasokan minyak mentah AS. Persediaan minyak mentah AS telah meningkat enam minggu berturut-turut, hingga 18 Oktober.

Analis dari ING Bank, Warren Patterson, mengatakan persediaan minyak mentah AS telah meningkat sekitar 3 juta barel selama seminggu lalu. "Kondisi ekonomi global dan peningkatan pasokan secara bersamaan semakin menyulitkan harga untuk naik berkelanjutan," ungkapnya.

Untuk menyiasatinya, OPEC bersama Rusia dan produsen minyak lainnya, yang dikenal sebagai aliansi OPEC+ akan memperpanjang pemotongan produksi 1,2 juta barel per hari (bph) hingga Maret 2020. Mereka akan bertemu pada 5-6 Desember di Markas Besar OPEC di Wina, Austria.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Harga Minyak Hari Ini...
Harga Minyak Hari Ini Naik Tipis, Janji OPEC+ Jadi Katalis
Harga Minyak Menghangat,...
Harga Minyak Menghangat, Merespons Proyeksi Permintaan OPEC
Harga Minyak Mentah...
Harga Minyak Mentah Dunia Melompat ke Level Tertinggi
Usai Melonjak, Harga...
Usai Melonjak, Harga Minyak Hari Ini Ambles di Bawah USD100 per Barel
Harga Minyak Perpanjang...
Harga Minyak Perpanjang Kenaikan Empat Hari Beruntun
Harga Minyak Turun Karena...
Harga Minyak Turun Karena Stok Minyak AS Meningkat
Berita Terkini
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Mager di Rp2,73 Juta per Gram, Berikut Rinciannya
17 menit yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Perkuat Ketahanan Pangan Melalui Program CID
1 jam yang lalu
BUMN Mulai Pangkas Anak...
BUMN Mulai Pangkas Anak Usaha, dari Pupuk Indonesia sampai PLN
1 jam yang lalu
WYCE Targetkan Penjualan...
WYCE Targetkan Penjualan 100.000 Boks pada Tahun Pertama
1 jam yang lalu
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
2 jam yang lalu
DPR Solid Tolak Aturan...
DPR Solid Tolak Aturan Kemasan Polos Produk Tembakau dari Kemenkes
3 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved