Penurunan Suku Bunga Belum Beri Stimulus ke Pertumbuhan

Kamis, 24 Oktober 2019 - 23:02 WIB
Penurunan Suku Bunga...
Penurunan Suku Bunga Belum Beri Stimulus ke Pertumbuhan
A A A
JAKARTA - Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, menuturkan penurunan suku bunga acuan penting, tapi disaat kondisi likuiditas bank mengetat maka transmisinya akan sangat lambat.

Loan to Deposito Ratio (LDR bank secara rata-rata mencapai 94,6%, yang artinya bank mati-matian harus berebut dana murah. Jika bank terlalu cepat mengikuti penurunan suku bunga BI, khawatir dana akan pindah ke bank yang mempertahankan bunga tinggi.

"Kondisi ini ditambah struktur perbankan yang tidak sehat. Persaingan antar 115 bank dinilai membuat bank-bank kecil paling menderita ditengah perang likuiditas," ujar Bhima saat dihubungi, Kamis (24/10/2019).

Merger dan akuisisi berjalan sangat lambat. Idealnya OJK juga harus mendorong konsolidasi perbankan agar transmisi penurunan bunga acuan lebih cepat. Jadi masalah yang harus dipecahkan adalah pelonggaran likuiditas.

"Bank Indonesia bisa turunkan lagi giro wajib minimumnya (GWM) atau melakukan operasi moneter lain," cetus dia.

Untuk bank yang likuiditasnya ketat, pilihan menawarkan obligasi bisa menjadi alternatif pendanaan. Namun, ditengah risiko pasar yang naik, tidak semua bank bisa terbitkan obligasi dan laku.

Bank kecil misalnya, cenderung konservatif. Mau terbitkan obligasi khawatir bunganya juga mahal, dan segmentasi pembelinya terbatas. Jadi tidak semua bank bisa dengan cara terbitkan obligasi. Buat bank BUKU 3 dan 4 relatif mudah.

Sinyal bank yang berlomba mencari pendanaan alternatif jelas menunjukkan DPK sedang melambat. Beberapa bank khawatir repatriasi dana tax amnesty kembali keluar dari bank paska kontrak wajib pajak dengan pemerintah berakhir.

Menurut Bhima, ini juga perlu diantisipasi pemerintah agar likuiditas bank tetap aman.

"Artinya penurunan bunga acuan kali ini efektivitasnya relatif kecil bagi stimulus pertumbuhan kredit maupun pertumbuhan ekonomi," tandas Bhima.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Jaga Nilai Tukar Rupiah...
Jaga Nilai Tukar Rupiah Stabil, BI Repo Rate Bakal Ditahan
Ekonom: BI Berpeluang...
Ekonom: BI Berpeluang Lanjutkan Pemangkasan BI Rate hingga 5,50% Akhir 2024
BI Kembali Tahan Suku...
BI Kembali Tahan Suku Bunga Acuan November di Level 4,75%
BI Kembali Pertahankan...
BI Kembali Pertahankan Suku Bunga Acuan Maret 2026 di Level 4,75 Persen
BI Rate Dipangkas Jadi...
BI Rate Dipangkas Jadi 6%, Ekonom: Jamu Manis Jelang Transisi Pemerintahan
Membaca Peluang Tipis...
Membaca Peluang Tipis Penurunan Suku Bunga Acuan BI Jelang Tutup Tahun 2025
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
29 menit yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
1 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
1 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
1 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
2 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
2 jam yang lalu
Infografis
Mampukah John Herdman...
Mampukah John Herdman Bawa Timnas Indonesia ke Panggung Dunia?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved