Investasi Asing di Bandara Perkuat Jaringan Bisnis Penerbangan

loading...
Investasi Asing di Bandara Perkuat Jaringan Bisnis Penerbangan
Investasi Asing di Bandara Perkuat Jaringan Bisnis Penerbangan
JAKARTA - Pemerintah kini gencar menawarkan pengelolaan bandara tidak hanya kepada BUMN namun juga asing. Langkah tersebut diharapkan tidak hanya menciptakan kompetisi dalam pengelolaan bandara di dalam negeri namun juga akan memperkuat jaringan bisnis dan investasi maskapai asing.

Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association atau Asosiasi Perusahaan penerbangan (Inaca) Denon Prawira Atmaja menyatakan mendukung langkah pemerintah membuka seluas-luasnya kepada BUMN maupun swasta asing berinvestasi dalam pengembangan dan pengelolaan bandara di dalam negeri.

Dia mengharapkan, keterbukaan tersebut akan dibarengi dengan penambahan rute-rute baru penerbangan, termasuk jaringan penerbangan asing dari dan menuju Indonesia.

“Kita akan selalu mendukung langkah pemerintah terkait investasi dan pengelolaan bandara kepada swasta asing maupun BUMN, yang jelas langkah ini bisa memperkuat jaringan bisnis penerbangan kita. Saya kira pemerintah sudah memikirkan ini dengan matang,” ungkapnya kepada SINDO di Jakarta, Selasa (14/1/2019).



Sebagai informasi, pemerintah telah membuka masuknya investasi asing pada pengelolaan bandara di dalam negeri. Sebelumnya pengelolaan bandara di dalam negeri dilakukan oleh PT Angkasa Pura I dan PT Angkasa Pura II serta pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal perhubungan Udara melalui Unit Pelaksana Bandar Udara.

Salah satunya yang sudah terwujud adalah penetapan Konsorsium Cardig Aero Service (CAS) yang menjadi pemenang lelang Proyek Pengembangan Bandara Komodo di Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan usaha (KPBU). Konsorsium CAS beranggotakan PT. Cardig Aero Service (CAS), Changi Airports International Pte Ltd. (CAI) dan Changi Airports MENA Pte Ltd.

Adapun ruang lingkup kerja sama yang dilakukan meliputi merancang, membangun, dan membiayai pembangunan fasilitas sisi darat, udara, dan pendukung. Selain itu, mengoperasikan bandara Komodo selama masa kerja sama selama 25 tahun, dan memelihara seluruh infrastruktur dan fasilitas bandara Komodo selama masa kerja sama.



Pada saat masa kerja sama berakhir, Badan Usaha wajib Menyerahkan seluruh infrastruktur dan fasilitas bandara Komodo kepada Penanggung Jawab Proyek Kerjasama (PJPK) dalam hal ini Dirjen Perhubungan Udara. Nilai investasi pengelolaan Bandara Komodo mencapai Rp1,2 triliun.
halaman ke-1 dari 2
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top