Oxfam Sebut Ketimpangan Kesejahteraan Global Makin Serius

Rabu, 22 Januari 2020 - 07:37 WIB
Oxfam Sebut Ketimpangan...
Oxfam Sebut Ketimpangan Kesejahteraan Global Makin Serius
A A A
DAVOS - Ketimpangan kekayaan antara miliarder dan masyarakat umum di dunia sangat besar. Berdasarkan hasil penelitian konfederasi 19 badan amal independen Oxfam, sebanyak 2.153 miliarder memiliki kekayaan yang sama dengan 4,6 miliar orang miskin. Konsentrasi kekayaan ini dinilai perlu dipecah.

Oxfam juga menyatakan ketidaksetaraan global kini berada di luar kendali karena adanya sistem ekonomi bias yang membuka peluang bagi miliarder mengeruk keuntungan sebesar-besarnya tanpa aksi sosial memadai. Mereka mendesak pemerintah untuk mengimplementasikan kebijakan pro-rakyat miskin.

Oxfam menilai upaya para pemimpin dunia dalam mempersempit jurang kekayaan masih kurang maksimal. Selain itu, tahun ini konfederasi 19 badan amal yang berkantor pusat di Nairobi itu fokus menyoroti ketidaksetaraan ekonomi akibat ketidaksetaraan gender sehingga laki-laki masih lebih dominan.

“Padahal perempuan juga memberikan peran sangat penting dalam mendukung ekonomi dunia. Mereka tidak dibayar sepeser pun. Negara setidaknya memberikan pelayanan yang memadai melalui sektor publik kepada perempuan,” ungkap Oxfam menjelang Forum Ekonomi Dunia di Swissdilansir CNN. Oxfam merekomendasikan pemerintah untuk membangun sistem perawatan nasional, menyediakan layanan umum dan gratis, serta menaikkan pajak orang kaya. Beberapa orang menilai orang superkaya merupakan produk sistem kapitalis. Menurut Oxfam, sistem kapitalis terbukti gagal menyejahterakan dunia.

Setahun sebelumnya, Oxfam mengungkapkan kekayaan 26 orang terkaya yang mencapai USD1,4 triliun setara dengan kekayaan 3,8 miliar orang miskin. Mayoritas miliarder itu berasal dari Amerika Serikat (AS). Jeff Bezos, Bill Gates, Warren Buffett, dan Mark Zuckerberg memiliki kekayaan gabungan USD357 miliar.

Jumlah miliarder juga terus bertambah. Sejak krisis keuangan global pada satu dekade lalu, jumlahnya naik dua kali lipat. Tahun lalu angkanya mencapai 2.208 orang. Selain itu, kekayaan mereka tumbuh sekitar 12% atau USD2,5 miliar per hari pada tahun 2018, sedangkan kekayaan 3,8 miliar orang termiskin anjlok 11%.

“Ekonomi kita rusak. Ratusan juta orang hidup di tengah kemiskinan, sedangkan harta kekayaan hanya dikuasai segelintir orang di tingkat atas,” ungkap Oxfam dalam laporannya dioxfam.org.

“Biaya kemanusiaan, mulai dari anak tanpa guru, klinik tanpa obat, tak tertutupi. Layanan jasa pun menjadi timpang,” ujarnya. Anggota Parlemen Partai Demokrat, Alexandria Ocasio-Cortez, mengajukan pajak lebih tinggi bagi orang kaya, yakni 70%. Dananya bisa digunakan untuk mengentaskan kemiskinan. Senada dengan Alexandria, Senator Vermont, Bernie Sander, juga mendesak diadakannya pemerataan layanan asuransi kesehatan.

Menurut Oxfam, pendidikan dan kesehatan merupakan barang mewah yang hanya bisa dijangkau oleh orang kaya. Setiap hari 10 ribu orang tewas akibat buruknya layanan kesehatan. Dampak ini dirasakan lebih buruk oleh kaum perempuan. “Perempuan biasanya akan diputus sekolah lebih dulu,” ungkap Oxfam.

Oxfam menyatakan miliarder baru bermunculan di setiap dua hari pada masa Maret 2016-Maret 2017. Ledakan jumlah miliarder bukanlah tanda pertumbuhan ekonomi, melainkan tanda kegagalan. Peneliti Oxfam, Inigo Macias Aymar, mengaku cemas karena harta kekayaan terkonsentrasi di tangan segelintir orang.

AS merupakan negara dengan penduduk super kaya atau ultra high networth (UNHW) terbanyak di dunia. Jumlah penduduk UNHW di Negeri Paman Sam mencapai 81.340 orang atau sekitar 31% dari total penduduk UNHW dunia. Angka itu lebih tinggi dibandingkan kombinasi miliarder di lima negara maju.

Seperti dilansir Wealth X dalam laporan “World Ultra Wealth Report” yang dirilis pada 25 Oktober silam, UNHW adalah orang-orang yang memiliki kekayaan sedikitnya USD30 juta (Rp426,28 miliar). UNHW merupakan segmen teratas dari kalangan penduduk kaya, yakni di atas VHNW (>USD5 juta) dan HNW (>USD1 juta).

Secara keseluruhan, populasi UNHW terus tumbuh secara signifikan, kendati terjadi ketegangan di pasar internasional akibat perang dagang antara AS-China dan anjloknya harga saham di dunia. Jumlah UNHW di dunia naik sekitar 0,8% dalam 12 bulan terakhir. (Muh Shamil)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pentingnya Investasi...
Pentingnya Investasi di Tengah Gejolak Ekonomi Global
Tingkat Optimisme Melonjak,...
Tingkat Optimisme Melonjak, Indonesia Siap Dorong Pertumbuhan Ekonomi Global
Akui 2022 Sangat Brutal,...
Akui 2022 Sangat Brutal, Sri Mulyani Ramal Pelemahan Akan Dirasakan Tahun Ini
BRI Pede Gejolak Ekonomi...
BRI Pede Gejolak Ekonomi Global Tak Berdampak Signifikan ke Indonesia
RI Dikepung Gejolak...
RI Dikepung Gejolak Ekonomi Global, Hary Tanoesoedibjo: Pemerintah Cepat Tanggap
Erick Minta BUMN Bersiap...
Erick Minta BUMN Bersiap Hadapi Gejolak Ekonomi dan Geopolitik Global
Berita Terkini
Bahlil Ungkap Penyebab...
Bahlil Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik di Sejumlah Daerah, Janji Pulih Cepat
2 jam yang lalu
Indodax Diapresiasi...
Indodax Diapresiasi Atas Edukasi dan Pengembangan Pasar Aset Kripto
2 jam yang lalu
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Rp16.250, Bahlil: Sudah Diperhitungkan Secara Bijak
3 jam yang lalu
Lewat Program Pondasi,...
Lewat Program Pondasi, Brahma Binabakti Renovasi Rumah Tak Layak di Muaro Jambi
3 jam yang lalu
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Bos Pertamina: Telah Mempertimbangkan Daya Beli Masyarakat
3 jam yang lalu
Janji Manis Ledakan...
Janji Manis Ledakan Ekonomi Piala Dunia 2026, Awas! Tensi Geopolitik Bisa Bikin Zonk
4 jam yang lalu
Infografis
8 Kebijakan Baru Pemerintah...
8 Kebijakan Baru Pemerintah Hadapi Tekanan Global! WFH hingga MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved