Target 7 Tahun Rampung, Batan: Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Cocok di Kalbar

Rabu, 29 Januari 2020 - 00:15 WIB
Target 7 Tahun Rampung,...
Target 7 Tahun Rampung, Batan: Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Cocok di Kalbar
A A A
BANDUNG - Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) berencana membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama di Indonesia. Pembangkit itu nantinya diproyeksikan mampu menghasilkan listrik 100 Megawatt.

Kepala Batan Anhar Riza Antariksawan mengatakan, rencana pembangunan PLTN telah memasuki tahap pra pembangunan, yaitu studi kelayakan. Proses ini akan menelaah lebih jauh tentang rencana pembangunan PLTN ini.

"Total ada 19 item studi kelayakan yang harus dipertimbangkan. Misalnya terkait lokasi, keekonomiannya, pendanaan, pembangunan, dan lainnya. Prosesnya sekarang sedang dilakukan," kata dia di Bandung, Selasa (28/1).

Namun begitu, kata dia, proses studi kelayakan diperkirakan memakan waktu dua hingga tiga tahun. Setelah selesai, akan diajukan ke pemerintah untuk menentukan apakah proyek tersebut akan dilanjutkan atau tidak.

Dia memperkirakan, pembangunan PLTN akan memakan waktu hingga 7 hingga 10 tahun. Namun tergantung teknologi yang digunakan. Dia mencontohkan, Uni Emirat Arab mulai membangun 2018, dan tahun ini akan beroperasi.

Soal sumber daya manusia (SDM), kata dia, Batan memastikan akan bisa dipenuhi dari dalam negeri. Banyak sarjana teknik lulusan Indonesia yang memiliki kemampuan dalam teknologi nuklir, listrik, dan bidang keilmuan lainnya.

Menurut dia, untuk sementara pemilihan tempat ada di Kalimantan Barat. Hal itu setelah melakukan riset atas daerah yang sangat memungkinkan dibangun PLTN. Namun untuk titik tempat, masih dilakukan studi kelayakan lanjutan.

"Secara geografis, Kalimantan Barat relatif stabil dari gempa. Nyaris terpantau tidak ada gempa besar selama beberapa periode. Itu juga kenapa ibu kota juga pilih di sana. Pasti nanti kebutuhan listrik akan meningkat juga," beber dia.

Selain itu, kata dia, kebutuhan energi listrik di Kalimantan juga tinggi. Hal itu melihat industrialisasi yang diperkirakan akan berkembang, sehingga dibutuhkan tenaga listrik tinggi. Sementara SDA di sana tidak memungkinkan membangun pembangkit listrik.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ukraina Serukan Warga...
Ukraina Serukan Warga Dekat PLTN PLTN Zaporizhzhia Mengungsi
Segudang Asa Pengembangan...
Segudang Asa Pengembangan Energi Nuklir di Indonesia
Uni Emirat Arab Kini...
Uni Emirat Arab Kini Memiliki PLTN Pertama di Timur Tengah
Pembangunan PLTN Masih...
Pembangunan PLTN Masih Tunggu Arahan Jokowi
Perkembangan PLTN Stagnan...
Perkembangan PLTN Stagnan dalam 10 Tahun Terakhir
Ukraina Tuding Rusia...
Ukraina Tuding Rusia Tahan Direktur PLTN Zaporizhzhia
Berita Terkini
Bandara Banda Neira...
Bandara Banda Neira Bakal Dibangun Ulang, Pesawat Kapasitas Besar Bisa Mendarat
54 menit yang lalu
Bank Sentral Global...
Bank Sentral Global Kompak Borong Emas, Hapus Ketergantungan Dolar AS
2 jam yang lalu
Modi Incar Harta Karun...
Modi Incar Harta Karun Terlarang Australia demi Terangi Negaranya
4 jam yang lalu
Sucofindo Catatkan Laba...
Sucofindo Catatkan Laba Bersih 100,7% dari Target RKAP 2025
4 jam yang lalu
Nasib Belang Gurita...
Nasib Belang Gurita Bisnis Arab di Tengah Perang: Ada yang Boncos hingga Mendadak Kaya
5 jam yang lalu
Masa Transisi ke B50...
Masa Transisi ke B50 Berlangsung hingga September, Penyaluran Dilakukan Bertahap
7 jam yang lalu
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved