Perkembangan PLTN Stagnan dalam 10 Tahun Terakhir
Rabu, 22 September 2021 - 19:10 WIB
loading...
Investasi pada PLTN dianggap bisa gagalkan target perubahan iklim. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Percepatan dekarbonisasi mendalam di sektor energi penting dilakukan untuk mencapai netral karbon tahun 2060 atau lebih cepat. Berbagai pilihan teknologi rendah karbon dapat menjadi opsi dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK).
Pilihan teknologi itu di antaranya energi terbarukan, carbon capture and storage (CCS) atau carbon capture, utilization, and storage (CCUS), dan pembangkit listrik tenaga nuklir ( PLTN ). Setiap teknologi itu memiliki karakter dan tingkat risiko yang berbeda sehingga pemerintah diminta mempertimbangkan secara matang atas pilihannya.
Baca juga: Terungkap! Ini Potensi Bahan Baku Nuklir yang Dimiliki Indonesia
Mycle Schneider, analis independen kebijakan dan energi nuklir, menyoroti penggunaan teknologi PLTN untuk menetralkan karbon. Menurutnya, perkembangan PLTN di dunia stagnan dalam 10 tahun terakhir, berbanding jauh dengan energi terbarukan yang justru meningkat pesat.
Dia mencontohkan bahwa di Prancis, bauran listrik dari nuklir mencapai rekor terendahnya pada tahun 2020 selama 30 tahun terakhir. Adanya opsi pembangkitan energi baru terbarukan (EBT) yang lebih murah menjadi penyebabnya.
"Berinvestasi pada PLTN bahkan dapat menggagalkan tercapainya target perubahan iklim karena seharusnya pendanaan yang ada dialokasikan kepada opsi teknologi yang sudah tersedia, murah, dan dapat diimplementasikan dengan cepat," ujarnya dalam Indonesia Energy Transition Dialogue (IETD) 2021, Rabu (22/9/2021).
Senada, konsultan independen transisi energi, Craig Morris, mengatakan bahwa sulit untuk memprediksi harga listrik dari PLTN mengingat pembangkit ini tidak terlalu merespons harga pasar.
Pilihan teknologi itu di antaranya energi terbarukan, carbon capture and storage (CCS) atau carbon capture, utilization, and storage (CCUS), dan pembangkit listrik tenaga nuklir ( PLTN ). Setiap teknologi itu memiliki karakter dan tingkat risiko yang berbeda sehingga pemerintah diminta mempertimbangkan secara matang atas pilihannya.
Baca juga: Terungkap! Ini Potensi Bahan Baku Nuklir yang Dimiliki Indonesia
Mycle Schneider, analis independen kebijakan dan energi nuklir, menyoroti penggunaan teknologi PLTN untuk menetralkan karbon. Menurutnya, perkembangan PLTN di dunia stagnan dalam 10 tahun terakhir, berbanding jauh dengan energi terbarukan yang justru meningkat pesat.
Dia mencontohkan bahwa di Prancis, bauran listrik dari nuklir mencapai rekor terendahnya pada tahun 2020 selama 30 tahun terakhir. Adanya opsi pembangkitan energi baru terbarukan (EBT) yang lebih murah menjadi penyebabnya.
"Berinvestasi pada PLTN bahkan dapat menggagalkan tercapainya target perubahan iklim karena seharusnya pendanaan yang ada dialokasikan kepada opsi teknologi yang sudah tersedia, murah, dan dapat diimplementasikan dengan cepat," ujarnya dalam Indonesia Energy Transition Dialogue (IETD) 2021, Rabu (22/9/2021).
Senada, konsultan independen transisi energi, Craig Morris, mengatakan bahwa sulit untuk memprediksi harga listrik dari PLTN mengingat pembangkit ini tidak terlalu merespons harga pasar.
Lihat Juga :