alexametrics

Ekonomi Jepang Menyusut dengan Laju Tercepat Sejak 2014

loading...
Ekonomi Jepang Menyusut dengan Laju Tercepat Sejak 2014
Ekonomi Jepang Menyusut dengan Laju Tercepat Sejak 2014
A+ A-
SEOUL - Perekonomian Jepang menyusut dengan laju tercepat dalam lima tahun terakhir pada akhir 2019, usai terhantam kenaikan pajak penjualan, bencana topan hingga pelemahan permintaan global. Produk domestik bruto (PDB) jatuh lebih curam dari yang diperkirakan yakni 6,3% di akhir kuartal 2019 atau periode bulan Oktober-Desember.

Ditambah kekhawatiran atas wabah virus corona bakal menambah kemerosotan semakin dalam pada awal kuartal di 2020. Kondisi ini membangkitkan ketakutan bahwa ekonomi ketiga terbesar di dunia itu bisa jatuh ke dalam resesi.



Selama periode tersebut tercatat belanja konsumen turun 2,9% setelah pemerintah mengkerek pajak penjualan pada bulan Oktober menjadi 10% dari 8%. Pada bulan yang sama topan Hagibis menghantam sebagian besar negera berjuluk Matahari Terbit itu. Sementara pada kuartal terakhir, belanja modal turun sebesar 3,7% dan angka ekspor tergelincir 0,1% di tengah perang dagang AS-China yang berlangsung.

Dilansir BBC, perhatian investor tertuju apakah perekonomian mampu rebound setelah virus corona memaksa banyak perusahaan di China menutup pabrik dan menyebabkan penurunan besar terhadap kunjungan wisatawan asal China ke Jepang.

Sebagai tanggapan terhadap data hari ini, Menteri Ekonomi Yasutoshi Nishimura mengatakan pemerintah Jepang sudah siap untuk mengambil semua langkah yang diperlukan untuk menangani dampak dari wabah virus corona terhadap perekonomian dan pariwisata.

Sedangkan pada bulan Desember, Perdana Menteri (PM) Shinzo Abe menyetujui belanja pemerintah sebesar USD120 miliar yang ditujukan sebagai isentif dalam meredam dampak kenaikan pajak penjualan. Penyusutan PDB Jepang menjadi yang pertama lebih dari satu tahun terakhir, dimana kejatuhan terbesar sempat dialami pada 2014 yakni 7,4%.
(akr)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top