Dampak Wabah Corona, Ekonom: RI Bisa Alami Krisis Ekonomi
Selasa, 25 Februari 2020 - 19:01 WIB
Dampak Wabah Corona, Ekonom: RI Bisa Alami Krisis Ekonomi
A
A
A
JAKARTA - Jika pemerintah memprediksi ekonomi nasional bisa tergerus oleh dampak wabah virus corona, maka ekonom memiliki proyeksi yang lebih gawat lagi. Ekonom Indef Bhima Yudisthira menilai, tak hanya tergerus, ekonomi Indonesia bisa mengalami krisis akibat dampak wabah corona.
"Imbasnya cukup serius, bahkan bisa memicu krisis ekonomi," ujar Bhima saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Selasa (25/2/2020).
Sebelumnya, menteri-menteri ekonomi telah menyuarakan kekhawatirannya akan dampak wabah corona ke ekonomi. Mulai dari Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menkeu Sri Mulyani, hingga Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan angkat suara soal dampak wabah ini.
Airlangga misalnya, menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan terkoreksi sekitar 0,3% akibat wabah ini. "Kita melihat pertumbuhan ekonomi China terkoreksi bisa sampai 2%. Indonesia bisa 0,3%," katanya belum lama ini.
Sementara Luhut yang menyebutkan bahwa dampak virus corona di bidang pariwisata saja menimbulkan kerugian sebesar USD500 juta per bulan atau sekira Rp7 triliun (dengan asumsi kurs Rp14.000/USD).
Menurut Bhima, kerugian akan terus meningkat seiring belum adanya tanda-tanda puncak dari wabah corona. Dia khawatir masa pemulihan akibat penyebaran virus ini secara global akan lebih lama dibandingkan wabah SARS tahun 2003 lalu yang memakan waktu 9 bulan.
"Penyebaran virus corona sangat luas hingga ke Timur Tengah, seperti Iran. Efek yang timbul dari berkurangnya kunjungan wisman, terganggunya arus barang impor bahan baku dan melambatnya permintaan global bisa memukul pertumbuhan ekonomi Indonesia," jelasnya.
"Imbasnya cukup serius, bahkan bisa memicu krisis ekonomi," ujar Bhima saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Selasa (25/2/2020).
Sebelumnya, menteri-menteri ekonomi telah menyuarakan kekhawatirannya akan dampak wabah corona ke ekonomi. Mulai dari Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menkeu Sri Mulyani, hingga Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan angkat suara soal dampak wabah ini.
Airlangga misalnya, menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan terkoreksi sekitar 0,3% akibat wabah ini. "Kita melihat pertumbuhan ekonomi China terkoreksi bisa sampai 2%. Indonesia bisa 0,3%," katanya belum lama ini.
Sementara Luhut yang menyebutkan bahwa dampak virus corona di bidang pariwisata saja menimbulkan kerugian sebesar USD500 juta per bulan atau sekira Rp7 triliun (dengan asumsi kurs Rp14.000/USD).
Menurut Bhima, kerugian akan terus meningkat seiring belum adanya tanda-tanda puncak dari wabah corona. Dia khawatir masa pemulihan akibat penyebaran virus ini secara global akan lebih lama dibandingkan wabah SARS tahun 2003 lalu yang memakan waktu 9 bulan.
"Penyebaran virus corona sangat luas hingga ke Timur Tengah, seperti Iran. Efek yang timbul dari berkurangnya kunjungan wisman, terganggunya arus barang impor bahan baku dan melambatnya permintaan global bisa memukul pertumbuhan ekonomi Indonesia," jelasnya.
(fjo)
Lihat Juga :