alexametrics

Suku Bunga Acuan Dipangkas, Ekonom: Langkah BI Tepat dan Taktis

loading...
A+ A-
JAKARTA - Keputusan Bank Indonesia (BI) dalam memangkas suku bunga acuan alias BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis point menjadi 4,5% menghadirkan kepastian buat ekonomi Indonesia. Ekonom BNI Ryan Kiryanto menyebut, apa yang dilakukan BI sebagai langkah tepat, taktis dan stimulatif.

Apalagi, kepastian ini diperkuat dengan penurunan Deposit Facility dan Lending Facility @ 25 bps menjadi 3,75% dan 5,25% disertai dengan pelonggaran di area kebijakan makroprudensial serta pengelolaan sistem pembayaran (semuanya ada 7 pelonggaran insentif). Hal ini menurutnya menunjukkan bahwa BI betul-betul memberi perhatian amat kuat dan tajam terhadap perkembangan ekonomi global dan domestik di kuartal pertama tahun ini hingga akhir tahun ini.

"Langkah BI ini juga memberikan kepastian terkait obyektivitas gambaran perekonomian nasional di 2020 ini dan 2021 nanti," ujar Ryan saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Kamis (19/3/2020).



Dia melanjutkan efek penyebaran virus korona yang menjalar ke perekonomian melalui jalur perdagangan, investasi dan keuangan menjadi pusat perhatian bank sentral sehingga BI secara taktis kalkulatif dan obyektif realistis menyesuaikan pertumbuhan ekonomi, kredit dan DPK yang melandai.

"Ekonomi di tahun ini direvisi turun dari sebelumnya 5,0-5,4% menjadi hanya 4,2-4,6% memberikan signal outlook perekonomian domestik yang melemah karena efek penjalaran virus korona yang sulit diprediksi dengan pasti kapan berakhirnya," jelasnya.

Lalu, asumsi pertumbuhan kredit pun diturunkan dari 9-11% menjadi 6-8%. Asumsi pertumbuhan DPK juga dikoreksi turun dari sebelumnya 8-10% menjadi 6-8%.

Di tahun 2021 outlook pertumbuhan DPK dan kredit membaik seiring dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2021 sebesar 5,2-5,6% sejalan dengan proyeksi pemulihan ekonomi global menurut berbagai lembaga dunia (World Bank, IMF, OECD, ADB).

"Dengan demikian, langkah yang diambil BI sudah tepat sebagai respon sekaligus antisipasi perlambatan ekonomi domestik karena tekanan eksternal," ungkapnya.

Sambung dia menambahkan, pasar diharapkan bisa lebih tenang sehingga tekanan ke pasar keuangan, pasar modal dan sektor riil bisa berkurang atau mereda. "Investor portofolio dan investasi langsung diharapkan rebound sehingga IHSG di BEI dan Rupiah bisa kembali menguat karena kepercayaan pasar membaik," terang Ryan.

Lebih lanjut diungkapkan olehnya sektor perbankan juga akan terstimulasi untuk menyesuaikan suku bunga guna merangsang pelaku usaha untuk ekspansi. Tentu di sisi permintaan harus diperkuat melalui jalur kebijakan fiskal yang pro pertumbuhan atau countercyclical policy (percepat belanja Kementerian dan Lembaga, transfer dana ke daerah/desa, Bansos dan sejenisnya) untuk menggairahkan kegiatan investasi dan ekonomi atau bisnis.

"Dengan demikian, daya beli masyarakat terjaga, konsumsi rumah tangga tidak tergerus, belanja pemerintah membaik dibarengi dengan investasi langsung yang membaik juga. Akhirnya kita apresiasi langkah BI yang sudah tepat, taktis dan stimulatif," paparnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top