alexametrics

Dorong Likuiditas Perbankan, BI Pangkas Suku Bunga Acuan

loading...
A+ A-
JAKARTA - Bank Indonesia kembali menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 4,50%. Penurunan suku bunga acuan tersebut diharapkan akan meningkatkan likuiditas perbankan.

Selain menurunkan BI7DRR, BI juga menurunkan suku bunga deposit facility sebesar 25 bps menjadi 3,75%, dan suku bunga lending facility sebesar 25 bps menjadi 5,25%.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, premi risiko yang sangat tinggi di pasar keuangan global karena pelaku usaha global mengalami ketidakpastian menjadi pertimbangan BI untuk menurunkan bunga acuannya. “Kebijakan BI tidak hanya dalam suku bunga, ada instrumen lain. Kami bersama pemerintah terus bekerja dengan kecukupan likuiditas dan menjaga konfiden pasar dengan terus melakukan pemantauan,” ujar Perry di Jakarta kemarin.



Kebijakan moneter tetap akomodatif dan konsisten dengan perkiraan inflasi yang terkendali dalam kisaran sasaran sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. BI juga kembali memperkuat bauran kebijakan yang diarahkan untuk mendukung upaya mitigasi risiko penyebaran Covid-19, menjaga stabilitas pasar uang dan sistem keuangan.

Berbagai langkah kebijakan BI tersebut ditempuh dalam koordinasi yang sangat erat dengan Pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam memitigasi dampak Covid-19 sehingga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan tetap terjaga, serta momentum pertumbuhan ekonomi dapat dipertahankan. Pemerintah telah menempuh sejumlah stimulus fiskal dan stimulus ekonomi untuk meringankan beban masyarakat dan perusahaan dari dampak Covid-19 serta menjaga tetap kondusifnya berbagai aktivitas perekonomian.

OJK juga telah menempuh langkah-langkah untuk menjaga kesehatan perbankan dan lembaga keuangan non-bank, serta bekerjanya pasar modal. BI akan terus memperkuat koordinasi dengan memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap Indonesia dari waktu ke waktu.

“Investor global sedang menghadapi tekanan yang sangat tinggi, di mana Dow Jones anjlok dan premi risiko naik sangat tinggi. Maka dari itu, kami akan memastikan pasar dan likuiditas terjaga baik di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), ataupun pembelian surat berharga negara (SBN) dari pasar sekunder,” jelas dia.

Perry mengatakan, tahun ini BI sudah membeli SBN yang dilepas asing sebesar Rp195 triliun guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. “Dengan beli SBN sebesar Rp195 triliun maka akan menambah likuiditas di perbankan. Kami juga melakukan repo dengan agunan SBN sebesar Rp53 triliun,” ujar Perry.

BI juga sudah menurunkan giro wajib minimum (GWM) sebesar Rp51 triliun dan akan menambah sekitar Rp23 triliun per 1 April 2020. Likuiditas valas juga sudah dikendurkan dengan penurunan GWM valas menjadi 4% atau USD3,2 miliar. “Itu langkah yang kami lakukan untuk menjaga mekanisme pasar dan rupiah,” tegas Perry. (Baca: Suku Bunga Acuan Dipangkas, Ekonom: Langkah BI Tepat dan Taktis)

Hingga Rabu (18/3), rupiah secara rerata melemah 5,18% dibandingkan dengan rerata level Februari 2020, dan secara point to point harian melemah sebesar 5,72%. Dengan perkembangan ini, rupiah dibandingkan dengan level akhir 2019 terdepresiasi sekitar 8,77%, seiring dengan pelemahan mata uang negara berkembang lainnya.
“Penyesuaian aliran masuk modal asing di pasar keuangan domestik pasca meluasnya Covid-19 menekan nilai tukar rupiah sejak pertengahan Februari 2020,” katanya.

Berkurangnya aliran masuk modal asing akibat meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global, telah memberikan tekanan kepada nilai tukar rupiah, yang melemah sejak pertengahan Februari 2020. “Maka dari itu, kami terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya dan bekerjanya mekanisme pasar,” ungkap Perry.

Adapun transmisi pelonggaran kebijakan moneter tetap berjalan baik dengan kecukupan likuiditas perbankan yang terjaga. Ke depan, BI akan terus memastikan kecukupan likuiditas dan meningkatkan efisiensi di pasar uang, serta memperkuat transmisi bauran kebijakan yang akomodatif.

Sementara itu, Head of Research Division BNI Sekuritas Damhuri Nasution mengatakan penurunan suku bunga acuan diharapkan akan meningkatkan likuiditas perbankan. Jadi, suku bunga pinjaman juga akan turun. Hal ini tentu penting bagi dunia usaha yang terpukul akibat wabah virus korona saat ini. Sementara itu, penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi memang tidak bisa dihindari dan ini menunjukkan bahwa pengambil keputusan kini lebih realistis," ujar Damhuri.

Pengamat dari Indef Bhima Yudhistira mengatakan, keputusan BI sudah sesuai ekspektasi dan anjuran para ekonom. Dampak penurunan disebutnya memang terbatas, tapi setidaknya dalam beberapa hari ke depan menjaga rupiah agar tidak melemah ke Rp17.000/USD.

Menurut dia, investor di pasar butuh sinyal ketegasan dalam mengantisipasi kebijakan moneter dalam merespons krisis korona. “Disarankan agar RDG berikutnya BI kembali melakukan pemangkasan lagi sebesar 25 bps,” ujar Bhima. (Kunthi Fahmar Sandy/Hafid Fuad)
(ysw)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top