Lebaran, Produsen Tekstil Domestik Justru Gigit Jari

Kamis, 08 September 2011 - 11:38 WIB
Lebaran, Produsen Tekstil...
Lebaran, Produsen Tekstil Domestik Justru Gigit Jari
A A A
JAKARTA - Lebaran memang baru saja usai. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia Lebaran identik dengan baju baru yang artinya menjadi berkah bagi para pedagang tekstil.

Bahkan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) memprediksikan omzet penjualan tekstil dan produk tekstil (TPT) secara nasional sekira Rp8 triliun di Lebaran tahun ini. Bukankah itu angka yang sangat menggiurkan?

"Nilai ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2010 mencapai Rp 7 triliun," ungkap Ketua Bidang Perdagangan Badan Pengurus Pusat Hipmi Harry Warganegara.

Namun, apakah semua angka menggiurkan tersebut dinikmati oleh para produsen tekstil nasional? Nyatanya, banyak produk fashion yang beredar di pasaran saat ini terutama fashion jelang Lebaran lebih didominasi produk impor terutama asal China.

Tak bisa disangkal lagi, sejak pemberlakuan Free Trade Agreement ASEAN-China membuat produk China makin membanjiri pasar nasional. Defisit perdagangan antara Indonesia dan China sebagaimana data dari BPS pada bulan Juli 2011 lalu, hanya tinggal USD294,3 miliar.

Untuk memenuhi permintaan yang cukup besar di hari Lebaran, pedagang memang telah melakukan antisipasi dengan memperbanyak jumlah stoknya sejak tiga bulan sebelumnya. Namun sayangnya, para pedagang ternyata sangat jarang menyetok produk tekstil dari produsen domestik. Pasalnya, dari segi ketersediaan barang dan harga, produk impor memang jauh lebih mudah diperoleh dan juga lebih terjangkau.

"Pengusaha tekstil domestik sama sekali tidak mendapat untung dari kenaikan permintaan tekstil, kalaupun iya, jumlahnya kecil karena kebanyakan pedagang mengimpor tekstil dari China dan Korea," ungkap Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat.

Parahnya, impor tekstil dari China dan Korea ini tidak pandang bulu dan terjadi di semua jenis komoditas tekstil. "Semuanya itu, mulai dari kain-kain yang siap dijahit sampai pakaian jadi seperti baju koko, baju muslim, jilbab, semuanya disapu bersih, tidak ada spesifikasi khusus," tandas Ade.(yuni astutik (okezone)/gina nur maftuhah (okezone)/sandra karina (koran SI))
(hyk)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Dasco Panggil Menkeu...
Dasco Panggil Menkeu dan Gubernur BI: Evaluasi Perkembangan Ekonomi
1 jam yang lalu
Lompatan Besar Transportasi...
Lompatan Besar Transportasi Publik Jakarta: Terbaik Kedua di ASEAN, Posisi ke-27 Dunia
4 jam yang lalu
IHSG Sepekan Ambruk...
IHSG Sepekan Ambruk 8,69%, Market Cap Menyusut Jadi Rp9.807 Triliun
4 jam yang lalu
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
14 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
15 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
15 jam yang lalu
Infografis
Diskon Tarif Tol Lebaran...
Diskon Tarif Tol Lebaran 2026 Sampai 30%, Cek Tanggal Berlakunya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved