IMF soroti langkah Eropa
Sabtu, 07 Juli 2012 - 11:58 WIB
IMF soroti langkah Eropa
A
A
A
Sindonews.com - Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memperingatkan bahwa perekonomian global kini sedang melambat dan berpotensi lebih buruk lagi di masa mendatang. Kondisi tersebut terjadi karena Eropa dinilai belum cukup melakukan tindakan untuk memperbaiki krisis utang di wilayah tersebut.
Menurut Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde, berdasarkan kondisi terkini, lembaga tersebut akan memangkas perkiraan outlook ekonomi global yang rencananya dirilis akhir bulan ini.
“Apa yang bisa saya katakan kepada Anda adalah bahwa adanya kemungkinan penurunan yang pasti lebih rendah dari perkiraan pertumbuhan uang yang disampaikan tiga bulan lalu,” ujar Lagarde dikutip AFP pada sebuah forum di Tokyo, Jepang, kemarin.
Pekan ini Lagarde berada di Tokyo dalam rangkaian tur ke negara-negara Asia. Selain ke Jepang,Lagarde juga dijadwalkan berkunjung ke Indonesia pada 8–10 Juli dan Thailand 11–12 Juli mendatang. Pada April lalu IMF menyatakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2012 diperkirakan mencapai 3,5% dan 4,1% pada 2013.
Angka tersebut naik dibanding proyeksi Januari lalu, saat pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya 3,3% pada 2012 dan 4% pada tahun berikutnya. Kendati menyoroti masalah Eropa, Lagarde tidak menjelaskan penilaian apa yang sudah dilakukan IMF setelah melakukan evaluasi kepada negara penerima bailout yakni Yunani.
Namun secara tersirat, dia menyayangkan kondisi terkini Eropa yang dianggap mengkhawatirkan. Pernyataan Lagarde merujuk pada kesepakatan pertemuan para pemimpin Eropa di Brussels pekan lalu dan langkah Bank Sentral Eropa yang menurunkan suku bunga ke posisi 0,75%, terendah sepanjang sejarah. Keputusan tersebut dinilainya sebagai kemajuan.
Menurut Lagarde, kebijakan stimulus dan bantuan darurat untuk Italia dan Spanyol akan menjadi langkah signifikan untuk memperbaiki Eropa. Tetapi, dalam perspektif IMF, masih banyak hal yang perlu dilakukan untuk melengkapi arsitektur baru ekonomi Eropa guna mendukung tenaga kerja, terbentuknya serikat fiskal dan serikat perbankan. “Ini adalah masalah implementasi ketekunan, ketelitian dan pelaksanaannya,” tambah Lagarde.
Melemahnya perekonomian di sejumlah negara ekonomi utama dunia sepanjang kuartal I/2012 memang telah mendorong perbankan sentral di masing-masing negara melakukan tindakan lebih agresif. Selain ECB yang memangkas suku bunga ke level terendah, diikuti penurunan suku bunga deposito dari 0,25% menjadi 0%, Bank Sentral Inggris (BoE) juga bereaksi dengan menambah dana stimulus sebesar 50 miliar pounds ke dalam ekonomi negaranya.
Sementara di Asia, Bank Sentral China (People’s Bank of China/PBOC) memangkas suku bunga utamanya dari 6,31% menjadi 6%. Pengurangan suku bunga deposito ECB dirancang guna menstimulus pinjaman antarbank, sebagaimana dana pinjaman overnight yang ditempatkan pada bank umum memiliki suku bunga sebesar 0,3%.
Penurunan biaya pinjaman tersebut diharapkan mendorong sektor manufaktur dan jasa yang pada Juni lalu menyusut seiring anjloknya kepercayaan bisnis.
Gubernur ECB Mario Draghi mengatakan, pertumbuhan ekonomi zona Euro pada kuartal II/2012 cenderung lamban bahkan tidak mengalami peningkatan.
Dia memastikan, keadaan tersebut harus pulih pada akhir tahun dengan catatan tidak terjadi inflasi. “Saat ini perekonomian zona euro menghadapi risiko dan akan tetap lemah dengan munculnya ketidakpastian yang membebani kepercayaan dan sentimen,” ujarnya, seperti dikutip BBC, Kamis (5/7).
Di Amerika Serikat (AS) pengumuman ECB yang memotong suku bunga ke rekor terendah mendorong indeks harga saham ditutup lebih rendah pada Kamis (5/7). Indeks Dow Jones Industrial Average berakhir turun 47,15 poin (0,36%), menjadi 12.896,67.
Menurut Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde, berdasarkan kondisi terkini, lembaga tersebut akan memangkas perkiraan outlook ekonomi global yang rencananya dirilis akhir bulan ini.
“Apa yang bisa saya katakan kepada Anda adalah bahwa adanya kemungkinan penurunan yang pasti lebih rendah dari perkiraan pertumbuhan uang yang disampaikan tiga bulan lalu,” ujar Lagarde dikutip AFP pada sebuah forum di Tokyo, Jepang, kemarin.
Pekan ini Lagarde berada di Tokyo dalam rangkaian tur ke negara-negara Asia. Selain ke Jepang,Lagarde juga dijadwalkan berkunjung ke Indonesia pada 8–10 Juli dan Thailand 11–12 Juli mendatang. Pada April lalu IMF menyatakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2012 diperkirakan mencapai 3,5% dan 4,1% pada 2013.
Angka tersebut naik dibanding proyeksi Januari lalu, saat pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya 3,3% pada 2012 dan 4% pada tahun berikutnya. Kendati menyoroti masalah Eropa, Lagarde tidak menjelaskan penilaian apa yang sudah dilakukan IMF setelah melakukan evaluasi kepada negara penerima bailout yakni Yunani.
Namun secara tersirat, dia menyayangkan kondisi terkini Eropa yang dianggap mengkhawatirkan. Pernyataan Lagarde merujuk pada kesepakatan pertemuan para pemimpin Eropa di Brussels pekan lalu dan langkah Bank Sentral Eropa yang menurunkan suku bunga ke posisi 0,75%, terendah sepanjang sejarah. Keputusan tersebut dinilainya sebagai kemajuan.
Menurut Lagarde, kebijakan stimulus dan bantuan darurat untuk Italia dan Spanyol akan menjadi langkah signifikan untuk memperbaiki Eropa. Tetapi, dalam perspektif IMF, masih banyak hal yang perlu dilakukan untuk melengkapi arsitektur baru ekonomi Eropa guna mendukung tenaga kerja, terbentuknya serikat fiskal dan serikat perbankan. “Ini adalah masalah implementasi ketekunan, ketelitian dan pelaksanaannya,” tambah Lagarde.
Melemahnya perekonomian di sejumlah negara ekonomi utama dunia sepanjang kuartal I/2012 memang telah mendorong perbankan sentral di masing-masing negara melakukan tindakan lebih agresif. Selain ECB yang memangkas suku bunga ke level terendah, diikuti penurunan suku bunga deposito dari 0,25% menjadi 0%, Bank Sentral Inggris (BoE) juga bereaksi dengan menambah dana stimulus sebesar 50 miliar pounds ke dalam ekonomi negaranya.
Sementara di Asia, Bank Sentral China (People’s Bank of China/PBOC) memangkas suku bunga utamanya dari 6,31% menjadi 6%. Pengurangan suku bunga deposito ECB dirancang guna menstimulus pinjaman antarbank, sebagaimana dana pinjaman overnight yang ditempatkan pada bank umum memiliki suku bunga sebesar 0,3%.
Penurunan biaya pinjaman tersebut diharapkan mendorong sektor manufaktur dan jasa yang pada Juni lalu menyusut seiring anjloknya kepercayaan bisnis.
Gubernur ECB Mario Draghi mengatakan, pertumbuhan ekonomi zona Euro pada kuartal II/2012 cenderung lamban bahkan tidak mengalami peningkatan.
Dia memastikan, keadaan tersebut harus pulih pada akhir tahun dengan catatan tidak terjadi inflasi. “Saat ini perekonomian zona euro menghadapi risiko dan akan tetap lemah dengan munculnya ketidakpastian yang membebani kepercayaan dan sentimen,” ujarnya, seperti dikutip BBC, Kamis (5/7).
Di Amerika Serikat (AS) pengumuman ECB yang memotong suku bunga ke rekor terendah mendorong indeks harga saham ditutup lebih rendah pada Kamis (5/7). Indeks Dow Jones Industrial Average berakhir turun 47,15 poin (0,36%), menjadi 12.896,67.
(gpr)
Lihat Juga :