IMF: Indonesia miliki perekonomian yang kuat
Selasa, 10 Juli 2012 - 15:19 WIB
IMF: Indonesia miliki perekonomian yang kuat
A
A
A
Sindonews.com - Managing Director IMF Christine Lagarde mengatakan, Indonesia memiliki perekonomian yang kuat, baik dalam inflasi ataupun fiskal defisit yang rendah dan terkendali.
"Utang swasta rendah, kurang dari 0,25 persen. Indonesia masuk dalam negara yang sukses," ujarnya di Kantor Kepresidenan, Jalan Medan Merdeka, Selasa (10/7/2012).
Selain itu, dia mengungkapkan Indonesia memiliki Foreign Direct Invesment (FDI) yang baik. "Tidak hanya capital inflow, tapi real FDI, karena nilainya yang meningkat," ungkapnya.
Menurutnya, FDI berasal dari proyek-proyek infrastruktur yang memacu transportasi, kereta dan pelabuhan untuk meningkatkan investasi. Meski demikian, melihat kondisi perekonomian global, eurozone, sovereign debt crisis dan ekonomi Amerika, telah memberikan efek negatif terhadap IMF dengan negara-negara di dunia. "Tidak ada perekonomian yang imun terhadap apa yang terjadi dengan perekonomian global," jelas dia.
Lagarde melanjutkan, bertemu dengan masyarakat sipil, wirausaha perempuan, dan klub pebisnis telah membawa dia mendapatkan pemahaman mendalam untuk memahami perekonomian Indonesia, dalam sudut pandang masyarakat Indonesia. "Kami juga dapat berdiskusi financial inclusion, termasuk untuk golongan kaum miskin," tukas dia.
Selain itu, dia juga memuji kebijakan pemerintah dalam menghapuskan subsidi, namun tetap melindungi masyarakat miskin. "Negara-negara banyak yang mendapat jawaban adalah contoh yang bagus, punya pekerjaan yang bagus membuat subsidi subtitusi, bukan subsidi removal. Sudah dilakukan sangat hati-hati, dengan banyak catatan Indonesia memiliki program subsidi subtitusi yang bagus," tukas dia.
Lagarde tidak memungkiri bahwa Indonesia telah menjadi negara yang perekonomiannya diakui oleh dunia internasional. Oleh karena itu, Indonesia harus memiliki suara dalam internasional institusi seperti IMF.
Lagarde menilai, Indonesia dapat berkontribusi pada IMF dengan cara membeli obligasi IMF. Menurut dia, hal ini merupakan komitmen yang telah dibuat antar pemimpin, dan sudah terjadi di antara negara-negara.
"Saya hanya ingin memberikan penjelasan dan mengingatkan, bahwa kontribusi ini adalah sukarelawan oleh setiap negara bukan gift, bukan grant, tapi reserve kontribusi negara," ungkap dia.
Menurutnya, kontribusi pada IMF ini dapat digunakan sebagai second line of define. Kontribusi ini tidak dialokasikan untuk negara khusus di dunia. "Tidak (hanya) untuk Eropa, tidak seperti itu. IMF punya anggota 188 negara," jelas dia.
Lebih jauh dia menambahkan, banyak negara yang mengalami krisis, baik yang low, middle, maupun emerging. Oleh karena itu, IMF berkomitmen untuk menjadi second line of defence. "Jadi reserve, kebijakan yang sama untuk semua negara. Kami juga meminta kepada ke semua negara," tambah dia.
Seperti diketahui, Indonesia tengah mempertimbangkan untuk memberikan pinjaman kepada IMF sebesar USD1 miliar. Pinjaman tersebut merupakan salah satu bentuk komitmen Indonesia untuk ikut memperkuat sumber dana bagi IMF dalam upayanya menyehatkan perekonomian global.
"Utang swasta rendah, kurang dari 0,25 persen. Indonesia masuk dalam negara yang sukses," ujarnya di Kantor Kepresidenan, Jalan Medan Merdeka, Selasa (10/7/2012).
Selain itu, dia mengungkapkan Indonesia memiliki Foreign Direct Invesment (FDI) yang baik. "Tidak hanya capital inflow, tapi real FDI, karena nilainya yang meningkat," ungkapnya.
Menurutnya, FDI berasal dari proyek-proyek infrastruktur yang memacu transportasi, kereta dan pelabuhan untuk meningkatkan investasi. Meski demikian, melihat kondisi perekonomian global, eurozone, sovereign debt crisis dan ekonomi Amerika, telah memberikan efek negatif terhadap IMF dengan negara-negara di dunia. "Tidak ada perekonomian yang imun terhadap apa yang terjadi dengan perekonomian global," jelas dia.
Lagarde melanjutkan, bertemu dengan masyarakat sipil, wirausaha perempuan, dan klub pebisnis telah membawa dia mendapatkan pemahaman mendalam untuk memahami perekonomian Indonesia, dalam sudut pandang masyarakat Indonesia. "Kami juga dapat berdiskusi financial inclusion, termasuk untuk golongan kaum miskin," tukas dia.
Selain itu, dia juga memuji kebijakan pemerintah dalam menghapuskan subsidi, namun tetap melindungi masyarakat miskin. "Negara-negara banyak yang mendapat jawaban adalah contoh yang bagus, punya pekerjaan yang bagus membuat subsidi subtitusi, bukan subsidi removal. Sudah dilakukan sangat hati-hati, dengan banyak catatan Indonesia memiliki program subsidi subtitusi yang bagus," tukas dia.
Lagarde tidak memungkiri bahwa Indonesia telah menjadi negara yang perekonomiannya diakui oleh dunia internasional. Oleh karena itu, Indonesia harus memiliki suara dalam internasional institusi seperti IMF.
Lagarde menilai, Indonesia dapat berkontribusi pada IMF dengan cara membeli obligasi IMF. Menurut dia, hal ini merupakan komitmen yang telah dibuat antar pemimpin, dan sudah terjadi di antara negara-negara.
"Saya hanya ingin memberikan penjelasan dan mengingatkan, bahwa kontribusi ini adalah sukarelawan oleh setiap negara bukan gift, bukan grant, tapi reserve kontribusi negara," ungkap dia.
Menurutnya, kontribusi pada IMF ini dapat digunakan sebagai second line of define. Kontribusi ini tidak dialokasikan untuk negara khusus di dunia. "Tidak (hanya) untuk Eropa, tidak seperti itu. IMF punya anggota 188 negara," jelas dia.
Lebih jauh dia menambahkan, banyak negara yang mengalami krisis, baik yang low, middle, maupun emerging. Oleh karena itu, IMF berkomitmen untuk menjadi second line of defence. "Jadi reserve, kebijakan yang sama untuk semua negara. Kami juga meminta kepada ke semua negara," tambah dia.
Seperti diketahui, Indonesia tengah mempertimbangkan untuk memberikan pinjaman kepada IMF sebesar USD1 miliar. Pinjaman tersebut merupakan salah satu bentuk komitmen Indonesia untuk ikut memperkuat sumber dana bagi IMF dalam upayanya menyehatkan perekonomian global.
(gpr)
Lihat Juga :