Summarecon raih pendapatan Rp1,7 T
Kamis, 12 Juli 2012 - 10:55 WIB
Summarecon raih pendapatan Rp1,7 T
A
A
A
Sindonews.com - PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) membukukan pendapatan Rp1,5–1,7 triliun pada semester I tahun ini. Sebagian besar dari perkiraan pendapatan tersebut berasal dari penjualan kluster di tiga kawasan hunian yang dikembangkan perseroan yakni Summarecon Kelapa Gading, Summarecon Bekasi, dan Summarecon Serpong.
Direktur Utama SMRA Johannes Mardjuki menambahkan, laba bersih diperkirakan dalam kisaran Rp280–310 miliar. “Sesuai dengan target. Karena pada akhir tahun kami menargetkan membukukan pendapatan sekitar Rp3–3,3 triliun dengan laba bersih dalam kisaran Rp550–600 miliar,” ujarnya saat dihubungi, Rabu 11 2012. Dia mengaku optimistis bisa merealisasikan target tersebut.
Pasalnya, hingga akhir tahun ini perseroan masih akan merilis 5–6 kluster baru. Lokasinya tersebar di tiga kawasan hunian yang dikembangkan perseroan. Menurutnya, sekitar 30 persen dari perkiraan pendapatan semester I/2012 itu berasal dari pendapatan berulang (recurring income).
Saat ini perseroan tengah dalam proses perizinan untuk bisa membangun hotel dan diharapkan pada akhir tahun ini hotel bintang tiga atau lima itu sudah bisa dibangun.
Hotel itu diharapkan bisa mendukung rencana perseroan meningkatkan persentase pendapatan berulang menjadi 45 persen dari total pendapatan.
Tahun ini, lanjut Johannes, perseroan telah menganggarkan belanja modal (capital expenditure /capex) Rp1,6 triliun. Antara lain untuk pembangunan infrastruktur, pembangunan mal Bekasi, pembangunan hotel di Bali. “Capex yang kami pergunakan belum banyak. Baru untuk membangun mal Bekasi,” kata dia.
Sementara, Pefindo menaikkan peringkat SMRA menjadi idA+ dari idA.Menurut analis Pefindo Vonny Widjaja & Rachmadi Kurniawan, kenaikan peringkat terutama disebabkan oleh perbaikan rasio proteksi arus kas perseroan. “Serta posisi SMRA yang semakin kuat di bisnis properti,” terang mereka dalam risetnya.
Namun, peringkat dibatasi oleh adanya persaingan yang ketat di area Serpong dan karakteristik industri properti yang sensitif terhadap perubahan makroekonomi. Adapun, outlook untuk peringkat perusahaan adalah stabil.
Direktur Utama SMRA Johannes Mardjuki menambahkan, laba bersih diperkirakan dalam kisaran Rp280–310 miliar. “Sesuai dengan target. Karena pada akhir tahun kami menargetkan membukukan pendapatan sekitar Rp3–3,3 triliun dengan laba bersih dalam kisaran Rp550–600 miliar,” ujarnya saat dihubungi, Rabu 11 2012. Dia mengaku optimistis bisa merealisasikan target tersebut.
Pasalnya, hingga akhir tahun ini perseroan masih akan merilis 5–6 kluster baru. Lokasinya tersebar di tiga kawasan hunian yang dikembangkan perseroan. Menurutnya, sekitar 30 persen dari perkiraan pendapatan semester I/2012 itu berasal dari pendapatan berulang (recurring income).
Saat ini perseroan tengah dalam proses perizinan untuk bisa membangun hotel dan diharapkan pada akhir tahun ini hotel bintang tiga atau lima itu sudah bisa dibangun.
Hotel itu diharapkan bisa mendukung rencana perseroan meningkatkan persentase pendapatan berulang menjadi 45 persen dari total pendapatan.
Tahun ini, lanjut Johannes, perseroan telah menganggarkan belanja modal (capital expenditure /capex) Rp1,6 triliun. Antara lain untuk pembangunan infrastruktur, pembangunan mal Bekasi, pembangunan hotel di Bali. “Capex yang kami pergunakan belum banyak. Baru untuk membangun mal Bekasi,” kata dia.
Sementara, Pefindo menaikkan peringkat SMRA menjadi idA+ dari idA.Menurut analis Pefindo Vonny Widjaja & Rachmadi Kurniawan, kenaikan peringkat terutama disebabkan oleh perbaikan rasio proteksi arus kas perseroan. “Serta posisi SMRA yang semakin kuat di bisnis properti,” terang mereka dalam risetnya.
Namun, peringkat dibatasi oleh adanya persaingan yang ketat di area Serpong dan karakteristik industri properti yang sensitif terhadap perubahan makroekonomi. Adapun, outlook untuk peringkat perusahaan adalah stabil.
(gpr)
Lihat Juga :