Kenaikan harga daging sapi tak wajar
Jum'at, 13 Juli 2012 - 09:49 WIB
Kenaikan harga daging sapi tak wajar
A
A
A
Sindonews.com - Asosiasi Pengusaha Daging dan Sapi Potong Indonesia meminta pemerintah daerah segera menangani lonjakan harga daging di sejumlah pasar tradisional. Mereka menilai kenaikan harga daging sapi yang terjadi di pasaran merupakan permainan spekulan.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Daging dan Sapi Potong Indonesia (APDASI) Jawa Barat Dadang Iskandar mengatakan, pemerintah harus segera melakukan operasi pasar (OP) untuk mengendalikan harga daging sapi yang terjadi di pasaran.
“Posisi harga daging sapi saat ini sangat tidak logis. Pemerintah harus segera mengambil tindakan. Kalau dibiarkan terus, kami khawatir daya beli masyarakat menurun,” jelas Dadang Iskandar saat ditemui di kantornya, Kamis 12 Juli 2012.
Berdasarkan pantauan, harga daging sapi di Jabar saat ini mencapai Rp75.000–Rp80.000/kg. Sementara di pasar ritel, harganya bisa mencapai Rp90.000. Padahal, momen Ramadan dan Lebaran masih jauh.
Harga tersebut diperkirakan akan terus meroket hingga puasa dan Lebaran tiba. “Kami memprediksi pada awal Ramadan harga daging sapi bisa mencapai Rp90.000/kg. Sementara saat Ramadan bisa lebih dari Rp100.000/kg,” katanya.
Lonjakan itu tidak hanya merugikan konsumen, tapi juga pedagang daging sapi potong di pasar tradisional. Mereka harus menyiapkan modal lebih untuk membeli daging sapi. Menurut dia, lonjakan harga daging sapi tak lepas dari kebijakan pemerintah membatasi sapi impor.
Selain mengakibatkan berkurangnya pasokan daging, juga memicu munculnya para spekulan yang membeli sapi langsung dalam jumlah besar dari sentra produsen sapi seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Parahnya lagi, lanjut dia, para importir membeli sapi lokal untuk disimpan. Akibatnya,pasokan menyusut. Namun demikian, tidak ada regulasi terkait boleh atau tidaknya importir sapi ikut menggemukkan sapi potong.
Sementara itu, para peternak ayam di wilayah Kabupaten Ciamis juga berharap pemerintah segera turun tangan mengatur regulasi harga ayam. Peternak menilai, apa yang disampaikan pedagang sudah memojokkan peternak, apalagi ada ancaman untuk melakukan sweeping kendaraan ayam dari wilayah Ciamis, Garut, Banjar, dan Tasikmalaya.
“Menyikapi kondisi ini, seharusnya semua pihak duduk bersama, jangan saling menyalahkan. Peternak dan pedagang jelas saling membutuhkan, bukan saling menyalahkan,” kata Sumadi, peternak ayam dari Peternakan Tanjung Mulya Panumbangan, Kabupaten Ciamis.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Daging dan Sapi Potong Indonesia (APDASI) Jawa Barat Dadang Iskandar mengatakan, pemerintah harus segera melakukan operasi pasar (OP) untuk mengendalikan harga daging sapi yang terjadi di pasaran.
“Posisi harga daging sapi saat ini sangat tidak logis. Pemerintah harus segera mengambil tindakan. Kalau dibiarkan terus, kami khawatir daya beli masyarakat menurun,” jelas Dadang Iskandar saat ditemui di kantornya, Kamis 12 Juli 2012.
Berdasarkan pantauan, harga daging sapi di Jabar saat ini mencapai Rp75.000–Rp80.000/kg. Sementara di pasar ritel, harganya bisa mencapai Rp90.000. Padahal, momen Ramadan dan Lebaran masih jauh.
Harga tersebut diperkirakan akan terus meroket hingga puasa dan Lebaran tiba. “Kami memprediksi pada awal Ramadan harga daging sapi bisa mencapai Rp90.000/kg. Sementara saat Ramadan bisa lebih dari Rp100.000/kg,” katanya.
Lonjakan itu tidak hanya merugikan konsumen, tapi juga pedagang daging sapi potong di pasar tradisional. Mereka harus menyiapkan modal lebih untuk membeli daging sapi. Menurut dia, lonjakan harga daging sapi tak lepas dari kebijakan pemerintah membatasi sapi impor.
Selain mengakibatkan berkurangnya pasokan daging, juga memicu munculnya para spekulan yang membeli sapi langsung dalam jumlah besar dari sentra produsen sapi seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Parahnya lagi, lanjut dia, para importir membeli sapi lokal untuk disimpan. Akibatnya,pasokan menyusut. Namun demikian, tidak ada regulasi terkait boleh atau tidaknya importir sapi ikut menggemukkan sapi potong.
Sementara itu, para peternak ayam di wilayah Kabupaten Ciamis juga berharap pemerintah segera turun tangan mengatur regulasi harga ayam. Peternak menilai, apa yang disampaikan pedagang sudah memojokkan peternak, apalagi ada ancaman untuk melakukan sweeping kendaraan ayam dari wilayah Ciamis, Garut, Banjar, dan Tasikmalaya.
“Menyikapi kondisi ini, seharusnya semua pihak duduk bersama, jangan saling menyalahkan. Peternak dan pedagang jelas saling membutuhkan, bukan saling menyalahkan,” kata Sumadi, peternak ayam dari Peternakan Tanjung Mulya Panumbangan, Kabupaten Ciamis.
(gpr)
Lihat Juga :