Harga ayam di Jabar sulit ditekan
Selasa, 17 Juli 2012 - 19:29 WIB
Harga ayam di Jabar sulit ditekan
A
A
A
Sindonews.com - Kenaikan harga daging ayam ras di Jawa Barat (Jabar) diperkirakan akan sulit ditekan sampai H+3 awal Ramadan. Penyebabnya, tidak ada regulasi dan mekanisme pasar yang bisa mengendalikan komoditas tersebut.
Ketua Perhimpunan Peternak Ayam Nasional (PPAN) Jawa Barat Herry Dermawan menilai, kenaikan harga daging ayam di pasaran akan sulit dikendalikan. Harga daging ayam diperkirakan akan terus merangkak naik sampai H+3 awal Ramadan. Saat munggahan, harga daging ayam ras bisa mencapai Rp38.000 per kg.
“Saya pesimistis harga daging ayam bisa ditekan. Pemerintah tidak bisa berbuat banyak, karena tidak ada aturan yang bisa membatasi atau menentukan besaran harga ayam di Indonesia,” kata Herry Dermawan di sela-sela rapat koordinasi antara Dinas Peternakan Jabar dengan pengusaha dan peternak ayam di Jalan Ir Djuanda, Kota Bandung, Selasa (17/7/2012).
Menurut dia, kenaikan harga daging ayam ras di pasaran disebabnya oleh banyak faktor. Mulai dari kenaikan harga bibit ayam atau DOC, distribusi, populasi, kenaikan harga pakan, dan lainnya. Sebagai perbandingan, saat ini harga DOC Rp7.000 dari sebelumnya Rp4.000 per ekor pada April 2012 lalu. Kenaikan DOC menyebabkan kenaikan biaya produksi peternak ayam.
Dia pun menolak jika kenaikan DOC disebabkan lonjakan permintaan bibit ayam ras. Menurut dia, populasi DOC sangat mencukupi untuk memasok peternak ayam di Jabar. Sayangnya, penyebaran DOC tidak merata. Selain itu, ada pengusaha DOC yang ikut membudidayakan ayam. Sehingga, peternak kesulitan mendapat pasokan DOC.
Untuk diketahui, harga ayam ras di pasaran saat ini mencapai Rp30.000 per kg. Sedangkan harga jual ayam dari peternak sekitar Rp17.800 per kg. Harga ayam di pasaran diperkirakan akan terus naik sampai munggahan. “Saat munggahan, bisa saja mencapai Rp38.000 per kg. Tapi akan kembali turun tiga atau empat hari setelah awal Ramadan,” imbuh dia.
Sementara, Sekretaris Eksekutif Gabungan Pengusaha Pembibitan Unggas (GPPU) Pusat, Yudi Prakosa mengatakan, produksi DOC di Indonesia mencapai 38 juta ekor per minggu. Jumlah tersebut terserap seluruhnya di pasaran.
Menurut dia, naiknya harga DOC di pasaran diakibatkan minimnya suplai akibat banyaknya peternak dadakan menjelang Ramadan dan Lebaran. “Banyak peternak dadakan. Sehingga, banyak peternak bersaing mendapatkan DOC,” jelas dia.
Sementara itu, rapat koordinasi antara Dinas Perternakan Jabar, Dinas Perindustrian Jabar, Bank Indonesia, DPRD Provinsi Jabar dengan pengusaha dan peternak ayam tidak memberi solusi kongkrit.
Kepala Dinas Peternakan Jabar Koesmayadie Tatang Padmadinata mengatakan, mengantisipasi kenaikan harga daging ayam, pihaknya akan mengawasi distribusi ayam secara ketat. Hal tersebut diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara suplai dan permintaan untuk memenuhi kebutuhan daging ayam di Jawa Barat.
“Selain itu, kami akan mengupayakan adanya hubungan komunikasi antara pembibit DOC, peternak, pengusaha pakan, distributor, dan pedagang ayam,” jelas dia. Koesmayadi juga berharap, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar membangun kelembagaan pasar.
Ketua Perhimpunan Peternak Ayam Nasional (PPAN) Jawa Barat Herry Dermawan menilai, kenaikan harga daging ayam di pasaran akan sulit dikendalikan. Harga daging ayam diperkirakan akan terus merangkak naik sampai H+3 awal Ramadan. Saat munggahan, harga daging ayam ras bisa mencapai Rp38.000 per kg.
“Saya pesimistis harga daging ayam bisa ditekan. Pemerintah tidak bisa berbuat banyak, karena tidak ada aturan yang bisa membatasi atau menentukan besaran harga ayam di Indonesia,” kata Herry Dermawan di sela-sela rapat koordinasi antara Dinas Peternakan Jabar dengan pengusaha dan peternak ayam di Jalan Ir Djuanda, Kota Bandung, Selasa (17/7/2012).
Menurut dia, kenaikan harga daging ayam ras di pasaran disebabnya oleh banyak faktor. Mulai dari kenaikan harga bibit ayam atau DOC, distribusi, populasi, kenaikan harga pakan, dan lainnya. Sebagai perbandingan, saat ini harga DOC Rp7.000 dari sebelumnya Rp4.000 per ekor pada April 2012 lalu. Kenaikan DOC menyebabkan kenaikan biaya produksi peternak ayam.
Dia pun menolak jika kenaikan DOC disebabkan lonjakan permintaan bibit ayam ras. Menurut dia, populasi DOC sangat mencukupi untuk memasok peternak ayam di Jabar. Sayangnya, penyebaran DOC tidak merata. Selain itu, ada pengusaha DOC yang ikut membudidayakan ayam. Sehingga, peternak kesulitan mendapat pasokan DOC.
Untuk diketahui, harga ayam ras di pasaran saat ini mencapai Rp30.000 per kg. Sedangkan harga jual ayam dari peternak sekitar Rp17.800 per kg. Harga ayam di pasaran diperkirakan akan terus naik sampai munggahan. “Saat munggahan, bisa saja mencapai Rp38.000 per kg. Tapi akan kembali turun tiga atau empat hari setelah awal Ramadan,” imbuh dia.
Sementara, Sekretaris Eksekutif Gabungan Pengusaha Pembibitan Unggas (GPPU) Pusat, Yudi Prakosa mengatakan, produksi DOC di Indonesia mencapai 38 juta ekor per minggu. Jumlah tersebut terserap seluruhnya di pasaran.
Menurut dia, naiknya harga DOC di pasaran diakibatkan minimnya suplai akibat banyaknya peternak dadakan menjelang Ramadan dan Lebaran. “Banyak peternak dadakan. Sehingga, banyak peternak bersaing mendapatkan DOC,” jelas dia.
Sementara itu, rapat koordinasi antara Dinas Perternakan Jabar, Dinas Perindustrian Jabar, Bank Indonesia, DPRD Provinsi Jabar dengan pengusaha dan peternak ayam tidak memberi solusi kongkrit.
Kepala Dinas Peternakan Jabar Koesmayadie Tatang Padmadinata mengatakan, mengantisipasi kenaikan harga daging ayam, pihaknya akan mengawasi distribusi ayam secara ketat. Hal tersebut diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara suplai dan permintaan untuk memenuhi kebutuhan daging ayam di Jawa Barat.
“Selain itu, kami akan mengupayakan adanya hubungan komunikasi antara pembibit DOC, peternak, pengusaha pakan, distributor, dan pedagang ayam,” jelas dia. Koesmayadi juga berharap, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar membangun kelembagaan pasar.
(gpr)
Lihat Juga :