JK sesalkan RI jadi negara importir
Selasa, 17 Juli 2012 - 20:00 WIB
JK sesalkan RI jadi negara importir
A
A
A
Sindonews.com - Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), memandang Indonesia telah berubah dari eksportir menjadi Importir.
Pernyataan tersebut dilontarkan JK, lantaran persediaan energi yang dimiliki Indonesia dalam kondisi mengkhawatirkan. "Sekarang Indonesia telah menjadi importir minyak di dunia," ujar JK di Ruang GBHN Nusantara V MPR, Selasa, (17/7/2012).
JK menceritakan, pada periode 1970-1980an, Indonesia menghitung jumlah minyak bumi yang diekspor. Namun saat ini, kata JK, Indonesia justru menghitung banyaknya minyak yang diimpor. "Seharusnya Pertamina menjadi tulang punggung negara dalam meningkatkan produktivitas energi. Namun saat ini Pertamina malah lebih dikenal sebagai penjual, bukannya pencari minyak," cetus JK.
Pertamina, lanjut JK, hanya menjadi semacam 'owner', dan yang bekerja adalah para kontraktor asing seperti Shell, Chevron, dan Petronas. "Teknologi serta modal yang dimiliki Pertamina belumlah sekuat Shell, Total, maupun Chevron," katanya.
JK berpendapat, pemerintah harus memikirkan cara untuk menguasai blok-blok minyak yang sudah berusia 25 tahun. Pertamina, lanjutnya, harus siap dan mampu jika akhirnya pemerintah melakukan nasionalisasi terhadap blok-blok yang masa kontraknya sudah habis.
"Jika siap tapi tidak mampu, minyaknya dijual saja ke orang lain. Sedangkan, jika Pertamina mampu namun belum siap, produktivitas akan menurun," ujarnya.
Indonesia, imbuhnya lagi, bisa maju dengan menggabungkan tiga hal, yaitu otak, otot, serta hati. "Dengan otot tapi tanpa otak, Indonesia hanya bisa berkelahi. Sedangkan dengan otak tapi tanpa otot, Indonesia hanya akan menjadi konsultan. Tanpa hati, Indonesia akan terjebak dalam berbagai masalah, seperti korupsi," paparnya.
Lebih lanjut lagi JK memaparkan, jika yang menjadi kendala adalah teknologi, maka teknologi tersebut bisa dibeli, tenaga kerja pun bisa direkrut.
"Indonesia itu butuh 600 ribu barel minyak per hari. Jika pemerintah melakukan nasionalisasi tanpa adanya kesiapan teknologi, saya cemas Indonesia kelak hanya akan jadi pengimpor minyak dari negara lain," simpulnya.
Pernyataan tersebut dilontarkan JK, lantaran persediaan energi yang dimiliki Indonesia dalam kondisi mengkhawatirkan. "Sekarang Indonesia telah menjadi importir minyak di dunia," ujar JK di Ruang GBHN Nusantara V MPR, Selasa, (17/7/2012).
JK menceritakan, pada periode 1970-1980an, Indonesia menghitung jumlah minyak bumi yang diekspor. Namun saat ini, kata JK, Indonesia justru menghitung banyaknya minyak yang diimpor. "Seharusnya Pertamina menjadi tulang punggung negara dalam meningkatkan produktivitas energi. Namun saat ini Pertamina malah lebih dikenal sebagai penjual, bukannya pencari minyak," cetus JK.
Pertamina, lanjut JK, hanya menjadi semacam 'owner', dan yang bekerja adalah para kontraktor asing seperti Shell, Chevron, dan Petronas. "Teknologi serta modal yang dimiliki Pertamina belumlah sekuat Shell, Total, maupun Chevron," katanya.
JK berpendapat, pemerintah harus memikirkan cara untuk menguasai blok-blok minyak yang sudah berusia 25 tahun. Pertamina, lanjutnya, harus siap dan mampu jika akhirnya pemerintah melakukan nasionalisasi terhadap blok-blok yang masa kontraknya sudah habis.
"Jika siap tapi tidak mampu, minyaknya dijual saja ke orang lain. Sedangkan, jika Pertamina mampu namun belum siap, produktivitas akan menurun," ujarnya.
Indonesia, imbuhnya lagi, bisa maju dengan menggabungkan tiga hal, yaitu otak, otot, serta hati. "Dengan otot tapi tanpa otak, Indonesia hanya bisa berkelahi. Sedangkan dengan otak tapi tanpa otot, Indonesia hanya akan menjadi konsultan. Tanpa hati, Indonesia akan terjebak dalam berbagai masalah, seperti korupsi," paparnya.
Lebih lanjut lagi JK memaparkan, jika yang menjadi kendala adalah teknologi, maka teknologi tersebut bisa dibeli, tenaga kerja pun bisa direkrut.
"Indonesia itu butuh 600 ribu barel minyak per hari. Jika pemerintah melakukan nasionalisasi tanpa adanya kesiapan teknologi, saya cemas Indonesia kelak hanya akan jadi pengimpor minyak dari negara lain," simpulnya.
(gpr)
Lihat Juga :