Pencakar langit Jakarta bakal bertambah 100%
Kamis, 19 Juli 2012 - 11:38 WIB
Pencakar langit Jakarta bakal bertambah 100%
A
A
A
Sindonews.com - Konsultan properti internasional asal Amerika Serikat Jones Lang LaSalle menyatakan, pasar properti di Jakarta akan mengalami peningkatan signifikan.
Jakarta diperkirakan bakal memiliki 150 gedung pencakar langit pada 2015, naik 100 persen dari saat ini. ”Faktor ekonomi dan pertumbuhan daya beli masyarakat, serta ekspansi sektor korporasi di Indonesia menjadi pendorong utama pertumbuhan sektor properti. Tiga tahun mendatang akan ada peningkatan skyscrapers hingga 100 persen dibandingkan yang ada saat ini,” kata Head of Research Jones Lang LaSalle Anton Sitorus seusai menghadiri pemaparan pasar properti Jakarta kuartal II/2012 di Jakarta, kemarin.
Anton mengatakan, dengan bertambahnya pembangunan gedung pencakar langit, pasar properti di Jakarta pun akan mengalami pertumbuhan yang signifikan baik dari sisi permintaan maupun kenaikan harga jual dan sewanya.
Hal ini juga termasuk dalam semua sektor properti yaitu perkantoran komersial, residensial, ritel dan kawasan industri. Menurut Anton, booming pembangunan gedung pencakar langit di Jakarta juga pernah terjadi pada 1994.Namun akibat krisis moneter 1998, banyak pembangunannya yang tertunda.
Seiring pertumbuhan ekonomi, pembangunan gedung pencakar langit di Ibu Kota berlanjut. Berdasarkan data Jones Lang LaSalle,tahun 2009 lalu Indonesia memiliki 40 gedung pencakar langit dan bertambah menjadi 75 gedung saat ini. Bahkan, pada 2020 di Jakarta diperkirakan ada 250 gedung pencakar langit.
”Saat ini Indonesia termasuk dalam 50 besar negara di dunia yang memiliki gedung pencakar langit, namun dengan pembangunan 250 gedung maka kita bisa masuk ke 20 besar.Jumlah skyscrapers diJakarta saat ini masih lebih rendah dibandingkan Bangkok dan Singapura. Di Bangkok jumlahnya dua kali dari Jakarta dan Singapura sedikit di bawah Bangkok,” ujarnya.
Meskipun akan ada peningkatan signifikan dengan bertambahnya gedung pencakar langit hingga 100 persen pada 2015, Anton menilai pasar properti di Jakarta belum akan menunjukkan tanda-tanda terjadinya gelembung (bubble). Hal ini terlihat dari tingkat keterisian pangsa pasar properti khususnya perkantoran di CBD untuk semester I/2012 yang mencapai 98 persen untuk grade A.
Jakarta diperkirakan bakal memiliki 150 gedung pencakar langit pada 2015, naik 100 persen dari saat ini. ”Faktor ekonomi dan pertumbuhan daya beli masyarakat, serta ekspansi sektor korporasi di Indonesia menjadi pendorong utama pertumbuhan sektor properti. Tiga tahun mendatang akan ada peningkatan skyscrapers hingga 100 persen dibandingkan yang ada saat ini,” kata Head of Research Jones Lang LaSalle Anton Sitorus seusai menghadiri pemaparan pasar properti Jakarta kuartal II/2012 di Jakarta, kemarin.
Anton mengatakan, dengan bertambahnya pembangunan gedung pencakar langit, pasar properti di Jakarta pun akan mengalami pertumbuhan yang signifikan baik dari sisi permintaan maupun kenaikan harga jual dan sewanya.
Hal ini juga termasuk dalam semua sektor properti yaitu perkantoran komersial, residensial, ritel dan kawasan industri. Menurut Anton, booming pembangunan gedung pencakar langit di Jakarta juga pernah terjadi pada 1994.Namun akibat krisis moneter 1998, banyak pembangunannya yang tertunda.
Seiring pertumbuhan ekonomi, pembangunan gedung pencakar langit di Ibu Kota berlanjut. Berdasarkan data Jones Lang LaSalle,tahun 2009 lalu Indonesia memiliki 40 gedung pencakar langit dan bertambah menjadi 75 gedung saat ini. Bahkan, pada 2020 di Jakarta diperkirakan ada 250 gedung pencakar langit.
”Saat ini Indonesia termasuk dalam 50 besar negara di dunia yang memiliki gedung pencakar langit, namun dengan pembangunan 250 gedung maka kita bisa masuk ke 20 besar.Jumlah skyscrapers diJakarta saat ini masih lebih rendah dibandingkan Bangkok dan Singapura. Di Bangkok jumlahnya dua kali dari Jakarta dan Singapura sedikit di bawah Bangkok,” ujarnya.
Meskipun akan ada peningkatan signifikan dengan bertambahnya gedung pencakar langit hingga 100 persen pada 2015, Anton menilai pasar properti di Jakarta belum akan menunjukkan tanda-tanda terjadinya gelembung (bubble). Hal ini terlihat dari tingkat keterisian pangsa pasar properti khususnya perkantoran di CBD untuk semester I/2012 yang mencapai 98 persen untuk grade A.
(gpr)
Lihat Juga :