Tanpa keseriusan, BBN masih sulit berkembang
Kamis, 19 Juli 2012 - 17:27 WIB
Tanpa keseriusan, BBN masih sulit berkembang
A
A
A
Sindonews.com - Pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) di Indonesia harusnya diawali dengan pengaturan regulasi, terutama dalam persoalan harga Fatty Acid Metyl Ester (FAME) yang masih tinggi.
Pasalnya, BBN merupakan sumber energi dalam kategori terbarukan. Sehingga untuk bersaing dengan yang sebelumnya, seperti Bahan Bakar Minyak sangat sulit.
"Apa-apa yang terbarukan, jika lebih mahal dari yang konvensional, apalagi premium masih Rp4.500, orang (pelaku usaha) gak tertarik," kata Vice President Corporate Communication PT Pertamina, Ali Mundakir kepada wartawan di Jakarta, Kamis (19/7/2012).
Bahkan selain BBN, menurutnya jika BBM masih disubsidi dengan angka yang besar maka tidak akan ada pengembangan yang signifikan.
Dia menambahkan, selama ini program yang dicetuskan pemerintah untuk pengembangan energi baru dan terbarukan cenderung pencitraan belaka.
"Perlu kebijakan serius, harus didorong, disamping pelan-pelan kurangi subsidi. Harga FAME tinggi, kalau masih bersentuhan dengan kelapa sawit, kadang kita tanggung, sudah globalisasi tapi nggak belajar," jelasnya.
Dirinya mencontohkan, Filipina menjual bensin dengan harga Rp12 ribu dan Brazil yang sudah menjual minyak Mops plus alpha yang berarti sudah setara dengan harga internasional. Untuk itu, dia mengutarakan, pengembangan energi lain di Indonesia sangat sulit. "Prinsipnya kalau masih ada subsidi mau dikembangin apa saja sulit lah," pungkasnya.
Pasalnya, BBN merupakan sumber energi dalam kategori terbarukan. Sehingga untuk bersaing dengan yang sebelumnya, seperti Bahan Bakar Minyak sangat sulit.
"Apa-apa yang terbarukan, jika lebih mahal dari yang konvensional, apalagi premium masih Rp4.500, orang (pelaku usaha) gak tertarik," kata Vice President Corporate Communication PT Pertamina, Ali Mundakir kepada wartawan di Jakarta, Kamis (19/7/2012).
Bahkan selain BBN, menurutnya jika BBM masih disubsidi dengan angka yang besar maka tidak akan ada pengembangan yang signifikan.
Dia menambahkan, selama ini program yang dicetuskan pemerintah untuk pengembangan energi baru dan terbarukan cenderung pencitraan belaka.
"Perlu kebijakan serius, harus didorong, disamping pelan-pelan kurangi subsidi. Harga FAME tinggi, kalau masih bersentuhan dengan kelapa sawit, kadang kita tanggung, sudah globalisasi tapi nggak belajar," jelasnya.
Dirinya mencontohkan, Filipina menjual bensin dengan harga Rp12 ribu dan Brazil yang sudah menjual minyak Mops plus alpha yang berarti sudah setara dengan harga internasional. Untuk itu, dia mengutarakan, pengembangan energi lain di Indonesia sangat sulit. "Prinsipnya kalau masih ada subsidi mau dikembangin apa saja sulit lah," pungkasnya.
(gpr)
Lihat Juga :