Mobil listrik masih tersandung masalah baterai
Senin, 23 Juli 2012 - 14:42 WIB
Mobil listrik masih tersandung masalah baterai
A
A
A
Sindonews.com - Menteri BUMN Dahlan Iskan menerangkan, pembuatan terminal listrik untuk mobil listrik akan jauh lebih murah dibandingkan pembangunan SPBU Bahan Bakar Minyak (BBM).
"Saya kira jauh lebih sulit membangun SPBU bensin ketimbang bangun colokan untuk mobil listrik," terang Dahlan saat ditemui usai melakukan rapat koordinasi soal mobil listrik di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (23/7/2012).
Ketika disinggung perihal solusi untuk pengisian listrik yang cenderung lama (5 jam per pengisian), Dahlan menjelaskan pihaknya tengah mengembangkan teknologi tersebut guna meningkatkan efisiensi dalam pengisian daya listrik pada mobil tersebut. "Kan nanti dikembangkan teknologi yang kita sebut Quick Charge," terang Dahlan yang enggan menjelaskan lebih jauh perihal Quick Charge tersebut.
Sebelumnya, Dahlan Iskan mengutarakan kendala utama mobil listrik yang tengah dikembangkan masih terkendala di komponen baterai. "Problemnya lowbat (istilah untuk Low Battery/Lemah Daya Listrik), selalu lowbat," ujar Dahlan.
Untuk komponen baterai sendiri, diakui Dahlan, komponen tersebut belum tersedia di dalam negeri. Baru pada beberapa waktu mendatang, sudah ada perusahaan produsen baterai yang menyatakan kesediaannya untuk memproduksi baterai untuk mobil listrik tersebut.
"Tahun depan ada yang memproduksi (baterai), swasta mampu. Banyak, ini ada perusahaan baterai di Indonesia yaitu Nipres. Nipres itu sudah ekspor ke 60 negara," kata Dahlan.
Ditemui pada tempat yang sama, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini menyatakan, kesediaan pihaknya yang berencana akan membangun terminal listrik untuk tempat pengisian mobil listrik yang akan dikembangkan. "Kami menyiapkan listriknya nanti ditempat-tempat umum itu bisa gratis listriknya," ujar Rudi.
Rudi menegaskan pembangunan terminal listrik tersebut akan dipusatkan di tempat-tempat umum seperti mall-mall. "Bisa di mall-mall kan biasanya mobil listrik parkir di sana atau SPBU dan tempat-tempat ramai," simpulnya.
"Saya kira jauh lebih sulit membangun SPBU bensin ketimbang bangun colokan untuk mobil listrik," terang Dahlan saat ditemui usai melakukan rapat koordinasi soal mobil listrik di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (23/7/2012).
Ketika disinggung perihal solusi untuk pengisian listrik yang cenderung lama (5 jam per pengisian), Dahlan menjelaskan pihaknya tengah mengembangkan teknologi tersebut guna meningkatkan efisiensi dalam pengisian daya listrik pada mobil tersebut. "Kan nanti dikembangkan teknologi yang kita sebut Quick Charge," terang Dahlan yang enggan menjelaskan lebih jauh perihal Quick Charge tersebut.
Sebelumnya, Dahlan Iskan mengutarakan kendala utama mobil listrik yang tengah dikembangkan masih terkendala di komponen baterai. "Problemnya lowbat (istilah untuk Low Battery/Lemah Daya Listrik), selalu lowbat," ujar Dahlan.
Untuk komponen baterai sendiri, diakui Dahlan, komponen tersebut belum tersedia di dalam negeri. Baru pada beberapa waktu mendatang, sudah ada perusahaan produsen baterai yang menyatakan kesediaannya untuk memproduksi baterai untuk mobil listrik tersebut.
"Tahun depan ada yang memproduksi (baterai), swasta mampu. Banyak, ini ada perusahaan baterai di Indonesia yaitu Nipres. Nipres itu sudah ekspor ke 60 negara," kata Dahlan.
Ditemui pada tempat yang sama, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini menyatakan, kesediaan pihaknya yang berencana akan membangun terminal listrik untuk tempat pengisian mobil listrik yang akan dikembangkan. "Kami menyiapkan listriknya nanti ditempat-tempat umum itu bisa gratis listriknya," ujar Rudi.
Rudi menegaskan pembangunan terminal listrik tersebut akan dipusatkan di tempat-tempat umum seperti mall-mall. "Bisa di mall-mall kan biasanya mobil listrik parkir di sana atau SPBU dan tempat-tempat ramai," simpulnya.
(gpr)