Bandung, tahu-tempe menghilang di pasar tradisional
Rabu, 25 Juli 2012 - 20:03 WIB
Bandung, tahu-tempe menghilang di pasar tradisional
A
A
A
Sindonews.com - Sejak pagi, tahu dan tempe menghilang di sejumlah pasar tradisional di Kota Bandung. Kondisi tersebut, diperkirakan akan terjadi sampai dua hari kedepan (26-27 Juli 2012).
Pantauan SINDO di pasar induk tradisional di Kota Bandung, (Pasar Kosambi dan Pasar Cihaurgeulis) hanya sedikit pedagang yang menjual tahu dan tempe. Sejumlah pedagang yang biasanya menjual tahu dan tempe partai besar, sebagian besar memilih tutup. Beberapa pedagang pengecer juga tidak menjual tahu dan tempe.
Salah seorang pedagang di Pasar Cihaurgeulis, Dadan, mengatakan, menghilangnya tahu dan tempe di Pasar Cihaurgeulis disebabkan tidak ada suplai tahu dan tempe dari pengrajin. Akibatnya, pedagang tidak bisa melakukan aktivitas jual beli. “Pedagang tidak bisa jualan, karena tidak ada kiriman barang,” kata dia, Rabu (25/7/2012).
Menurut dia, pedagang yang masih menjual tahu dan tempe, yaitu untuk menghabiskan stok hari satu hari sebelumnya. Mereka menjual untuk menghabiskan barang. Akibat kondisi tersebut, banyak pedagang yang mengkhususkan berjualan tahu dan tempe, untuk sementara berhenti berjualan.
Hal senada diakui pedagang lainnya, Yusuf. Menurut dia, mulai Kamis 26 Juli 2012 ini, dia tidak bisa menjual tahu dan tempe kepada konsumen. Penjualan tahu dan tempe yang dilakukan Yusuf pada Rabu (25/7/2012), untuk menghabiskan stok satu hari sebelumnya. “Ini untuk menghabiskan stok kemarin,” kata dia.
Minimnya pasokan dua komoditas itu, menyebabkan melambungnya harga tahu dan tempe di pasar tradisional. Menurut dia harga tahu dan tempe naik dua kali lipat dari harga normal. Itu karena, dua komoditas itu susah dicari.
Saat ini, harga tahu ukuran besar Rp1.000/buah, sedangkan harga tahu ukuran kecil Rp800/buah. Sedangkan harga tempe ukuran tipis Rp500/buah, ukuran sedang Rp8.000/buah, dan ukuran besar Rp10.000/buah.
Salah seorang pengrajin tempe di Kiaracondong, Bandung, Rasian mengatakan, dia berhenti memproduksi tempe. Tindakan itu dilakukan mentaati ultimatum Koperasi Tahun Tempe Indonesia (KOPTTI) yang melakukan aksi mogok produksi dari 25-27 Juli 2012. Aksi tersebut sebagai bentuk keprihatinan akan tingginya harga bahan baku kedelai.
“Kita sepakat tidak melakukan produksi selama tiga hari. Antar pengrajin, kita saling memantau. Sehingga, apabila ada yang tetap produksi, akan di tindak,” kata dia. Selain itu, para pengrajin tahu dan tempe, juga sweeping ke pasar-pasar. Mereka memastikan agar pedagang tidak ada yang menjual dua komoditas itu.
Sekretaris DPD Koperasi Tempe-Tahu Indonesia (KOPTTI) Jabar Hugo Siswaya mengatakan, aksi tersbeut dilakukan serentak di seluruh Indonesia. Mogok produksi merupakan bentuk protes atas tingginya harga kedelai. Sementara di satu sisi, pengrajin tahu dan tempe selalu di cecar pertanyaan, terkait kenaikan harga tahu dan tempe. Sementara, harga kedelai terus naik darat-rata Rp100 per hari.
Dia berharap, pemerintah memberi perhatian atas masalah tersebut. “Kondisi ini pernah terjadi pada 2008 lalu, harusnya pemerintah belajar pada pengalaman. Pemerintah harus punya strategi jangka panjang. Termasuk strategi untuk mengantisipasi kenaikan harga kedelai,” jelas dia.
Pantauan SINDO di pasar induk tradisional di Kota Bandung, (Pasar Kosambi dan Pasar Cihaurgeulis) hanya sedikit pedagang yang menjual tahu dan tempe. Sejumlah pedagang yang biasanya menjual tahu dan tempe partai besar, sebagian besar memilih tutup. Beberapa pedagang pengecer juga tidak menjual tahu dan tempe.
Salah seorang pedagang di Pasar Cihaurgeulis, Dadan, mengatakan, menghilangnya tahu dan tempe di Pasar Cihaurgeulis disebabkan tidak ada suplai tahu dan tempe dari pengrajin. Akibatnya, pedagang tidak bisa melakukan aktivitas jual beli. “Pedagang tidak bisa jualan, karena tidak ada kiriman barang,” kata dia, Rabu (25/7/2012).
Menurut dia, pedagang yang masih menjual tahu dan tempe, yaitu untuk menghabiskan stok hari satu hari sebelumnya. Mereka menjual untuk menghabiskan barang. Akibat kondisi tersebut, banyak pedagang yang mengkhususkan berjualan tahu dan tempe, untuk sementara berhenti berjualan.
Hal senada diakui pedagang lainnya, Yusuf. Menurut dia, mulai Kamis 26 Juli 2012 ini, dia tidak bisa menjual tahu dan tempe kepada konsumen. Penjualan tahu dan tempe yang dilakukan Yusuf pada Rabu (25/7/2012), untuk menghabiskan stok satu hari sebelumnya. “Ini untuk menghabiskan stok kemarin,” kata dia.
Minimnya pasokan dua komoditas itu, menyebabkan melambungnya harga tahu dan tempe di pasar tradisional. Menurut dia harga tahu dan tempe naik dua kali lipat dari harga normal. Itu karena, dua komoditas itu susah dicari.
Saat ini, harga tahu ukuran besar Rp1.000/buah, sedangkan harga tahu ukuran kecil Rp800/buah. Sedangkan harga tempe ukuran tipis Rp500/buah, ukuran sedang Rp8.000/buah, dan ukuran besar Rp10.000/buah.
Salah seorang pengrajin tempe di Kiaracondong, Bandung, Rasian mengatakan, dia berhenti memproduksi tempe. Tindakan itu dilakukan mentaati ultimatum Koperasi Tahun Tempe Indonesia (KOPTTI) yang melakukan aksi mogok produksi dari 25-27 Juli 2012. Aksi tersebut sebagai bentuk keprihatinan akan tingginya harga bahan baku kedelai.
“Kita sepakat tidak melakukan produksi selama tiga hari. Antar pengrajin, kita saling memantau. Sehingga, apabila ada yang tetap produksi, akan di tindak,” kata dia. Selain itu, para pengrajin tahu dan tempe, juga sweeping ke pasar-pasar. Mereka memastikan agar pedagang tidak ada yang menjual dua komoditas itu.
Sekretaris DPD Koperasi Tempe-Tahu Indonesia (KOPTTI) Jabar Hugo Siswaya mengatakan, aksi tersbeut dilakukan serentak di seluruh Indonesia. Mogok produksi merupakan bentuk protes atas tingginya harga kedelai. Sementara di satu sisi, pengrajin tahu dan tempe selalu di cecar pertanyaan, terkait kenaikan harga tahu dan tempe. Sementara, harga kedelai terus naik darat-rata Rp100 per hari.
Dia berharap, pemerintah memberi perhatian atas masalah tersebut. “Kondisi ini pernah terjadi pada 2008 lalu, harusnya pemerintah belajar pada pengalaman. Pemerintah harus punya strategi jangka panjang. Termasuk strategi untuk mengantisipasi kenaikan harga kedelai,” jelas dia.
(gpr)
Lihat Juga :