Distan Jabar imbau produsen gunakan kedelai lokal
Jum'at, 27 Juli 2012 - 13:12 WIB
Distan Jabar imbau produsen gunakan kedelai lokal
A
A
A
Sindonews.com - Dinas Pertanian Jawa Barat mengimbau agar produsen tahu tempe memakai kedelai lokal daripada impor. Pemakaian kedelai lokal akan memicu para petani kedelai lokal untuk meningkatkan produksi kedelai.
Kabid Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Jabar Uneef Primadi mengatakan, saat ini kedelai lokal memang kalah bersaing dengan kedelai impor.
Pasalnya, kedelai impor ukurannya lebih seragam, jumlahnya banyak dan harganya murah. Sedangkan kedelai lokal jumlahnya sedikit dan harganya lebih tinggi dari kedelai impor, tetapi kandungan gizinya lebih tinggi dari kedelai impor.
"Maka kami imbau kepada pengusaha tempe tahu agar kerja sama dengan kedelai lokal, kita bermitra. Kalau ada mitra petani kedelai siap tanam berapapun juga," kata Uneef, melalui telepon, Jumat (27/7/2012).
Saat ini luas tanam kedelai di Jabar baru 10 ribu hektar. Padahal sasarannya 50 ribu hektar. Rendahnya luas tanam kedelai juga karena kalah kompetitif dengan jagung dan padi selain dengan kedelai impor.
Luas lahan untuk kedelai sendiri 38.007 hektar dengan jumlah petani 100 ribuan. "Jadi lumayan besar yang hidup dari kedelai," katanya.
Maka untuk meningkatkan panen kedelai, tahun ini Distan Jabar melakukan tiga langkah. Pertama, dari target 53.825 hektar luas tanam kedelai di Jabar akan diberikan program- program peningkatan produksi seluas 21 ribu hektar.
Kedua, pihaknya akan memperbanyak kemitraan, salah satunya dengan Puskopti untuk meningkatkan pemakaian kedelai hasil petani kedelai lokal.
"Kita juga berkoordinasi dengan Perhutani, untuk memakai hutan yang bisa ditanami kedelai. Itu upaya kita," katanya.
Kebutuhan kedelai di Jabar sendiri sebesar 20 ribu ton per bulannya. Dalam setahun diperlukan 240 ribu ton, sehingga memerlulan areal sedikitnya 100 ribu hektar dengan produktivitas 1,5 ton per hektar.
"Saat ini kita baru 0,5, diusahakan di atas 1 ton hingga 2,5 ton. Di Balai Palawija Cirebon sudah menghasilkan 3,2 ton per hektar," sebutnya.
Selain itu, pihaknya juga mengusulkan agar adanya harga pembelian pemerintah daerah untuk kedelai melalui Badan Urusan Logistik (Bulog). Sehingga, selain menangani beras dan gula, Bulog juga membeli kedelai.
"Itu harapan kita, ya mudah-mudahan saja dilakukan. Jika regulasi diberlakukan, maka di tataran produksi akan meningkat," katanya.
Kabid Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Jabar Uneef Primadi mengatakan, saat ini kedelai lokal memang kalah bersaing dengan kedelai impor.
Pasalnya, kedelai impor ukurannya lebih seragam, jumlahnya banyak dan harganya murah. Sedangkan kedelai lokal jumlahnya sedikit dan harganya lebih tinggi dari kedelai impor, tetapi kandungan gizinya lebih tinggi dari kedelai impor.
"Maka kami imbau kepada pengusaha tempe tahu agar kerja sama dengan kedelai lokal, kita bermitra. Kalau ada mitra petani kedelai siap tanam berapapun juga," kata Uneef, melalui telepon, Jumat (27/7/2012).
Saat ini luas tanam kedelai di Jabar baru 10 ribu hektar. Padahal sasarannya 50 ribu hektar. Rendahnya luas tanam kedelai juga karena kalah kompetitif dengan jagung dan padi selain dengan kedelai impor.
Luas lahan untuk kedelai sendiri 38.007 hektar dengan jumlah petani 100 ribuan. "Jadi lumayan besar yang hidup dari kedelai," katanya.
Maka untuk meningkatkan panen kedelai, tahun ini Distan Jabar melakukan tiga langkah. Pertama, dari target 53.825 hektar luas tanam kedelai di Jabar akan diberikan program- program peningkatan produksi seluas 21 ribu hektar.
Kedua, pihaknya akan memperbanyak kemitraan, salah satunya dengan Puskopti untuk meningkatkan pemakaian kedelai hasil petani kedelai lokal.
"Kita juga berkoordinasi dengan Perhutani, untuk memakai hutan yang bisa ditanami kedelai. Itu upaya kita," katanya.
Kebutuhan kedelai di Jabar sendiri sebesar 20 ribu ton per bulannya. Dalam setahun diperlukan 240 ribu ton, sehingga memerlulan areal sedikitnya 100 ribu hektar dengan produktivitas 1,5 ton per hektar.
"Saat ini kita baru 0,5, diusahakan di atas 1 ton hingga 2,5 ton. Di Balai Palawija Cirebon sudah menghasilkan 3,2 ton per hektar," sebutnya.
Selain itu, pihaknya juga mengusulkan agar adanya harga pembelian pemerintah daerah untuk kedelai melalui Badan Urusan Logistik (Bulog). Sehingga, selain menangani beras dan gula, Bulog juga membeli kedelai.
"Itu harapan kita, ya mudah-mudahan saja dilakukan. Jika regulasi diberlakukan, maka di tataran produksi akan meningkat," katanya.
(gpr)
Lihat Juga :