Kinerja perbankan solid
Selasa, 31 Juli 2012 - 10:30 WIB
Kinerja perbankan solid
A
A
A
Sindonews.com - Tiga bank papan atas yakni PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan PT Bank Mandiri Tbk membukukan pertumbuhan laba bersih yang signifikan pada semester I/2012.
Pada semester I/2012 BNI berhasil membukukan laba bersih Rp3,29 triliun atau naik 20,4 persen dari Rp2,73 triliun di semester I/2011. Sedangkan, laba bersih Bank Mandiri naik 12,7 persen dari Rp6,3 triliun pada semester I/2011 menjadi Rp7,1 triliun pada periode yang sama tahun ini. Sementara laba bersih BCA tumbuh 10,6 persen menjadi Rp5,3 triliun pada akhir Juni 2012 dibandingkan Rp4,79 triliun di semester I/2011.
Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo mengatakan, kenaikan laba bersih BNI dipicu tumbuhnya pendapatan bunga bersih perseroan sebesar 18,7 persen dari Rp6,087 triliun di semester I/2011 menjadi Rp7,227 triliun pada periode yang sama tahun ini. Sedangkan, pendapatan nonbunga (fee based income) hanya naik 1,1 persen menjadi Rp3,733 triliun pada semester I/2012 dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp3,69 triliun.
”Karena pendapatan nonbunga kita masih kecil, untuk menjaga pertumbuhan laba, maka kita mempertahankan net interest margin (NIM) sekitar 5,89 persen pada semester I/2012,dibandingkan semester I/2011 sebesar 5,43 persen,” ujar Gatot dalam paparan kinerja keuangan BNI semester I/2012 di Jakarta, Senin 30 Juli 2012.
Menurut Gatot, kenaikan pendapatan bunga didorong tumbuhnya penyaluran kredit BNI sebesar 17,4 persen dari Rp152,896 triliun di semester I/2011 menjadi Rp179,441 triliun pada periode yang sama tahun ini.
Kenaikan pinjaman ini terutama didukung kredit konsumer yang naik 30,7 persen, kenaikan pembiayaan syariah 29,4 persen dan pinjaman segmen menengah naik 21,6 persen. Sementara, komposisi pinjaman dari business banking mencapai 71 persen, konsumer dan ritel mencapai 21,6 persen, dan sisanya dari cabang luar negeri sebesar 4 persen serta anak perusahaan sebesar 3,3 persen.
Sementara itu, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengungkapkan, kenaikan laba bersih perseroan didorong naiknya pendapatan bunga bersih sebesar 14,4 persen menjadi Rp9,19 triliun hingga Juni 2012, dari Rp8,031 triliun pada periode yang sama tahun ini.
”Sedangkan, pendapatan nonbunga juga naik 12,1 persen dari Rp3,24 triliun di semester I/2011 menjadi Rp3,633 triliun pada akhir Juni 2012,” jelasnya.
Menurut Jahja,tumbuhnya pendapatan bunga bersih dipicu kenaikan penyaluran kredit perseroan sebesar 41,5 persen menjadi Rp226 triliun pada semester I/2012. Dari jumlah tersebut, kredit konsumer naik lebih dari 50 persen menjadi Rp60 triliun. Ini utamanya didorong oleh portofolio kredit pemilikan rumah (KPR) yang tumbuh 73,5 persen menjadi Rp36,5 triliun.
Selanjutnya kredit kendaraan bermotor tumbuh 24,4 persen menjadi Rp18,1 triliun, kartu kredit meningkat 25,1 persen menjadi Rp5,5 triliun pada akhir Juni 2012,dan kredit korporasi juga tumbuh 42,6 persen menjadi Rp77,3 triliun.
Sedangkan, kredit komersial dan UKM tumbuh 35 persen mencapai Rp88,7 triliun. ”LDR kita 65,5 persen, sedangkan NPL pada level rendah 0,5 persen,” katanya.
Pada semester I/2012 dana pihak ketiga BCA mengalami peningkatan 19,4 persen menjadi Rp341,1 triliun. Komposisinya, tabungan Rp182,3 triliun, giro Rp82,8 triliun, dan deposito Rp76 triliun.
Sementara, Bank Mandiri mencatatkan pertumbuhan kredit 26,6% menjadi Rp350,4 triliun pada semester I/2012. Pencapaian itu mendukung peningkatan total aset BMRI menjadi Rp571,8 triliun, tumbuh 20,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp474,9 triliun.
Direktur Utama BMRI Zulkifli Zaini mengatakan, kinerja positif pada sisi intermediasi tersebut memacu pertumbuhan laba bersih perseroan sebesar 13 persen menjadi Rp7,1 triliun pada semester I/2012 dari periode yang sama tahun lalu Rp6,3 triliun.
”Kualitas aset produktif juga tetap terjaga dengan baik yang terlihat pada rasio kredit bermasalah netto sebesar 0,55 persen,” kata dia.
Dia menyebutkan, penyaluran kredit terjadi di seluruh segmen bisnis. Dengan pertumbuhan tertinggi terutama pada segmen mikro yang tumbuh mencapai 77,2 persen menjadi Rp15,1 triliun pada Juni 2012. Kredit yang tersalurkan untuk segmen usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) mencatat pertumbuhan sebesar 33,6 persen menjadi Rp47,6 triliun.
Sedangkan, penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) hingga Juni 2012 mencapai Rp8,6 triliun. ”BMRI terus menunjukkan pertumbuhan kredit di atas pertumbuhan pasar, khususnya di segmen UMKM. Serta terus meningkat akses masyarakat kepada pembiayaan kredit,” tutur dia.
Analis dari PT Buana Capital, Marolop Alfred Nainggolan, memperkirakan pertumbuhan usaha bank Mandiri pada 2012 bisa tumbuh di atas 30 persen. Indikatornya sudah terlihat dari capaian kuartal I/2012. ”Kredit terus meningkat seiring dengan membaiknya perekonomian masyarakat,” tutur dia.
Pada semester I/2012 BNI berhasil membukukan laba bersih Rp3,29 triliun atau naik 20,4 persen dari Rp2,73 triliun di semester I/2011. Sedangkan, laba bersih Bank Mandiri naik 12,7 persen dari Rp6,3 triliun pada semester I/2011 menjadi Rp7,1 triliun pada periode yang sama tahun ini. Sementara laba bersih BCA tumbuh 10,6 persen menjadi Rp5,3 triliun pada akhir Juni 2012 dibandingkan Rp4,79 triliun di semester I/2011.
Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo mengatakan, kenaikan laba bersih BNI dipicu tumbuhnya pendapatan bunga bersih perseroan sebesar 18,7 persen dari Rp6,087 triliun di semester I/2011 menjadi Rp7,227 triliun pada periode yang sama tahun ini. Sedangkan, pendapatan nonbunga (fee based income) hanya naik 1,1 persen menjadi Rp3,733 triliun pada semester I/2012 dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp3,69 triliun.
”Karena pendapatan nonbunga kita masih kecil, untuk menjaga pertumbuhan laba, maka kita mempertahankan net interest margin (NIM) sekitar 5,89 persen pada semester I/2012,dibandingkan semester I/2011 sebesar 5,43 persen,” ujar Gatot dalam paparan kinerja keuangan BNI semester I/2012 di Jakarta, Senin 30 Juli 2012.
Menurut Gatot, kenaikan pendapatan bunga didorong tumbuhnya penyaluran kredit BNI sebesar 17,4 persen dari Rp152,896 triliun di semester I/2011 menjadi Rp179,441 triliun pada periode yang sama tahun ini.
Kenaikan pinjaman ini terutama didukung kredit konsumer yang naik 30,7 persen, kenaikan pembiayaan syariah 29,4 persen dan pinjaman segmen menengah naik 21,6 persen. Sementara, komposisi pinjaman dari business banking mencapai 71 persen, konsumer dan ritel mencapai 21,6 persen, dan sisanya dari cabang luar negeri sebesar 4 persen serta anak perusahaan sebesar 3,3 persen.
Sementara itu, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengungkapkan, kenaikan laba bersih perseroan didorong naiknya pendapatan bunga bersih sebesar 14,4 persen menjadi Rp9,19 triliun hingga Juni 2012, dari Rp8,031 triliun pada periode yang sama tahun ini.
”Sedangkan, pendapatan nonbunga juga naik 12,1 persen dari Rp3,24 triliun di semester I/2011 menjadi Rp3,633 triliun pada akhir Juni 2012,” jelasnya.
Menurut Jahja,tumbuhnya pendapatan bunga bersih dipicu kenaikan penyaluran kredit perseroan sebesar 41,5 persen menjadi Rp226 triliun pada semester I/2012. Dari jumlah tersebut, kredit konsumer naik lebih dari 50 persen menjadi Rp60 triliun. Ini utamanya didorong oleh portofolio kredit pemilikan rumah (KPR) yang tumbuh 73,5 persen menjadi Rp36,5 triliun.
Selanjutnya kredit kendaraan bermotor tumbuh 24,4 persen menjadi Rp18,1 triliun, kartu kredit meningkat 25,1 persen menjadi Rp5,5 triliun pada akhir Juni 2012,dan kredit korporasi juga tumbuh 42,6 persen menjadi Rp77,3 triliun.
Sedangkan, kredit komersial dan UKM tumbuh 35 persen mencapai Rp88,7 triliun. ”LDR kita 65,5 persen, sedangkan NPL pada level rendah 0,5 persen,” katanya.
Pada semester I/2012 dana pihak ketiga BCA mengalami peningkatan 19,4 persen menjadi Rp341,1 triliun. Komposisinya, tabungan Rp182,3 triliun, giro Rp82,8 triliun, dan deposito Rp76 triliun.
Sementara, Bank Mandiri mencatatkan pertumbuhan kredit 26,6% menjadi Rp350,4 triliun pada semester I/2012. Pencapaian itu mendukung peningkatan total aset BMRI menjadi Rp571,8 triliun, tumbuh 20,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp474,9 triliun.
Direktur Utama BMRI Zulkifli Zaini mengatakan, kinerja positif pada sisi intermediasi tersebut memacu pertumbuhan laba bersih perseroan sebesar 13 persen menjadi Rp7,1 triliun pada semester I/2012 dari periode yang sama tahun lalu Rp6,3 triliun.
”Kualitas aset produktif juga tetap terjaga dengan baik yang terlihat pada rasio kredit bermasalah netto sebesar 0,55 persen,” kata dia.
Dia menyebutkan, penyaluran kredit terjadi di seluruh segmen bisnis. Dengan pertumbuhan tertinggi terutama pada segmen mikro yang tumbuh mencapai 77,2 persen menjadi Rp15,1 triliun pada Juni 2012. Kredit yang tersalurkan untuk segmen usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) mencatat pertumbuhan sebesar 33,6 persen menjadi Rp47,6 triliun.
Sedangkan, penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) hingga Juni 2012 mencapai Rp8,6 triliun. ”BMRI terus menunjukkan pertumbuhan kredit di atas pertumbuhan pasar, khususnya di segmen UMKM. Serta terus meningkat akses masyarakat kepada pembiayaan kredit,” tutur dia.
Analis dari PT Buana Capital, Marolop Alfred Nainggolan, memperkirakan pertumbuhan usaha bank Mandiri pada 2012 bisa tumbuh di atas 30 persen. Indikatornya sudah terlihat dari capaian kuartal I/2012. ”Kredit terus meningkat seiring dengan membaiknya perekonomian masyarakat,” tutur dia.
(gpr)
Lihat Juga :