Intervensi harga daging, Jabar kurangi sapi impor
Senin, 06 Agustus 2012 - 09:20 WIB
Intervensi harga daging, Jabar kurangi sapi impor
A
A
A
Sindonews.com – Dua pekan puasa berjalan, harga daging di Depok tetap tinggi yakni di harga Rp80 ribu per kilogram. Namun harga tersebut bertahan sejak awal puasa hingga saat ini tak lagi mengalami kenaikan.
Salah satunya diungkapkan para pedagang daging sapi di Pasar Agung, Sukmajaya, Depok saat Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan datang berkunjung. Namun, kenaikan harga diprediksi akan melonjak pada H-7 Lebaran.
“Harga daging biasa seperti awal Ramadhan ada yang jual turun Rp75 ribu, beberapa pasar yang lain Rp80 ribu, tentu mau lebaran hukumnya begitu, demand naik supply tetap atau bahkan kurang, pasti harganya,” katanya kepada wartawan di Pasar Agung, Depok, akhir pekan lalu.
Ia meminta kepada para konsumen khususnya ibu rumah tangga agar mencari alternatif pangan substitusi pengganti daging sapi. Yakni seperti ayam potong ataupun ikan yang sama–sama memiliki protein hewani.
“Ibu rumah tangga tak harus paksakan makan daging, yang penting makanan sehat, daging bisa diganti ayam yang harganya masih Rp 40 ribu per ekor, atau ikan, apalagi bagi orang berusia lanjut makan daging harus dihindari,” ungkapnya.
Heryawan memastikan Jawa Barat tak akan menggelar operasi pasar daging sapi sebab Bulog Jawa Barat tak memiliki stok daging sapi. Namun, kata dia, intervensi harga dilakukan dengan cara lain, salah satunya menggiring peternak menjual daging ke Jawa Barat.
“Operasi pasar daging agak sulit karena Bulog tak punya persediaan daging hingga saat ini, kita intervensi cara lain, umpamanya kita dorong pedagang beli dari produsen yang ada, ada peternak yang kita giring untuk jual ke Jawa Barat. Itu akan secara komunal dan makro selesaikan masalah perdagingan,” jelasnya.
Ia pun mengklaim telah mengurangi stok sapi impor dan menaikkan jumlah persediaan sapi lokal. Heryawan juga meminta agar masyarakat serta pemerintah mengawasi peredaran daging sapi untuk mencegahnya dari daging oplosan.
“Impor daging kita kurangi, sesuai dengan permintaan peternak, namun memang berakibat sedikit naik harganya, mudah–mudahan kedepan lebih tertata, impor Australia dikurangi jadi naik harganya. Mencegah daging oplosan para pedagang harus jujur agar tak ada lagi gelonggongan atau oplosan, apalagi dicampur campur celeng, konsumen teliti, Dinas teliti awasi,” tutupnya.
Salah satunya diungkapkan para pedagang daging sapi di Pasar Agung, Sukmajaya, Depok saat Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan datang berkunjung. Namun, kenaikan harga diprediksi akan melonjak pada H-7 Lebaran.
“Harga daging biasa seperti awal Ramadhan ada yang jual turun Rp75 ribu, beberapa pasar yang lain Rp80 ribu, tentu mau lebaran hukumnya begitu, demand naik supply tetap atau bahkan kurang, pasti harganya,” katanya kepada wartawan di Pasar Agung, Depok, akhir pekan lalu.
Ia meminta kepada para konsumen khususnya ibu rumah tangga agar mencari alternatif pangan substitusi pengganti daging sapi. Yakni seperti ayam potong ataupun ikan yang sama–sama memiliki protein hewani.
“Ibu rumah tangga tak harus paksakan makan daging, yang penting makanan sehat, daging bisa diganti ayam yang harganya masih Rp 40 ribu per ekor, atau ikan, apalagi bagi orang berusia lanjut makan daging harus dihindari,” ungkapnya.
Heryawan memastikan Jawa Barat tak akan menggelar operasi pasar daging sapi sebab Bulog Jawa Barat tak memiliki stok daging sapi. Namun, kata dia, intervensi harga dilakukan dengan cara lain, salah satunya menggiring peternak menjual daging ke Jawa Barat.
“Operasi pasar daging agak sulit karena Bulog tak punya persediaan daging hingga saat ini, kita intervensi cara lain, umpamanya kita dorong pedagang beli dari produsen yang ada, ada peternak yang kita giring untuk jual ke Jawa Barat. Itu akan secara komunal dan makro selesaikan masalah perdagingan,” jelasnya.
Ia pun mengklaim telah mengurangi stok sapi impor dan menaikkan jumlah persediaan sapi lokal. Heryawan juga meminta agar masyarakat serta pemerintah mengawasi peredaran daging sapi untuk mencegahnya dari daging oplosan.
“Impor daging kita kurangi, sesuai dengan permintaan peternak, namun memang berakibat sedikit naik harganya, mudah–mudahan kedepan lebih tertata, impor Australia dikurangi jadi naik harganya. Mencegah daging oplosan para pedagang harus jujur agar tak ada lagi gelonggongan atau oplosan, apalagi dicampur campur celeng, konsumen teliti, Dinas teliti awasi,” tutupnya.
(and)
Lihat Juga :