INTA bukukan pendapatan Rp1,6 T
Jum'at, 10 Agustus 2012 - 09:37 WIB
INTA bukukan pendapatan Rp1,6 T
A
A
A
Sindonews.com - Emiten distributor alat berat, PT Intraco Penta Tbk (INTA) pada semester I tahun ini berhasil membukukan pendapatan usaha Rp1,65 triliun, atau meningkat 21,32 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp1,36 triliun.
Direktur INTA Fred L Manibog mengatakan, naiknya pendapatan usaha perseroan ditopang naiknya penjualan dan pembiayaan. ”Penjualan dan pembiayaan selama semester I tahun ini naik menjadi Rp1,44 triliun dan pembiayaan Rp54,65 miliar,” kata dia di Jakarta kemarin.
Fred mengungkapkan,penjualan alat berat perseroan selama enam bulan pertama tahun ini tumbuh 28,57 persen dari semester I tahun lalu senilai Rp1,12 triliun menjadi Rp1,44 triliun pada semester I tahun ini.
Sedangkan, pembiayaan melonjak 274,3 persen menjadi Rp54,65 miliar dari posisi semester I/2011 senilai Rp14,6 miliar. Sementara, pendapatan dari jasa, manufaktur,dan lain-lain mengalami penurunan. Menurut dia, pendapatan dari jasa menurun sekitar 20 persen menjadi Rp141,79 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp177,23 miliar.Adapun, pendapatan dari manufaktur turun 66,16 persen menjadi Rp12,29 miliar dari semester I/2011 senilai Rp36,32 miliar. Sedangkan pendapatan lain-lain menyusut 22,83 persen menjadi Rp4,26 miliar dari semester I tahun lalu Rp5,52 miliar.
Naiknya pendapatan usaha perseroan dalam enam bulan pertama tahun ini seiring naiknya beban pokok pendapatan sebesar 16,38 persen menjadi Rp1,35 triliun dari semester I tahun lalu Rp1,16 triliun. Sementara, laba kotor perseroan tercatat Rp303,68 miliar atau naik 54,84 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp196,12 miliar. Menurut Fred, kenaikan laba kotor yang diikuti naiknya beban penjualan, umum dan administrasi, serta keuangan menyebabkan laba bersih perseroan terkoreksi.
Beban penjualan tercatat naik 36,73 persen menjadi Rp73,45 miliar dibanding semester I tahun lalu Rp53,72 miliar, beban umum dan administrasi meningkat 67,47 persen menjadi Rp77,47 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu Rp46,26 miliar dan beban keuangan bertambah 72,65 persen menjadi Rp46,39 miliar dibanding semester I/2011 senilai Rp26,87 miliar. ”Selain itu, perseroan mengalami kerugian selisih kurs sebesar Rp56,27 miliar dari sebelumnya untung Rp20,81 miliar,”ujar Fred.
Adapun,pendapatanbungadandendaperseroan juga meningkat 109,66 persen menjadi Rp25,18 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu Rp12,01 miliar. Dia mengungkapkan, naiknya beban pokok penjualan dan beban lainnya menyebabkan laba bersih perseroan pada enam bulan pertama tahun ini menurun 45,64 persen menjadi Rp33,32 miliar dari posisi semester I/2011 sebesar Rp61,29 miliar. Turunnya laba bersih menyebabkan laba per saham dasar juga terkoreksi dari Rp30 per lembar saham pada semester I tahun lalu menjadi Rp20 per lembar saham pada semester I tahun ini.
Jumlah liabilitas dan ekuitas perseroan mengalami kenaikan 14,7 persen menjadi Rp4,29 triliun dibanding semester I tahun lalu Rp3,74 triliun. Sedangkan kas dan setara kas akhir tahun menurun menjadi Rp108,1 miliar dari periode yang sama tahun lalu Rp139,3 miliar. Sementara, perseroan pada akhir Juni lalu telah membagikan corporate guaranteemenyusul diperolehnya fasilitas pinjaman dari Bank Mandiri. Pinjaman berupa fasilitas line dan credit (L/C) modal kerja dari Mandiri tersebut dalam denominasi dolar Amerika Serikat sebesar USD251,4 juta dan denominasi rupiah senilai Rp45 miliar.
”Pinjaman ini digunakan perseroan untuk ekspansi Inta dan anak usahanya,” ujar Presiden Direktur INTA Petrus Halim. Guna mengembangkan usahanya, lanjut Petrus,perseroan telah melakukan ekspansi ke bisnis pertambangan melalui konsolidasi sejumlah anak usaha yang bergerak di bidang perdagangan alat berat dan industri pertambangan. Perseroan telah mengefektifkan dua anak usaha baru, yakni PT Inta Resources (IR) yang bergerak di bidang pertambangan.
Perseroan membentuk PT Inta Resources dengan tujuan untuk melengkapi rangkaian solusi total dari INTA Group.Perseroan juga telah mengefektifkan anak usaha lainnya, yakni PT Intraco Penta Wahana (IPW) yang bergerak pada bidang perdagangan alat berat.
Direktur INTA Fred L Manibog mengatakan, naiknya pendapatan usaha perseroan ditopang naiknya penjualan dan pembiayaan. ”Penjualan dan pembiayaan selama semester I tahun ini naik menjadi Rp1,44 triliun dan pembiayaan Rp54,65 miliar,” kata dia di Jakarta kemarin.
Fred mengungkapkan,penjualan alat berat perseroan selama enam bulan pertama tahun ini tumbuh 28,57 persen dari semester I tahun lalu senilai Rp1,12 triliun menjadi Rp1,44 triliun pada semester I tahun ini.
Sedangkan, pembiayaan melonjak 274,3 persen menjadi Rp54,65 miliar dari posisi semester I/2011 senilai Rp14,6 miliar. Sementara, pendapatan dari jasa, manufaktur,dan lain-lain mengalami penurunan. Menurut dia, pendapatan dari jasa menurun sekitar 20 persen menjadi Rp141,79 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp177,23 miliar.Adapun, pendapatan dari manufaktur turun 66,16 persen menjadi Rp12,29 miliar dari semester I/2011 senilai Rp36,32 miliar. Sedangkan pendapatan lain-lain menyusut 22,83 persen menjadi Rp4,26 miliar dari semester I tahun lalu Rp5,52 miliar.
Naiknya pendapatan usaha perseroan dalam enam bulan pertama tahun ini seiring naiknya beban pokok pendapatan sebesar 16,38 persen menjadi Rp1,35 triliun dari semester I tahun lalu Rp1,16 triliun. Sementara, laba kotor perseroan tercatat Rp303,68 miliar atau naik 54,84 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp196,12 miliar. Menurut Fred, kenaikan laba kotor yang diikuti naiknya beban penjualan, umum dan administrasi, serta keuangan menyebabkan laba bersih perseroan terkoreksi.
Beban penjualan tercatat naik 36,73 persen menjadi Rp73,45 miliar dibanding semester I tahun lalu Rp53,72 miliar, beban umum dan administrasi meningkat 67,47 persen menjadi Rp77,47 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu Rp46,26 miliar dan beban keuangan bertambah 72,65 persen menjadi Rp46,39 miliar dibanding semester I/2011 senilai Rp26,87 miliar. ”Selain itu, perseroan mengalami kerugian selisih kurs sebesar Rp56,27 miliar dari sebelumnya untung Rp20,81 miliar,”ujar Fred.
Adapun,pendapatanbungadandendaperseroan juga meningkat 109,66 persen menjadi Rp25,18 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu Rp12,01 miliar. Dia mengungkapkan, naiknya beban pokok penjualan dan beban lainnya menyebabkan laba bersih perseroan pada enam bulan pertama tahun ini menurun 45,64 persen menjadi Rp33,32 miliar dari posisi semester I/2011 sebesar Rp61,29 miliar. Turunnya laba bersih menyebabkan laba per saham dasar juga terkoreksi dari Rp30 per lembar saham pada semester I tahun lalu menjadi Rp20 per lembar saham pada semester I tahun ini.
Jumlah liabilitas dan ekuitas perseroan mengalami kenaikan 14,7 persen menjadi Rp4,29 triliun dibanding semester I tahun lalu Rp3,74 triliun. Sedangkan kas dan setara kas akhir tahun menurun menjadi Rp108,1 miliar dari periode yang sama tahun lalu Rp139,3 miliar. Sementara, perseroan pada akhir Juni lalu telah membagikan corporate guaranteemenyusul diperolehnya fasilitas pinjaman dari Bank Mandiri. Pinjaman berupa fasilitas line dan credit (L/C) modal kerja dari Mandiri tersebut dalam denominasi dolar Amerika Serikat sebesar USD251,4 juta dan denominasi rupiah senilai Rp45 miliar.
”Pinjaman ini digunakan perseroan untuk ekspansi Inta dan anak usahanya,” ujar Presiden Direktur INTA Petrus Halim. Guna mengembangkan usahanya, lanjut Petrus,perseroan telah melakukan ekspansi ke bisnis pertambangan melalui konsolidasi sejumlah anak usaha yang bergerak di bidang perdagangan alat berat dan industri pertambangan. Perseroan telah mengefektifkan dua anak usaha baru, yakni PT Inta Resources (IR) yang bergerak di bidang pertambangan.
Perseroan membentuk PT Inta Resources dengan tujuan untuk melengkapi rangkaian solusi total dari INTA Group.Perseroan juga telah mengefektifkan anak usaha lainnya, yakni PT Intraco Penta Wahana (IPW) yang bergerak pada bidang perdagangan alat berat.
(and)
Lihat Juga :