Tekuni hobi, sukses jalankan bisnis miniatur
Minggu, 12 Agustus 2012 - 16:22 WIB
Tekuni hobi, sukses jalankan bisnis miniatur
A
A
A
BANYAK yang berpendapat bahwa hobi, jika ditekuni, bisa menjadi peluang bisnis yang sangat menjanjikan. Inilah yang kini dirasakan Yeny, perajin miniatur berbahan clay, jenis material menyerupai lilin atau tanah liat.
Bagi perempuan kelahiran Jakarta 17 Mei 1978 silam itu, ketekunannya membentuk dan menjadikan sebuah objek menjadi miniatur yang cantik telah membawanya menuai kesuksesan di dunia bisnis. Yeny kini bahkan bisa memasarkan produk miniatur buatannya ke seluruh wilayah di Indonesia. Membuat kerajinan tangan (handycraft) dari bahan clay memang perlu keahlian khusus.
Diperlukan ketelatenan yang tinggi untuk membuatnya. Apalagi yang dilakukan Yeny adalah menciptakan bentukbentuk berukuran mini sehingga semakin langka orang yang bisa membuatnya. Namun, Yeny membuktikannya dengan berhasil membuat aneka bentuk miniatur benda mulai dari bunga- bungaan hingga miniatur sebuah menu makanan. Kendati kerajinan yang dihasilkannya terbilang rumit, ibu dari dua putra ini ternyata tidak terlalu direpotkan dalam menekuni aktivitas bisnisnya.
Hanya dari sebuah ruangan sederhana di rumahnya di kompleks Taman Mahkota, Rawa Bokor, Cengkareng, Jakarta Barat, Yeny mengubah clay menjadi miniatur berbagai benda yang unik dan menarik. Ratusan jenis benda telah dibuatnya menjadi miniatur, mulai dari bunga, makanan ala hidangan restoran hingga kue atau cake. Berbagai jenis miniatur untuk suvenir juga sudah dibuatnya. “Kalau untuk jenis sudah ratusan yang saya buat menjadi miniatur,” kata Yeny kepada SINDO saat ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu.
Yeny mengakui,menekuni bisnis miniatur yang terbuat dari clay haruslah dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kesabaran dan ketelatenan tingkat tinggi. Selain itu, kerajinan tangan jenis miniatur yang terbuat dari clay juga menuntut ketelitian tinggi. Ini karena tuntunan hasil akhirnya yang harus sama persis dengan bentuk aslinya. Untuk mendapatkan bentuk yang indah, clay harus segera diolah begitu dikeluarkan dari tempat penyimpanan. Pasalnya, jika terlalu lama terkena udara,bahan clayakan mengering dan mengeras. Kalau sudah begitu clay tidak bisa dibentuk lagi.
“Selain ketelitian dan ketelatenan, dibutuhkan kecepatan membuat kalau tidak mau clay-nya mengeras,” ungkapnya. Keberhasilan Yeny membuat berbagai macam kerajinan tangan miniatur dari clay ternyata tidak datang begitu saja.Yeny membutuhkan waktu cukup lama untuk mempelajarinya. ”Ya, tepatnya sejak 2003, setelah dikenalkan oleh teman,”ujar dia mengenang. Sejak itu,Yeny memfokuskan diri membuat miniatur. Selain karena hobi,Yeny juga rela menekuni kerajinan tersebut hingga akhirnya menjadi sarana untuk berwirausaha.
”Ketika dipasarkan ternyata responsnya positif,”tuturnya. Setelah menghasilkan ratusan jenis miniatur benda, pada 2006 Yeny berhasil membuka sebuah toko.Namun, beberapa saat setelah membuka toko, dia melahirkan anak pertama yang diberi nama Ignacia. Karena kerepotan,Yeny memutuskan menutup tokonya yang terletak di ITC Kuningan itu. Saat ini, untuk memasarkan produk miniatur yang dihasilkannya, Yeny memiliki dua toko online yang semua dikerjakannya dari rumah.
Langkah ini untuk menyiasati kesibukan sebagai orang tua yang tidak bisa ditinggalkannya. Beruntung, strateginya tepat karena dengan membuka toko dua online, yakni hanycraft.com dan tokohany.com, produknya jadi bisa beredar di seluruh Indonesia.
Padaawalnya Yeny mengerjakan kerajinan berbahan clay sembari mengisi waktu luang saat masih bekerja di sebuah perusahaan swasta. Namun, lama-kelamaan dia memutuskan keluar dari tempatnya bekerja sekitar tahun 2000-an agar lebih fokus menekuni hobinya.
Selain memproduksi sendiri miniatur clay,Yeny juga kerap menerima anak-anak yang ingin kursus membuat kerajinan tangan dari bahan clay.Perempuan lulusan Institut Bisnis Indonesia (IBI) jurusan komputer tersebut itu mengaku mau mengajari anak-anak dengan senang hati. Dari hasil bagi-bagi ilmu membuat miniatur clay itu, ujar Yeny, sudah ada beberapa anak didiknya yang berhasil hingga membuka toko sendiri. “Biasanya murid-murid saya datang dan belajar di rumah saya,”katanya. Untuk kursus atau privat miniatur clay, kata Yeny, tidaklah sulit.
Dalam satu kali pertemuan bisa dipastikan peserta sudah bisa membuat miniatur.Hanya saja harus ditunjang dengan latihan yang tekun di rumah. “Biasanya satu hari belajar sudah bisa membuat sendiri.Tergantung latihan setelah itu,”katanya. Dalam mengajarkan teknik pembuatan miniatur berbahan clay,Yenytidak tanggung-tanggung karena dia ingin miniatur yang dihasilkan anak didiknya berkualitas baik.Namun,sayangnya untuk mendapatkan kualitas terbaik dia masih harus menggunakan bahan baku clay yang diimpor dari Jepang,Thailand, dan Korea Selatan (Korsel).
Sebenarnya,Yeny pernah mencoba membuat miniatur clay dengan bahan baku lokal.Namun sayang hasilnya tidak maksimal. Karena setelah kering ditemukan retakan-retakan kecil pada miniatur yang sudah jadi. “Sampai sekarang kita masih gunakan clayimpor.Kadang kita impor langsung,”tuturnya. Produk hanycraft,kata Yeny, menggunakan 100 persen clay kualitas terbaik. Dengan desain unik dan artistik, produknya diyakini disukai banyak konsumen.
Hal ini bisa dilihat dari sejumlah testimoni para pelanggannya yang dimuat di website hanycraft dan tokohany.com. “Semua pembuatan produk ditekankan pada kualitas dan keindahan dengan standar yang tinggi pada setiap kreasi,”katanya.
Bagi perempuan kelahiran Jakarta 17 Mei 1978 silam itu, ketekunannya membentuk dan menjadikan sebuah objek menjadi miniatur yang cantik telah membawanya menuai kesuksesan di dunia bisnis. Yeny kini bahkan bisa memasarkan produk miniatur buatannya ke seluruh wilayah di Indonesia. Membuat kerajinan tangan (handycraft) dari bahan clay memang perlu keahlian khusus.
Diperlukan ketelatenan yang tinggi untuk membuatnya. Apalagi yang dilakukan Yeny adalah menciptakan bentukbentuk berukuran mini sehingga semakin langka orang yang bisa membuatnya. Namun, Yeny membuktikannya dengan berhasil membuat aneka bentuk miniatur benda mulai dari bunga- bungaan hingga miniatur sebuah menu makanan. Kendati kerajinan yang dihasilkannya terbilang rumit, ibu dari dua putra ini ternyata tidak terlalu direpotkan dalam menekuni aktivitas bisnisnya.
Hanya dari sebuah ruangan sederhana di rumahnya di kompleks Taman Mahkota, Rawa Bokor, Cengkareng, Jakarta Barat, Yeny mengubah clay menjadi miniatur berbagai benda yang unik dan menarik. Ratusan jenis benda telah dibuatnya menjadi miniatur, mulai dari bunga, makanan ala hidangan restoran hingga kue atau cake. Berbagai jenis miniatur untuk suvenir juga sudah dibuatnya. “Kalau untuk jenis sudah ratusan yang saya buat menjadi miniatur,” kata Yeny kepada SINDO saat ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu.
Yeny mengakui,menekuni bisnis miniatur yang terbuat dari clay haruslah dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kesabaran dan ketelatenan tingkat tinggi. Selain itu, kerajinan tangan jenis miniatur yang terbuat dari clay juga menuntut ketelitian tinggi. Ini karena tuntunan hasil akhirnya yang harus sama persis dengan bentuk aslinya. Untuk mendapatkan bentuk yang indah, clay harus segera diolah begitu dikeluarkan dari tempat penyimpanan. Pasalnya, jika terlalu lama terkena udara,bahan clayakan mengering dan mengeras. Kalau sudah begitu clay tidak bisa dibentuk lagi.
“Selain ketelitian dan ketelatenan, dibutuhkan kecepatan membuat kalau tidak mau clay-nya mengeras,” ungkapnya. Keberhasilan Yeny membuat berbagai macam kerajinan tangan miniatur dari clay ternyata tidak datang begitu saja.Yeny membutuhkan waktu cukup lama untuk mempelajarinya. ”Ya, tepatnya sejak 2003, setelah dikenalkan oleh teman,”ujar dia mengenang. Sejak itu,Yeny memfokuskan diri membuat miniatur. Selain karena hobi,Yeny juga rela menekuni kerajinan tersebut hingga akhirnya menjadi sarana untuk berwirausaha.
”Ketika dipasarkan ternyata responsnya positif,”tuturnya. Setelah menghasilkan ratusan jenis miniatur benda, pada 2006 Yeny berhasil membuka sebuah toko.Namun, beberapa saat setelah membuka toko, dia melahirkan anak pertama yang diberi nama Ignacia. Karena kerepotan,Yeny memutuskan menutup tokonya yang terletak di ITC Kuningan itu. Saat ini, untuk memasarkan produk miniatur yang dihasilkannya, Yeny memiliki dua toko online yang semua dikerjakannya dari rumah.
Langkah ini untuk menyiasati kesibukan sebagai orang tua yang tidak bisa ditinggalkannya. Beruntung, strateginya tepat karena dengan membuka toko dua online, yakni hanycraft.com dan tokohany.com, produknya jadi bisa beredar di seluruh Indonesia.
Padaawalnya Yeny mengerjakan kerajinan berbahan clay sembari mengisi waktu luang saat masih bekerja di sebuah perusahaan swasta. Namun, lama-kelamaan dia memutuskan keluar dari tempatnya bekerja sekitar tahun 2000-an agar lebih fokus menekuni hobinya.
Selain memproduksi sendiri miniatur clay,Yeny juga kerap menerima anak-anak yang ingin kursus membuat kerajinan tangan dari bahan clay.Perempuan lulusan Institut Bisnis Indonesia (IBI) jurusan komputer tersebut itu mengaku mau mengajari anak-anak dengan senang hati. Dari hasil bagi-bagi ilmu membuat miniatur clay itu, ujar Yeny, sudah ada beberapa anak didiknya yang berhasil hingga membuka toko sendiri. “Biasanya murid-murid saya datang dan belajar di rumah saya,”katanya. Untuk kursus atau privat miniatur clay, kata Yeny, tidaklah sulit.
Dalam satu kali pertemuan bisa dipastikan peserta sudah bisa membuat miniatur.Hanya saja harus ditunjang dengan latihan yang tekun di rumah. “Biasanya satu hari belajar sudah bisa membuat sendiri.Tergantung latihan setelah itu,”katanya. Dalam mengajarkan teknik pembuatan miniatur berbahan clay,Yenytidak tanggung-tanggung karena dia ingin miniatur yang dihasilkan anak didiknya berkualitas baik.Namun,sayangnya untuk mendapatkan kualitas terbaik dia masih harus menggunakan bahan baku clay yang diimpor dari Jepang,Thailand, dan Korea Selatan (Korsel).
Sebenarnya,Yeny pernah mencoba membuat miniatur clay dengan bahan baku lokal.Namun sayang hasilnya tidak maksimal. Karena setelah kering ditemukan retakan-retakan kecil pada miniatur yang sudah jadi. “Sampai sekarang kita masih gunakan clayimpor.Kadang kita impor langsung,”tuturnya. Produk hanycraft,kata Yeny, menggunakan 100 persen clay kualitas terbaik. Dengan desain unik dan artistik, produknya diyakini disukai banyak konsumen.
Hal ini bisa dilihat dari sejumlah testimoni para pelanggannya yang dimuat di website hanycraft dan tokohany.com. “Semua pembuatan produk ditekankan pada kualitas dan keindahan dengan standar yang tinggi pada setiap kreasi,”katanya.
(and)
Lihat Juga :