Ekonomi Zona Euro terkontraksi 0,2%
Rabu, 15 Agustus 2012 - 10:30 WIB
Ekonomi Zona Euro terkontraksi 0,2%
A
A
A
Sindonews.com - Perekonomian zona euro pada kuartal II/2012 masih terbebani dampak krisis utang dan upaya penghematan sehingga menyebabkan kontraksi sebesar 0,2 persen.
Pada laporan terbaru yang dirilis kemarin, Badan Statistik Eropa (Eurostat) juga menyata kan bahwa pertumbuhan ekonomi zona euro di kuartal I/2012 direvisi menjadi 0 persen dari sebelumnya minus 0,1 persen.
“Apa yang dilihat hari ini (kemarin) adalah imbas dari adanya pemangkasan anggaran dan tingginya suku bunga dalam imbal hasil utang pemerintah. Ini terus menimbulkan ketidakpastian bagi investor,” kata ekonom ABN AMRO Aline Schuiling dikutip Reuters kemarin.
Pada saat yang sama, Badan Statistik Jerman Destastis kemarin merilis pertumbuhan eko nomi negara itu pada kuartal II/2012 di luar perkiraan naik 0,3 persen dipicu membaiknya ekspor dan meningkatnya permintaan domestik.
Kinerja ekonomi negara dengan perekonomian ter besar di Eropa itu mengalahkan prediksi analis yang mem perkirakan pertumbuhan hanya 0,2 persen. Kendati demikian, pencapaian pada periode April–Juni 2012 itu masih lebih rendah dibanding kuartal sebelum nya yang tumbuh 0,5 persen.
Masih rendahnya pertumbuhan ekonomi Jerman merupakan dampak jangka panjang dari krisis utang zona euro yang menekan hampir seluruh negara di kawasan itu. Beberapa negara bahkan masih ada yang terjerumus ke jurang resesi karena beban utang yang masih tinggi disertai jumlah pengangguran yang terus meningkat.
“Data positif Jerman datang dari belanja konsumen dan perdagangan luar negeri,” ujar badan statistik Jerman Des tatis, dikutip AFP kemarin.
Berdasarkan data awal yang dirilis Destatis, ekspor Jerman tumbuh lebih cepat dibanding impor. Tetapi, sektor belanja publik pemerintah dan belanja swasta masih lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya. “Ekonomi kuartal yang baru berlalu tertolong konsumsi domestik meski investasi menurun,” kata Destatis.
Menurut data Destatis, ekspor Jerman mulai menunjukkan kecepatan dengan tumbuh 4,1 persen pada Mei lalu dan turun 1,5 persen pada bulan selanjutnya.
Penurunan ekspor disebabkan minimnya pengiriman barang ke 16 negara mitra di zona euro. Di sisi impor–yang menjadi indikator konsumsi domestik–pada kuartal II/2012 turun 2,9 persen.
Di bagian lain, Kementerian Perekonomian merilis data bahwa permintaan industri pada kuartal II/2012 melemah dicirikan dengan turunnya pesanan pabrik hingga 1,7 persen khusus di bulan Juni. Sebagai perbandingan, para bulan sebelumnya tingkat pesanan industri hanya turun 0,9 persen.
Selain di Jerman, imbas krisis utang juga berpengaruh pa da pertumbuhan ekonomi Prancis. Kemarin Badan Statistik Prancis INSEE menyatakan, perekonomian negara itu tidak mengalami pertumbuhan alias 0% di kuartal II/2012.
Kendati demikian, hasil tersebut masih lebih baik dibanding prediksi analis yang mem perkirakan Prancis masuk ke jurang resesi.
“Pada estimasi awal, kuartal II pertumbuhan ekonomi kami flat. Ini sejalan dengan perkiraan Bank Sentral Prancis terkait pertumbuhan zona euro yang juga meramalkan masuk resesi,” ujar INSEE.
Sebelumnya badan statistik Eropa Eurostat merilis proyeksi pertumbuhan di kuartal II yakni 0 persen. Hal ini akibat masih beratnya beban ekonomi zona euro akibat krisis utang yang belum juga dapat diselesaikan.
Di antara negara yang terbilang kuat perekonomiannya, baru Italia yang melaporkan pertumbuhan ekonominya terkontraksi 0,7 persen di kuartal II/2012. Isu pertumbuhan ekonomi di Prancis sempat populer saat pemilihan Presiden Mei lalu.
Presiden Prancis terpilih Francois Hollande berjanji mengurangi defisit anggaran yang saat ini mencapai 4,5 persen dari produk domestik bruto menjadi 3 persen pada akhir tahun 2013. Angka tersebut disesuaikan dengan persyaratan batas atas defisit Uni Eropa.
Data pertumbuhan ekonomi Jerman dan Prancis cukup memberikan sentimen positif ke pasar saham Eropa. Pada sesi pembukaan perdagangan kemarin, indeks acuan DAX 30 di Frankfurt menguat 0,80 persen, CAC 40 naik 0,56 persen, dan FTSE 100 di London menguat 0,04.
Pada laporan terbaru yang dirilis kemarin, Badan Statistik Eropa (Eurostat) juga menyata kan bahwa pertumbuhan ekonomi zona euro di kuartal I/2012 direvisi menjadi 0 persen dari sebelumnya minus 0,1 persen.
“Apa yang dilihat hari ini (kemarin) adalah imbas dari adanya pemangkasan anggaran dan tingginya suku bunga dalam imbal hasil utang pemerintah. Ini terus menimbulkan ketidakpastian bagi investor,” kata ekonom ABN AMRO Aline Schuiling dikutip Reuters kemarin.
Pada saat yang sama, Badan Statistik Jerman Destastis kemarin merilis pertumbuhan eko nomi negara itu pada kuartal II/2012 di luar perkiraan naik 0,3 persen dipicu membaiknya ekspor dan meningkatnya permintaan domestik.
Kinerja ekonomi negara dengan perekonomian ter besar di Eropa itu mengalahkan prediksi analis yang mem perkirakan pertumbuhan hanya 0,2 persen. Kendati demikian, pencapaian pada periode April–Juni 2012 itu masih lebih rendah dibanding kuartal sebelum nya yang tumbuh 0,5 persen.
Masih rendahnya pertumbuhan ekonomi Jerman merupakan dampak jangka panjang dari krisis utang zona euro yang menekan hampir seluruh negara di kawasan itu. Beberapa negara bahkan masih ada yang terjerumus ke jurang resesi karena beban utang yang masih tinggi disertai jumlah pengangguran yang terus meningkat.
“Data positif Jerman datang dari belanja konsumen dan perdagangan luar negeri,” ujar badan statistik Jerman Des tatis, dikutip AFP kemarin.
Berdasarkan data awal yang dirilis Destatis, ekspor Jerman tumbuh lebih cepat dibanding impor. Tetapi, sektor belanja publik pemerintah dan belanja swasta masih lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya. “Ekonomi kuartal yang baru berlalu tertolong konsumsi domestik meski investasi menurun,” kata Destatis.
Menurut data Destatis, ekspor Jerman mulai menunjukkan kecepatan dengan tumbuh 4,1 persen pada Mei lalu dan turun 1,5 persen pada bulan selanjutnya.
Penurunan ekspor disebabkan minimnya pengiriman barang ke 16 negara mitra di zona euro. Di sisi impor–yang menjadi indikator konsumsi domestik–pada kuartal II/2012 turun 2,9 persen.
Di bagian lain, Kementerian Perekonomian merilis data bahwa permintaan industri pada kuartal II/2012 melemah dicirikan dengan turunnya pesanan pabrik hingga 1,7 persen khusus di bulan Juni. Sebagai perbandingan, para bulan sebelumnya tingkat pesanan industri hanya turun 0,9 persen.
Selain di Jerman, imbas krisis utang juga berpengaruh pa da pertumbuhan ekonomi Prancis. Kemarin Badan Statistik Prancis INSEE menyatakan, perekonomian negara itu tidak mengalami pertumbuhan alias 0% di kuartal II/2012.
Kendati demikian, hasil tersebut masih lebih baik dibanding prediksi analis yang mem perkirakan Prancis masuk ke jurang resesi.
“Pada estimasi awal, kuartal II pertumbuhan ekonomi kami flat. Ini sejalan dengan perkiraan Bank Sentral Prancis terkait pertumbuhan zona euro yang juga meramalkan masuk resesi,” ujar INSEE.
Sebelumnya badan statistik Eropa Eurostat merilis proyeksi pertumbuhan di kuartal II yakni 0 persen. Hal ini akibat masih beratnya beban ekonomi zona euro akibat krisis utang yang belum juga dapat diselesaikan.
Di antara negara yang terbilang kuat perekonomiannya, baru Italia yang melaporkan pertumbuhan ekonominya terkontraksi 0,7 persen di kuartal II/2012. Isu pertumbuhan ekonomi di Prancis sempat populer saat pemilihan Presiden Mei lalu.
Presiden Prancis terpilih Francois Hollande berjanji mengurangi defisit anggaran yang saat ini mencapai 4,5 persen dari produk domestik bruto menjadi 3 persen pada akhir tahun 2013. Angka tersebut disesuaikan dengan persyaratan batas atas defisit Uni Eropa.
Data pertumbuhan ekonomi Jerman dan Prancis cukup memberikan sentimen positif ke pasar saham Eropa. Pada sesi pembukaan perdagangan kemarin, indeks acuan DAX 30 di Frankfurt menguat 0,80 persen, CAC 40 naik 0,56 persen, dan FTSE 100 di London menguat 0,04.
(gpr)
Lihat Juga :