Akhirnya, izin EPC-5 Blok Cepu terbit
Kamis, 16 Agustus 2012 - 19:09 WIB
Akhirnya, izin EPC-5 Blok Cepu terbit
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Daerah Kabupaten Bojonegoro akhirnya menerbitkan izin untuk pembangunan 7 fasilitas operasi produksi engineering, procurement and construction (EPC-5) dari proyek pengembangan penuh Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu.
"Ijin Prinsip 7 IMB EPC-5 telah ditandatangani oleh Bupati Bojonegoro, Suyoto. Perwakilan Jabanusa akan segera ke Bojonegoro untuk mengambil surat ijin prinsip tersebut," ujar Kepala Perwakilan BP Migas wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Elan Biantoro kepada wartawan di Jakarta, Kamis (16/8/2012).
Dengan adanya izin tersebut, dipastikan proyek tersebut akan selesai sesuai target, yakni di bulan Mei 2014.
"Pengaruhnya untuk produksi saat ini secara langsung tidak ada, tapi pengaruh terhadap tenggat waktu selesainya proyek sangat berpengaruh, dimana jika proyek on the track schedule-nya, mulai Mei 2014 produksi lapangan Cepu akan naik jadi 90.000 barel oil per day (bopd) dan puncaknya di November 2014 menjadi 165.000 bopd," paparnya.
Sebelumnya, Wakil Kepala BP Migas, J. Widjanarko mengatakan dengan adanya kepastian akan diterbitkannya Izin Mendirikan Bangunan (IMB) tersebut maka seluruh izin yang diperlukan untuk proyek pengembangan penuh lapangan Banyu Urip telah terpenuhi semua.
Pemerintah Daerah Bojonegoro menyampaikan bahwa hal utama yang mereka inginkan adalah kehadiran proyek tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Bodjonegoro.
"Bahwa pembangunan fasilitas operasi produksi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari operasi Mobil Cepu Ltd selaku operator Lapangan Banyu Urip," ungkap Widjanarko.
Sementara itu, Kepala Dinas Hubungan Kemasyarakatan dan Kelembagaan BP Migas, Rinto Pudyantoro menambahkan dalam rangka mendukung pemberdayaan masyarakat di sekitar daerah operasi tersebut akan dibuatkan sarana penunjang operasi di luar namun berdekatan dengan daerah operasi berupa fasilitas penunjang.
"Yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, seperti klinik, fasilitas olahraga dan fasilitas lain yang akan dibahas lebih lanjut secara lebih teknis. Ini merupakan salah satu bentuk manfaat kehadiran proyek cepu bagi masyarakat sekitar," kata Rinto.
Lapangan Banyu Urip merupakan proyek minyak yang diharapkan bisa meningkatkan produksi minyak nasional. Dengan cadangan sekitar 450 juta barel minyak, Banyu Urip merupakan lapangan dengan cadangan minyak terbesar yang masih belum tereksploitasi. Saat ini, produksi minyak Banyu Urip berada di kisaran 20.000 barel per hari. Angka ini diharapkan akan mencapai 165.000 barel per hari saat fasilitas pengembangan penuh selesai dibangun.
Pembangunan fasilitas produksi penuh Lapangan Banyu Urip merupakan pekerjaan besar dengan kompleksitas yang tinggi. Fasilitas tersebut mencakup 49 sumur yang terhubung pada tiga anjungan; sebuah fasilitas pusat pengolahan; pipa sepanjang 95 kilometer untuk mengalirkan minyak ke fasilitas penyimpanan dan alir-muat terapung (Floating Storage and Offloading/FSO) bermuatan minimal 1,7 juta barel, dan kapal tanker yang akan mengangkut minyak dari FSO tersebut.
Pekerjaan ini dibagi kedalam lima kontrak EPC dengan total nilai kontrak sekitar US$1,3 miliar. Kelima kontrak tersebut adalah kontrak fasilitas proses produksi (EPC1), kontrak jalur pipa darat berdiameter 20 inci sepanjang 72 kilometer (EPC2), kontrak jalur pipa laut dan menara tambat (EPC3), kontrak fasilitas penyimpanan dan alirmuat terapung (EPC4), dan kontrak fasilitas infrastruktur dan waduk penampung air injeksi (EPC5). Semua kontrak sudah ditandatangani.
"Ijin Prinsip 7 IMB EPC-5 telah ditandatangani oleh Bupati Bojonegoro, Suyoto. Perwakilan Jabanusa akan segera ke Bojonegoro untuk mengambil surat ijin prinsip tersebut," ujar Kepala Perwakilan BP Migas wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Elan Biantoro kepada wartawan di Jakarta, Kamis (16/8/2012).
Dengan adanya izin tersebut, dipastikan proyek tersebut akan selesai sesuai target, yakni di bulan Mei 2014.
"Pengaruhnya untuk produksi saat ini secara langsung tidak ada, tapi pengaruh terhadap tenggat waktu selesainya proyek sangat berpengaruh, dimana jika proyek on the track schedule-nya, mulai Mei 2014 produksi lapangan Cepu akan naik jadi 90.000 barel oil per day (bopd) dan puncaknya di November 2014 menjadi 165.000 bopd," paparnya.
Sebelumnya, Wakil Kepala BP Migas, J. Widjanarko mengatakan dengan adanya kepastian akan diterbitkannya Izin Mendirikan Bangunan (IMB) tersebut maka seluruh izin yang diperlukan untuk proyek pengembangan penuh lapangan Banyu Urip telah terpenuhi semua.
Pemerintah Daerah Bojonegoro menyampaikan bahwa hal utama yang mereka inginkan adalah kehadiran proyek tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Bodjonegoro.
"Bahwa pembangunan fasilitas operasi produksi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari operasi Mobil Cepu Ltd selaku operator Lapangan Banyu Urip," ungkap Widjanarko.
Sementara itu, Kepala Dinas Hubungan Kemasyarakatan dan Kelembagaan BP Migas, Rinto Pudyantoro menambahkan dalam rangka mendukung pemberdayaan masyarakat di sekitar daerah operasi tersebut akan dibuatkan sarana penunjang operasi di luar namun berdekatan dengan daerah operasi berupa fasilitas penunjang.
"Yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, seperti klinik, fasilitas olahraga dan fasilitas lain yang akan dibahas lebih lanjut secara lebih teknis. Ini merupakan salah satu bentuk manfaat kehadiran proyek cepu bagi masyarakat sekitar," kata Rinto.
Lapangan Banyu Urip merupakan proyek minyak yang diharapkan bisa meningkatkan produksi minyak nasional. Dengan cadangan sekitar 450 juta barel minyak, Banyu Urip merupakan lapangan dengan cadangan minyak terbesar yang masih belum tereksploitasi. Saat ini, produksi minyak Banyu Urip berada di kisaran 20.000 barel per hari. Angka ini diharapkan akan mencapai 165.000 barel per hari saat fasilitas pengembangan penuh selesai dibangun.
Pembangunan fasilitas produksi penuh Lapangan Banyu Urip merupakan pekerjaan besar dengan kompleksitas yang tinggi. Fasilitas tersebut mencakup 49 sumur yang terhubung pada tiga anjungan; sebuah fasilitas pusat pengolahan; pipa sepanjang 95 kilometer untuk mengalirkan minyak ke fasilitas penyimpanan dan alir-muat terapung (Floating Storage and Offloading/FSO) bermuatan minimal 1,7 juta barel, dan kapal tanker yang akan mengangkut minyak dari FSO tersebut.
Pekerjaan ini dibagi kedalam lima kontrak EPC dengan total nilai kontrak sekitar US$1,3 miliar. Kelima kontrak tersebut adalah kontrak fasilitas proses produksi (EPC1), kontrak jalur pipa darat berdiameter 20 inci sepanjang 72 kilometer (EPC2), kontrak jalur pipa laut dan menara tambat (EPC3), kontrak fasilitas penyimpanan dan alirmuat terapung (EPC4), dan kontrak fasilitas infrastruktur dan waduk penampung air injeksi (EPC5). Semua kontrak sudah ditandatangani.
(gpr)
Lihat Juga :