Emiten properti prospektif
Jum'at, 24 Agustus 2012 - 10:28 WIB
Emiten properti prospektif
A
A
A
Sindonews.com – Kinerja perusahaan terbuka yang bergerak pada sektor properti hingga akhir tahun diyakini masih prospektif.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia per awal Agustus 2012, 39 emiten properti telah menyampaikan laporan keuangan semester I/2012 dan membukukan total pendapatan Rp20,18 triliun, tumbuh 37,3 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Analis Sinarmas Sekuritas, Jef Tan mengatakan, besar kemungkinan capaian emiten properti pada semester I/2012 akan terus berlanjut di semester II/2012.
Indikatornya terlihat dari terus naiknya permintaan properti serta pertumbuhan ekonomi nasional yang semakin membaik.“Saya perkirakan emiten sektor properti bisa menjadi katalisator bagi pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tahun ini,” tutur dia saat dihubungi SINDO kemarin.
Dia menyebutkan terus membaiknya pendapatan masyarakat menyebabkan permintaan properti semakin meningkat. Baik itu landed house, apartemen ataupun kawasan niaga modern.“Serta semakin ekspansif memperluas land bank yang dimiliki sekaligus melakukan diversifikasi proyeknya,” paparnya.
Senior Associate Director Knight Frank Indonesia Fakky Hidayat memperkirakan, dengan mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di kisaran enam persen, politik stabil, pasokan properti mewah terbatas, dan meningkatnya jumlah pertumbuhan orang kaya Indonesia, harga rata-rata properti masih akan meningkat dengan kenaikan rata-rata mencapai sebesar 15-20 persen selama semester II. Dia menyebutkan, dampak pengaruh krisis ekonomi global dan penerapan pelaporan transaksi properti di atas Rp500 juta terhadap permintaan properti mewah kemungkinan tidak terlalu signifikan.
Faktor terbatasnya penawaran dan harga lahan yang semakin meningkat telah memicu lonjakan harga di samping tingginya permintaan konsumen untuk berinvestasi di sektor properti.“Pasar properti di Indonesia masih positif dan kondusif meskipun gejolak krisis keuangan zona Eropa dan perlambatan ekonomi Amerika,”tutur dia dalam risetnya.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per awal Agustus 2012,beberapa emiten properti berpendapatan tertinggi, yakni PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) yang membukukan pendapatan Rp2,4 triliun, PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) Rp2,31 triliun,PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) Rp1,60 triliun,PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) Rp1,51 triliun, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) Rp1,31 triliun,dan PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) Rp1,11 triliun.
Emiten properti yang melantai di BEI berjumlah 44 emiten. Dari jumlah itu,per awal Agustus 39 emiten sudah menyampaikan laporan keuangan.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia per awal Agustus 2012, 39 emiten properti telah menyampaikan laporan keuangan semester I/2012 dan membukukan total pendapatan Rp20,18 triliun, tumbuh 37,3 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Analis Sinarmas Sekuritas, Jef Tan mengatakan, besar kemungkinan capaian emiten properti pada semester I/2012 akan terus berlanjut di semester II/2012.
Indikatornya terlihat dari terus naiknya permintaan properti serta pertumbuhan ekonomi nasional yang semakin membaik.“Saya perkirakan emiten sektor properti bisa menjadi katalisator bagi pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tahun ini,” tutur dia saat dihubungi SINDO kemarin.
Dia menyebutkan terus membaiknya pendapatan masyarakat menyebabkan permintaan properti semakin meningkat. Baik itu landed house, apartemen ataupun kawasan niaga modern.“Serta semakin ekspansif memperluas land bank yang dimiliki sekaligus melakukan diversifikasi proyeknya,” paparnya.
Senior Associate Director Knight Frank Indonesia Fakky Hidayat memperkirakan, dengan mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di kisaran enam persen, politik stabil, pasokan properti mewah terbatas, dan meningkatnya jumlah pertumbuhan orang kaya Indonesia, harga rata-rata properti masih akan meningkat dengan kenaikan rata-rata mencapai sebesar 15-20 persen selama semester II. Dia menyebutkan, dampak pengaruh krisis ekonomi global dan penerapan pelaporan transaksi properti di atas Rp500 juta terhadap permintaan properti mewah kemungkinan tidak terlalu signifikan.
Faktor terbatasnya penawaran dan harga lahan yang semakin meningkat telah memicu lonjakan harga di samping tingginya permintaan konsumen untuk berinvestasi di sektor properti.“Pasar properti di Indonesia masih positif dan kondusif meskipun gejolak krisis keuangan zona Eropa dan perlambatan ekonomi Amerika,”tutur dia dalam risetnya.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per awal Agustus 2012,beberapa emiten properti berpendapatan tertinggi, yakni PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) yang membukukan pendapatan Rp2,4 triliun, PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) Rp2,31 triliun,PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) Rp1,60 triliun,PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) Rp1,51 triliun, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) Rp1,31 triliun,dan PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) Rp1,11 triliun.
Emiten properti yang melantai di BEI berjumlah 44 emiten. Dari jumlah itu,per awal Agustus 39 emiten sudah menyampaikan laporan keuangan.
(and)
Lihat Juga :