Kuota BBM ditambah 4 juta KL, beban fiskal bengkak Rp12 T
Kamis, 06 September 2012 - 19:08 WIB
Kuota BBM ditambah 4 juta KL, beban fiskal bengkak Rp12 T
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah mengaku telah memperhitungkan akibat dari penambahan kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebanyak 4 juta kilo liter (KL) hingga akhir tahun. Proyeksi pemerintah dengan menambah kuota BBM sebanyak 4 juta kiloliter (kl) akan diikuti penambahan beban fiskal negara sebesar Rp12 triliun.
Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi beban fiskal yang ditimbulkan per 1 juta KL-nya mencapai Rp3 triliun. "Sudah tercover seperti tadi Rp 12 triliun dari segi volume. Kita sudah menghitung outlook dari segi kurs, ICP dan volume," terang Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Bambang Brodjonegoro saat ditemui di gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (6/9/2012).
Sementara itu, Bambang juga menggaris bawahi penambahan kuota tersebut masih tergolong aman, asalkan devisit yang ditimbulkan tidak lebih dari angka 2,3 persen. "Sudah kita hitung. Yang penting defisitnya tidak lewat 2,3 persen. Bahkan di skenario terburuk," tutupnya.
Sebelumnya, pemerintah memastikan akan mengajukan penambahan kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar 4 juta Kiloliter (KL). Hal ini seiring dengan prediksi habisnya BBM pada November mendatang.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini mengatakan, surat pengajuan tersebut sudah diajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Namun, hingga sekarang, Komisi VII DPR belum mengagendakan untuk Rapat Kerja bersama Kementerian ESDM.
Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi beban fiskal yang ditimbulkan per 1 juta KL-nya mencapai Rp3 triliun. "Sudah tercover seperti tadi Rp 12 triliun dari segi volume. Kita sudah menghitung outlook dari segi kurs, ICP dan volume," terang Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Bambang Brodjonegoro saat ditemui di gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (6/9/2012).
Sementara itu, Bambang juga menggaris bawahi penambahan kuota tersebut masih tergolong aman, asalkan devisit yang ditimbulkan tidak lebih dari angka 2,3 persen. "Sudah kita hitung. Yang penting defisitnya tidak lewat 2,3 persen. Bahkan di skenario terburuk," tutupnya.
Sebelumnya, pemerintah memastikan akan mengajukan penambahan kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar 4 juta Kiloliter (KL). Hal ini seiring dengan prediksi habisnya BBM pada November mendatang.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini mengatakan, surat pengajuan tersebut sudah diajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Namun, hingga sekarang, Komisi VII DPR belum mengagendakan untuk Rapat Kerja bersama Kementerian ESDM.
(gpr)
Lihat Juga :