Paket wisata mahal, wisatawan manca DIY turun
Kamis, 13 September 2012 - 08:00 WIB
Paket wisata mahal, wisatawan manca DIY turun
A
A
A
Sindonews.com - Jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Yogyakarta cenderung menurun. Mahalnya paket wisata ke Yogyakarta dari luar negeri, ditengarai menjadi pemicunya. Banyak calon wisatawan memilih ke Bali dan Bandung yang harganya jauh lebih murah.
Ketua Association of the Indonesia Tours and Travel (ASITA) DIY Edwin Ismedi Himna, mengatakan belakangan ini jumlah wisatawan yang datang terus mengalami penurunan. Misalnya dari Malaysia, pada era 2008 lalu, mencapai 3.000 orang per tahun. Namun saat ini hanya sekitar 1.000 orang saja. “Paket wisata ke Yogyakarta lebih mahal dari paket wisata ke Bandung dan Bali,” jelasnya di tengah peninjauan ke Rich Hotel Yogyakarta, kemarin.
Selama ini paket wisata dari Negeri Jiran ke Yogyakarta harganya dipatok 1.280 Ringgit Malaysia. Paket ini berlaku untuk satu orang
dengan selama 3 hari 3 malam. Harga ini jauh di bawah paket yang ditawarkan ke Bali, yang hanya 888 Ringgit Malaysia saja. Padahal
dengan harga tersebut wisatawan bisa tinggal selama 4 hari 4 malam. “Kita juga kalah dalam inovasi lokasi wisata,” tuturnya.
Dicontohkannya, selama ini wisata ke Yogyakarta masih mengandalkan keraton, Malioboro, dan wisata religi ke Prambanan atau Borobudur.
Wisata seperti ini kurang diminati oleh wisatawan asal Negeri Jiran. Mereka lebih tertarik untuk melakukan wisata belanja seperti di
Bandung. Apalagi transaksi bisa dilakukan dengan menggunakan uang ringgit.
Menurutnya, Yogyakarta juga kurang dalam inovasi lokasi wisata yang baru. Selama ini wisata budaya hanya mengandalkan Ramayana Balet saja. Padahal di bandung sudah ada wahana permainan baru seperti Transtudio.
Ketua Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta, Deddy Parnowo Eryono mengaku mahalnya paket wisata ke Yogyakarta ini akibat kenaikan harga tiket masuk di Candi Prambanan, Boko dan Borobudur. Wisatawan candi merupakan paket wisata yang wajib untuk dikunjungi bagi wisatawan asing. “Tiket ke Taman wisata Candi sejak Juli sudah naik menjadi USD25,” jelasnya.
Deddy yang juga menjabat sebagai sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY ini berharap pengelola taman wisata meninjau kembali kenaikan harga tiket. Sebab jika tidak satu-satu upaya menurunkan harga paket dengan menghilangkan paket ke Candi. Selain itu perlu ada perbaikan infrastruktur pendukung dalam mendongkrak pariwisata. “Kalau tariff hotelnya, tidak masalah hampir sama dengan kota lain,” tuturnya.
Ketua Association of the Indonesia Tours and Travel (ASITA) DIY Edwin Ismedi Himna, mengatakan belakangan ini jumlah wisatawan yang datang terus mengalami penurunan. Misalnya dari Malaysia, pada era 2008 lalu, mencapai 3.000 orang per tahun. Namun saat ini hanya sekitar 1.000 orang saja. “Paket wisata ke Yogyakarta lebih mahal dari paket wisata ke Bandung dan Bali,” jelasnya di tengah peninjauan ke Rich Hotel Yogyakarta, kemarin.
Selama ini paket wisata dari Negeri Jiran ke Yogyakarta harganya dipatok 1.280 Ringgit Malaysia. Paket ini berlaku untuk satu orang
dengan selama 3 hari 3 malam. Harga ini jauh di bawah paket yang ditawarkan ke Bali, yang hanya 888 Ringgit Malaysia saja. Padahal
dengan harga tersebut wisatawan bisa tinggal selama 4 hari 4 malam. “Kita juga kalah dalam inovasi lokasi wisata,” tuturnya.
Dicontohkannya, selama ini wisata ke Yogyakarta masih mengandalkan keraton, Malioboro, dan wisata religi ke Prambanan atau Borobudur.
Wisata seperti ini kurang diminati oleh wisatawan asal Negeri Jiran. Mereka lebih tertarik untuk melakukan wisata belanja seperti di
Bandung. Apalagi transaksi bisa dilakukan dengan menggunakan uang ringgit.
Menurutnya, Yogyakarta juga kurang dalam inovasi lokasi wisata yang baru. Selama ini wisata budaya hanya mengandalkan Ramayana Balet saja. Padahal di bandung sudah ada wahana permainan baru seperti Transtudio.
Ketua Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta, Deddy Parnowo Eryono mengaku mahalnya paket wisata ke Yogyakarta ini akibat kenaikan harga tiket masuk di Candi Prambanan, Boko dan Borobudur. Wisatawan candi merupakan paket wisata yang wajib untuk dikunjungi bagi wisatawan asing. “Tiket ke Taman wisata Candi sejak Juli sudah naik menjadi USD25,” jelasnya.
Deddy yang juga menjabat sebagai sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY ini berharap pengelola taman wisata meninjau kembali kenaikan harga tiket. Sebab jika tidak satu-satu upaya menurunkan harga paket dengan menghilangkan paket ke Candi. Selain itu perlu ada perbaikan infrastruktur pendukung dalam mendongkrak pariwisata. “Kalau tariff hotelnya, tidak masalah hampir sama dengan kota lain,” tuturnya.
(gpr)
Lihat Juga :