Jero Wacik: Indonesia butuh EBT
Rabu, 03 Oktober 2012 - 20:38 WIB
Jero Wacik: Indonesia butuh EBT
A
A
A
Sindonews.com - Indonesia membutuhkan energi baru dan terbarukan (EBT) untuk mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM). Banyak potensi EBT yang bisa dikembangkan, untuk menggantikan peran BBM. Energi Geothermal, merupakan potensi yang cukup besar, yang harus dikembangkan di masyarakat.
“EBT merupakan strategi untuk mengurangi beban subsidi tanpa menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) atau mengurangi subsidi Negara,” jelas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik ketika menjadi pembicara pada Rapimnas Kamar dagang dan Industri (Kadin) di Yogyakarta, Rabu (3/10/2012).
Menurutnya, subsidi BBM sebesar Rp300 triliun banyak yang tidak tepat sasaran. Semestinya subsidi ini diberikan kepada masyarakat miskin yang membutuhkan. Kenyataannya banyak pengusaha yang ikut menikmati subsidi ini dengan tetap membeli premium. Bahkan dari penelitian yang ada sekitar 77 persen subsidi ini banyak dinikmati para pengusaha.
Alternatif untuk mengurangi subsidi ini sebenarnya telah dilakukan dengan cara menaikkan harga jual. Kenyataan yang ada banyak aksi penyelundupan BBM yang terbilang murah. Untuk itulah perlu harus dilakukan pengembangan energi yang lain. Seperti tenaga air (mikrohidro), Geotermal, bimassa maupun tenaga surya dan angin.
“Kebutuhan energi ini terus meningkat, makanya nanti tidak ada lagi pembangkit yang menggunakan bahan bakar minyak,” tuturnya.
Menurut Jero, salah satu EBT yang sangat prospektif adalah panas bumi. Indonesia memiliki 40 persen cadangan panas bumi dunia, sekitar 29.000 megawatt (MW). Namun yang sekarang dimanfaatkan baru sekitar 5 persen dari potensi yang ada. Pemerintah menargetkan dalam 2-3 tahun ke depan bisa mengerjakan 20 persen potensi panas bumi atau setara 5.600 MW.
Untuk mendorong pengembangan energi panas bumi, pemerintah menerbitkan feed-in tariff (harga jual listrik) yang kompetitif, serta menjalin nota kesepahaman dengan Kementerian Kehutanan. Namun hal ini terkendala harga tanah dan lahan, karena kebanyakan terletak di hutan. ‘ "Saya sedang menyiapkan Permen feed-in tariff untuk EBT selain geothermal,” ujarnya.
“EBT merupakan strategi untuk mengurangi beban subsidi tanpa menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) atau mengurangi subsidi Negara,” jelas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik ketika menjadi pembicara pada Rapimnas Kamar dagang dan Industri (Kadin) di Yogyakarta, Rabu (3/10/2012).
Menurutnya, subsidi BBM sebesar Rp300 triliun banyak yang tidak tepat sasaran. Semestinya subsidi ini diberikan kepada masyarakat miskin yang membutuhkan. Kenyataannya banyak pengusaha yang ikut menikmati subsidi ini dengan tetap membeli premium. Bahkan dari penelitian yang ada sekitar 77 persen subsidi ini banyak dinikmati para pengusaha.
Alternatif untuk mengurangi subsidi ini sebenarnya telah dilakukan dengan cara menaikkan harga jual. Kenyataan yang ada banyak aksi penyelundupan BBM yang terbilang murah. Untuk itulah perlu harus dilakukan pengembangan energi yang lain. Seperti tenaga air (mikrohidro), Geotermal, bimassa maupun tenaga surya dan angin.
“Kebutuhan energi ini terus meningkat, makanya nanti tidak ada lagi pembangkit yang menggunakan bahan bakar minyak,” tuturnya.
Menurut Jero, salah satu EBT yang sangat prospektif adalah panas bumi. Indonesia memiliki 40 persen cadangan panas bumi dunia, sekitar 29.000 megawatt (MW). Namun yang sekarang dimanfaatkan baru sekitar 5 persen dari potensi yang ada. Pemerintah menargetkan dalam 2-3 tahun ke depan bisa mengerjakan 20 persen potensi panas bumi atau setara 5.600 MW.
Untuk mendorong pengembangan energi panas bumi, pemerintah menerbitkan feed-in tariff (harga jual listrik) yang kompetitif, serta menjalin nota kesepahaman dengan Kementerian Kehutanan. Namun hal ini terkendala harga tanah dan lahan, karena kebanyakan terletak di hutan. ‘ "Saya sedang menyiapkan Permen feed-in tariff untuk EBT selain geothermal,” ujarnya.
(gpr)
Lihat Juga :