Industri TPT cemaskan bahan baku
Jum'at, 05 Oktober 2012 - 10:20 WIB
Industri TPT cemaskan bahan baku
A
A
A
Sindonews.com – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) mengkhawatirkan efek kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) akan dua kali memukul sektor ini. Sebab, kenaikan itu juga bakal mendongkrak harga bahan baku.
Seperti diketahui, industri TPT sebelumnya mengeluhkan rencana kenaikan TTL pada 2013 karena diyakini akan menggelembungkan biaya produksi. Porsi untuk listrik di struktur biaya produksi industri ini disebut cukup besar, mencapai 20 persen.
Sementara, ujar Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Synthetic Fiber Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta, porsi biaya energi di sektor produksi serat buatan dan benang filamen yang merupakan bahan baku industri TPT juga cukup besar, mencapai 15–20 persen.
Efek dari kenaikan bahan baku, tegas dia, akan berlanjut hingga ke hilir. “Di sisi lain, bahan baku (serat dan benang filamen) yaitu purified thereptalat acid (PTA) juga bakal naik. Pasalnya, Asia Pasifik saat ini cenderung defisit karena China masih defisit sekitar 3 juta ton,jadi kita tidak akan punya pilihan impor ketika harga PTA dalam negeri lebih mahal karena kenaikan TTL ini,” kata Redma di Jakarta kemarin.
Apabila PTA naik 5 persen, jelas dia, maka harga serat akan lebih mahal sekitar 10 persen,benang 15 persen, kain 20 persen dan garmen 25 persen dari harga rata-rata dunia. Dengan kondisi pasar seperti saat ini,imbuhnya,dapat dipastikan kenaikan itu akan semakin menggerus ekspor.
“Sementara impor barang jadi akan naik sehingga kemungkinan sektor tekstil dan produk tekstil tahun depan akan mengalami defisit perdagangan” paparnya.
Redma mengatakan,berdasarkan data Bank Indonesia (BI),hingga bulan Juli tahun ini sektor TPT masih memberikan kontribusi surplus perdagangan sebesar USD3,4 miliar, di saat secara keseluruhan sektor industri di luar migas dan tambang mengalami defisit USD14,03 miliar. Biasanya, imbuh dia, sektor TPT bahkan selalu menyumbangkan devisa bersih lebih dari USD6 miliar.
“Posisi perdagangan seperti ini di mana industri mengalami defisit perdagangan adalah pertama kali dalam sejarah, jika ditambah dengan defisit sektor jasa yang sekitar USD12 miliar, maka neraca pembayaran kita akan terancam defisit,” jelasnya.
Redma menilai, kenaikan TTL adalah kebijakan blunder, terlebih apabila beban terbesar dibebankan kepada sektor industri. Apabila pemerintah mau menyelamatkan neraca pembayaran, lanjutnya, yang harus digenjot adalah ekspor dengan cara memperkuat sektor industri.
Penguatan sektor industri, tegas dia, sangat penting, terlebih lagi dalam kondisi pasar dunia yang tengah lesu. “Jika permasalahannya adalah (bengkaknya) subsidi di APBN,maka memangkas subsidi bahan bakar minyak (BBM) akan lebih efisien bagi perekonomian dibanding memangkas subsidi listrik,” cetusnya.
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat Usman sebelumnya mengatakan, kenaikan TTL akan terus menggerus daya saing industri TPT nasional. Sebab, listrik merupakan faktor utama dalam proses produksi industri TPT. Kenaikan tarif listrik dipastikan bakal menaikkan biaya produksi dan harga jual produk. “Bertahap maupun tidak, efeknya tetap sama,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Raja Sapta Oktohari mengatakan, kenaikan TTL harus diimbangi dengan membaiknya pasokan listrik. Okto menilai, selama ini pelayanan dalam hal keterjaminan pasokan tidak terpenuhi, meski TTL terus naik dari waktu ke waktu. “Perlu ada blue print. Pemerintah harus bisa mengevaluasi masalah ini,” tegasnya.
Seperti diketahui, industri TPT sebelumnya mengeluhkan rencana kenaikan TTL pada 2013 karena diyakini akan menggelembungkan biaya produksi. Porsi untuk listrik di struktur biaya produksi industri ini disebut cukup besar, mencapai 20 persen.
Sementara, ujar Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Synthetic Fiber Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta, porsi biaya energi di sektor produksi serat buatan dan benang filamen yang merupakan bahan baku industri TPT juga cukup besar, mencapai 15–20 persen.
Efek dari kenaikan bahan baku, tegas dia, akan berlanjut hingga ke hilir. “Di sisi lain, bahan baku (serat dan benang filamen) yaitu purified thereptalat acid (PTA) juga bakal naik. Pasalnya, Asia Pasifik saat ini cenderung defisit karena China masih defisit sekitar 3 juta ton,jadi kita tidak akan punya pilihan impor ketika harga PTA dalam negeri lebih mahal karena kenaikan TTL ini,” kata Redma di Jakarta kemarin.
Apabila PTA naik 5 persen, jelas dia, maka harga serat akan lebih mahal sekitar 10 persen,benang 15 persen, kain 20 persen dan garmen 25 persen dari harga rata-rata dunia. Dengan kondisi pasar seperti saat ini,imbuhnya,dapat dipastikan kenaikan itu akan semakin menggerus ekspor.
“Sementara impor barang jadi akan naik sehingga kemungkinan sektor tekstil dan produk tekstil tahun depan akan mengalami defisit perdagangan” paparnya.
Redma mengatakan,berdasarkan data Bank Indonesia (BI),hingga bulan Juli tahun ini sektor TPT masih memberikan kontribusi surplus perdagangan sebesar USD3,4 miliar, di saat secara keseluruhan sektor industri di luar migas dan tambang mengalami defisit USD14,03 miliar. Biasanya, imbuh dia, sektor TPT bahkan selalu menyumbangkan devisa bersih lebih dari USD6 miliar.
“Posisi perdagangan seperti ini di mana industri mengalami defisit perdagangan adalah pertama kali dalam sejarah, jika ditambah dengan defisit sektor jasa yang sekitar USD12 miliar, maka neraca pembayaran kita akan terancam defisit,” jelasnya.
Redma menilai, kenaikan TTL adalah kebijakan blunder, terlebih apabila beban terbesar dibebankan kepada sektor industri. Apabila pemerintah mau menyelamatkan neraca pembayaran, lanjutnya, yang harus digenjot adalah ekspor dengan cara memperkuat sektor industri.
Penguatan sektor industri, tegas dia, sangat penting, terlebih lagi dalam kondisi pasar dunia yang tengah lesu. “Jika permasalahannya adalah (bengkaknya) subsidi di APBN,maka memangkas subsidi bahan bakar minyak (BBM) akan lebih efisien bagi perekonomian dibanding memangkas subsidi listrik,” cetusnya.
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat Usman sebelumnya mengatakan, kenaikan TTL akan terus menggerus daya saing industri TPT nasional. Sebab, listrik merupakan faktor utama dalam proses produksi industri TPT. Kenaikan tarif listrik dipastikan bakal menaikkan biaya produksi dan harga jual produk. “Bertahap maupun tidak, efeknya tetap sama,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Raja Sapta Oktohari mengatakan, kenaikan TTL harus diimbangi dengan membaiknya pasokan listrik. Okto menilai, selama ini pelayanan dalam hal keterjaminan pasokan tidak terpenuhi, meski TTL terus naik dari waktu ke waktu. “Perlu ada blue print. Pemerintah harus bisa mengevaluasi masalah ini,” tegasnya.
(rna)
Lihat Juga :