BEI: Pelepasan saham IPO fleksibel

Senin, 08 Oktober 2012 - 11:37 WIB
BEI: Pelepasan saham...
BEI: Pelepasan saham IPO fleksibel
A A A
Sindonews.com - Kendati batas minimum besar saham yang dilepas adalah 20 persen pada Initial Public Offering (IPO/pencatatan saham perdana), Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan, batas tersebut bukanlah harga mati dan fleksibel sesuai ukuran perusahaan yang makukan pencatatan.

"Soal minimumnya kan, kita bekerja berdasarkan apa yang ada sekarang. Karena begini, kalau kita tetapkan batas minimun 20 persen tanpa melihat ukuran perusahaan itu juga tidak pas juga," terang Direktur Utama BEI, Ito Warsito di Gedung BEI, Jakarta, Senin (8/10/2012).

Penetapannya sendiri, kata ito, akan diukur dari besar kecil perusahaan itu sendiri. Pasalnya, kebutuhan masing-masing perusahaan juga berbeda-beda sehingga harus disesuaikan.

"Kalau perusahaan yang besar, 10 persen mungkin sudah sangat besar (dana yang dikumpulkan dari hasil IPO), tidak harus 20 persen. Kalau perusahaan kecil, mungkin 20 persen juga tidak cukup, mungkin harus lebih 20 persen," lanjutnya.

Lebih jauh Ito memaparkan, dibanding besar persentase saham yang dilepas, likuiditas saham dianggap pihaknya lebih penting dicermati. "Jadi kita fleksibel, tapi yang ingin dipastikan BEI adalah likuiditas di pasar sekunder," imbuhnya.

Sebenernya, lanjut ito, umumnya perseroan harus melepas 35 juta lembar saham saat IPO. Namun demikian, sekali lagi dirinya menyebutkan, batas tersebut bukanlah batas mutlak, sehingga harus disesuaikan dengan ukuran besar atau kecilnya perusahaan yang melakukan pencatatan itu sendiri.

"Kalau tidak salah itu 35 juta lembar saham (batas minimumnya). Tapi kembali, kalau ada perusahaan yang datang dengan 35 juta lembar saham belum tentu kami terima. Tergantung dari size-nya. Dan kondisi pasar sekunder seperti apa lalu kemudian saham itu bisa likuid atau tidak," tandasnya.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Usai IPO, Ayam Goreng...
Usai IPO, Ayam Goreng Nelongso Bakal Ekspansi Bisnis ke IKN
BUMN Diminta Perbaiki...
BUMN Diminta Perbaiki Kinerja Sebelum IPO
Dana IPO Dipakai Buat...
Dana IPO Dipakai Buat Rekrut Programmer, WGSH Tancap Gas di 2022
Bukalapak Resmi Melantai...
Bukalapak Resmi Melantai di Bursa Efek Indonesia
Bersiap IPO, Intip Jadwal...
Bersiap IPO, Intip Jadwal Penawaran PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK)
6 BUMN Gagal Bersinar...
6 BUMN Gagal Bersinar Meski Sudah IPO, Erick Thohir Enggan Merinci Daftarnya
Berita Terkini
Said Iqbal Berhasil...
Said Iqbal Berhasil Bertemu Purbaya: Sodorkan Draf Reformasi Pajak JHT, Buruh Batal Demo Besok
30 menit yang lalu
Maskapai Wajib Pakai...
Maskapai Wajib Pakai Avtur Campuran Minyak Nabati 1% Mulai 2027, Apa Efeknya ke Harga Tiket?
1 jam yang lalu
Fokus Tumbuh Berkelanjutan,...
Fokus Tumbuh Berkelanjutan, Pegadaian Perkuat Strategi Lewat Sales Town Hall 2026
2 jam yang lalu
Rebut Harta Karun Dinasti...
Rebut Harta Karun Dinasti Assad, Prancis Pulangkan Aset Rp1 Triliun ke Suriah!
2 jam yang lalu
Harga Emas Jatuh Rp14...
Harga Emas Jatuh Rp14 Ribu per Rabu 8 Juli 2026, Buyback Ambrol Rp21.000
4 jam yang lalu
Daftar di Sini dan Simak...
Daftar di Sini dan Simak Webinar Strategi Kelola Keuangan dari MNC Asset Management dan Invesnow!
4 jam yang lalu
Infografis
Elon Musk Siapkan Rp...
Elon Musk Siapkan Rp 617 Triliun untuk Borong Saham Twitter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved