Ekspor kerajinan DIY turun 30%
Senin, 08 Oktober 2012 - 13:28 WIB
Ekspor kerajinan DIY turun 30%
A
A
A
Sindonews.com - Dampak krisis Eropa dan Amerika yang tidak kunjung pulih, dikeluhkan para perajin yang ada di DIY. Mereka mengeluhkan sepinya permintaan pasar untuk ekspor. Padahal sudah banyak alternatif pasar yang ditembus. Penurunan nilai ekspor diperkirakan di atas 30 persen.
Ketua DPD Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) DIY, Yuli Sugiyanta mengatakan, ekspor produk mebel dan kerajinan selama ini menggantungkan dari pasar Eropa dan Amerika. Produk ini banyak diminati warga di Amerika, Jerman, ataupun Spanyol.
Pasca krisis ekonomi mendera keduaabenua tersebut, permintaan ekspor turun. “Sampai akhir tahun, penurunan ekspor bisa smapai 30 persen,” tutur Yuli.
Menurutnya, para perajin yang ada sebenarnya sudah jeli dalam menangkap peluang pasar. Mereka membuat terobosan dengan melakukan penetrasi pasar di Asia seperti China, maupun pasar Timur Tengah, dan Australia. Bahkan pasar dalam negeri juga dibidik, dan memiliki potensi yang bagus.
Peluang pasar di negara-negara ini, cukup terbuka lebar. Negara ini tidak banyak terkena imbas dari krisis di Eropa dan Amerika. Disamping itu pertumbuhan ekonominya juga cukup stabil. “Meski begitu kondisi pasarnya belum bisa menggantikan pasar Eropa dan
Amerika,” tuturnya.
Pasar mebel dan kerajinan sendiri, saat ini masih didominasi pasar ekspor, sekitar 70 persen. Sisanya mengandalkan pasar dalam negeri, yang terkonsentrasi di Bali dan Jakarta.
Peluang pasar domestik juga bagus dan banyak diminati turis asing. Terbukti pada pembukaan Gerai Asmindo, banyak turis yang membeli. “Pasar domestik ini terus kita perkuat dengan memperbanyak event pameran,” tegasnya.
Kabid Perdagangan Dalam Negeri Disperindagkop dan UMKM Eko Witoyo, mengaku impor dari China mengalami peningkatan. Tidak hanya pada sektor pertanian dan hortikultura, namun banyak produk kerajinan yang masuk.
Kondisi seperti ini cukup mengancam para petani lokal dan perajin. Apalagi banyak produk ini dibuat oleh UMKM yang ada di DIY. “Datanya memang belum ada tetapi dari hasil survey di lapangan impor China cenderung naik,” ujarnya.
Secara kualitas, ujarnya, produk lokal DIY lebih bagus dan lebih diminati pasar. Hanya saja dari sisi harga, kadang harus bersaing ketat dengan produk dari China.
Ketua DPD Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) DIY, Yuli Sugiyanta mengatakan, ekspor produk mebel dan kerajinan selama ini menggantungkan dari pasar Eropa dan Amerika. Produk ini banyak diminati warga di Amerika, Jerman, ataupun Spanyol.
Pasca krisis ekonomi mendera keduaabenua tersebut, permintaan ekspor turun. “Sampai akhir tahun, penurunan ekspor bisa smapai 30 persen,” tutur Yuli.
Menurutnya, para perajin yang ada sebenarnya sudah jeli dalam menangkap peluang pasar. Mereka membuat terobosan dengan melakukan penetrasi pasar di Asia seperti China, maupun pasar Timur Tengah, dan Australia. Bahkan pasar dalam negeri juga dibidik, dan memiliki potensi yang bagus.
Peluang pasar di negara-negara ini, cukup terbuka lebar. Negara ini tidak banyak terkena imbas dari krisis di Eropa dan Amerika. Disamping itu pertumbuhan ekonominya juga cukup stabil. “Meski begitu kondisi pasarnya belum bisa menggantikan pasar Eropa dan
Amerika,” tuturnya.
Pasar mebel dan kerajinan sendiri, saat ini masih didominasi pasar ekspor, sekitar 70 persen. Sisanya mengandalkan pasar dalam negeri, yang terkonsentrasi di Bali dan Jakarta.
Peluang pasar domestik juga bagus dan banyak diminati turis asing. Terbukti pada pembukaan Gerai Asmindo, banyak turis yang membeli. “Pasar domestik ini terus kita perkuat dengan memperbanyak event pameran,” tegasnya.
Kabid Perdagangan Dalam Negeri Disperindagkop dan UMKM Eko Witoyo, mengaku impor dari China mengalami peningkatan. Tidak hanya pada sektor pertanian dan hortikultura, namun banyak produk kerajinan yang masuk.
Kondisi seperti ini cukup mengancam para petani lokal dan perajin. Apalagi banyak produk ini dibuat oleh UMKM yang ada di DIY. “Datanya memang belum ada tetapi dari hasil survey di lapangan impor China cenderung naik,” ujarnya.
Secara kualitas, ujarnya, produk lokal DIY lebih bagus dan lebih diminati pasar. Hanya saja dari sisi harga, kadang harus bersaing ketat dengan produk dari China.
(gpr)
Lihat Juga :