Permata dukung pengembangan infrastruktur
Selasa, 09 Oktober 2012 - 09:30 WIB
Permata dukung pengembangan infrastruktur
A
A
A
Sindonews.com - Bank Permata berkomitmen untuk mendukung pengembangan pembiayaan infrastruktur di Indonesia. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kerja sama dengan Indonesia Infrastructure Finance (IIF) sebagai agen fasilitas (facility agent) dan agen penyimpan jaminan (security agent).
Melalui kerja sama ini, Bank Permata akan menjadi bank penyimpan dana yang dikelola IIF dan bank penyimpan aset yang menjadi jaminan proyek yang dikerjakan oleh IIF.
Direktur Wholesale Banking Bank Permata Roy Arfandy mengatakan, pihaknya sangat senang dapat bermitra dengan IIF.Dia menilai IIF memiliki peran yang sangat strategis dalam mendorong pertumbuhan dan pembangunan infrastruktur di Indonesia.
“Oleh karena itu, dengan pengalaman dan keahlian yang kami miliki,kami ingin berperan aktif mendukung pengembangan infrastruktur melalui IIF,” ujarnya di sela penandatanganan nota kesepahaman dengan IIF di Jakarta kemarin.
Roy mengungkapkan, kredit Bank Permata ke sektor infrastruktur saat ini belum terlalu besar, yakni masih di bawah 5% dari total kredit sebesar Rp84,4 triliun pada semester I/2012.
“Oleh karena itu, pembiayaan di sektor infrastruktur masih cukup besar peluangnya di mana kami akan melihat secara project by project,” ujarnya.
Dia menambahkan, selama paruh pertama tahun ini pertumbuhan kredit mencapai 41% dan tumbuh di semua segmen bisnis, termasuk infrastruktur.
Sementara, IIF berkomitmen menggelontorkan pembiayaan sebesar USD150 juta atau sekitar Rp1,5 triliun untuk membiayai sejumlah proyek infrastruktur pada tahun ini.
Presiden Direktur IIF Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, total modal yang dimiliki perseroan untuk pembiayaan infrastruktur sebesar USD400 juta atau sekitar Rp4 triliun. ”Kita akan segera jalankan di pembangkit listrik tenaga air di Sumatera Utara dan gas di Jambi,” ujarnya di tempat yang sama.
Dia mengungkapkan, untuk ketiga proyek, perseroan telah berkomitmen menggelontorkan pembiayaan USD100 juta, sedangkan sisanya sebesar USD50 juta bisa tersalurkan hingga akhir tahun. Menurut Kartika, ketiga proyek itu adalah jalan tol Cikampek-Palimanan, PLTG di Jambi, dan PLTA di Sumatera Utara.
IIF tidak akan mendanai seluruh kebutuhan pembangunan proyek infrastruktur tersebut. Di sisi lain, IIF juga tengah mengkaji sumber pendanaan dari pasar modal. Selama ini sumber pendanaan IIF berasal dari pinjaman.
Tahun lalu, misalnya, IIF mendapat pinjaman subordinasi dari Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB) senilai USD200 juta yang disalurkan melalui Pemerintah Indonesia kepada Sarana Multi Infrastruktur. Kartika menjelaskan, saat ini pihaknya tengah fokus membiayai proyek dengan pendanaan dari pinjaman.
Melalui kerja sama ini, Bank Permata akan menjadi bank penyimpan dana yang dikelola IIF dan bank penyimpan aset yang menjadi jaminan proyek yang dikerjakan oleh IIF.
Direktur Wholesale Banking Bank Permata Roy Arfandy mengatakan, pihaknya sangat senang dapat bermitra dengan IIF.Dia menilai IIF memiliki peran yang sangat strategis dalam mendorong pertumbuhan dan pembangunan infrastruktur di Indonesia.
“Oleh karena itu, dengan pengalaman dan keahlian yang kami miliki,kami ingin berperan aktif mendukung pengembangan infrastruktur melalui IIF,” ujarnya di sela penandatanganan nota kesepahaman dengan IIF di Jakarta kemarin.
Roy mengungkapkan, kredit Bank Permata ke sektor infrastruktur saat ini belum terlalu besar, yakni masih di bawah 5% dari total kredit sebesar Rp84,4 triliun pada semester I/2012.
“Oleh karena itu, pembiayaan di sektor infrastruktur masih cukup besar peluangnya di mana kami akan melihat secara project by project,” ujarnya.
Dia menambahkan, selama paruh pertama tahun ini pertumbuhan kredit mencapai 41% dan tumbuh di semua segmen bisnis, termasuk infrastruktur.
Sementara, IIF berkomitmen menggelontorkan pembiayaan sebesar USD150 juta atau sekitar Rp1,5 triliun untuk membiayai sejumlah proyek infrastruktur pada tahun ini.
Presiden Direktur IIF Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, total modal yang dimiliki perseroan untuk pembiayaan infrastruktur sebesar USD400 juta atau sekitar Rp4 triliun. ”Kita akan segera jalankan di pembangkit listrik tenaga air di Sumatera Utara dan gas di Jambi,” ujarnya di tempat yang sama.
Dia mengungkapkan, untuk ketiga proyek, perseroan telah berkomitmen menggelontorkan pembiayaan USD100 juta, sedangkan sisanya sebesar USD50 juta bisa tersalurkan hingga akhir tahun. Menurut Kartika, ketiga proyek itu adalah jalan tol Cikampek-Palimanan, PLTG di Jambi, dan PLTA di Sumatera Utara.
IIF tidak akan mendanai seluruh kebutuhan pembangunan proyek infrastruktur tersebut. Di sisi lain, IIF juga tengah mengkaji sumber pendanaan dari pasar modal. Selama ini sumber pendanaan IIF berasal dari pinjaman.
Tahun lalu, misalnya, IIF mendapat pinjaman subordinasi dari Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB) senilai USD200 juta yang disalurkan melalui Pemerintah Indonesia kepada Sarana Multi Infrastruktur. Kartika menjelaskan, saat ini pihaknya tengah fokus membiayai proyek dengan pendanaan dari pinjaman.
(gpr)
Lihat Juga :