Ekonomi dunia melambat, ekspor RI mengkhawatirkan
Rabu, 10 Oktober 2012 - 19:40 WIB
Ekonomi dunia melambat, ekspor RI mengkhawatirkan
A
A
A
Sindonews.com - Indonesia mesti segera mencari pangsa pasar baru untuk meningkatkan volume ekspor yang saat ini dibayang-bayangi ketidakpastian. Upaya tersebut, sekaligus menjaga nilai impor yang diperkirakan akan terus naik.
Direktur Eksekutif Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat Bank Indonesia Doddy Budi Waluyo mengakui, Indonesia masih dibayang-bayangi ketidakpastian ekspor akibat perlambatan ekonomi dunia. Sementara di sisi lainnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup membanggakan, berpotensi menaikkan volume impor.
“Upaya yang mesti kita lakukan yaitu mencari pangsa pasar baru seperti ke Afrika. Hanya itu pilihan kita,” kata Doddy Budi Waluyo seusia menghadiri seminar Tata Kelola Bank Sentral di Universitas Padjadjaran, Kota Bandung, Rabu (10/10/2012).
Dengan membidik pangsa pasar baru, volume ekspor Indonesia diharapkan bisa meningkat. Menurut dia, saat ini, ekspor Indonesia masih tergantung kepada bebearpa Negara saja. Seperti ke Cina dan India. Sementara, pertumbuhan ekonomi di Negara tersebut sempat terkoreksi.
“Selain mencari market baru, kita berharap besar ekonomi Cina bisa kembali membaik. Paling tidak, pertumbuhan ekonomi mereka bisa diatas 8 persen. itu yang bisa menolong ekspor Indonesia,” pungkas dia.
Diakui dia, perlambatan ekspor Indonesia diperkirakan akan terus terjadi apabila tidak ada upaya kongkrit meningkatkan volume perdagangan ke luar negeri. “Kita tidak mungkin menjual harga barang kita murah agar eskspor bisa naik atau membiarkan rupiah melemah. Tapi masalahnya, apakah dimand-nya ada. Karena, memang ekonomi dunia saat ini kurang baik,” kata dia.
Melambatnya ekspor Indonesia, lanjut dia, berbanding terbalik dengan potensi pertumbuhan impor ke Indonesia. Ekonomi Indonesia yang terus membaik, diperkirakan akan meningkatkan impor ke Tanah Air.
Terlebih, selama ini ekspor barang konsumtif cukup besar. Pemerintah, juga tidak mungkin menahan impor dengan mengurangi konsumsi dalam negeri. Karena akan berakibat pada perlambatan ekonomi nasional.
Salah satu upaya mengurangi impor, yaitu memaksimalkan konten lokal. Industri dalam negeri mesti konsisten menggunakan konten lokal. Namun demikian, persoalan tersebut mesti diatur, agar bisa ditaati semua pihak.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VI Lucky Fathul Aziz Hadibrata mengakui, walaupun ekspor nasional devisit, namun eskpor Jabar masih tecatat menunjukkan peningkatan.
Walaupun, di beberapa sektor terjadi perlambatan. Selama Januari-Juni 2012, total ekspor Jabar mencapai USD6,81 miliar. Atau naik dari pencapaian pada periode yang sama tahun lalu sekitar USD5 miliar.
Beberapa produk yang menjadi andalan ekspor Jabar di antaranya mesin dan perlengkapan elektronik dengan nilain ekspor senilai USD2,3 miliar. Disusul tekstil dan produk tekstil (TPT) USD1,8 miliar.
Namun demikian, dua produk yang mengalami perlambatan eskpor yaitu mesin dan TPT. Ekspor mesin selama Januari-Juni 2012 melambat 7 persen daripada periode yang sama 2011. Sedangkan TPT, turun 17 persen daripada momen yang sama 2011.
“Jabar harus mengambil langkah diversifikasi. Yaitu melakukan pengembangan pasar ekspor baru. Misalnya, ke negara-negara kawasan Afrika Selatan, Timur Tengah, termasuk Asia,” imbuh dia.
Direktur Eksekutif Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat Bank Indonesia Doddy Budi Waluyo mengakui, Indonesia masih dibayang-bayangi ketidakpastian ekspor akibat perlambatan ekonomi dunia. Sementara di sisi lainnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup membanggakan, berpotensi menaikkan volume impor.
“Upaya yang mesti kita lakukan yaitu mencari pangsa pasar baru seperti ke Afrika. Hanya itu pilihan kita,” kata Doddy Budi Waluyo seusia menghadiri seminar Tata Kelola Bank Sentral di Universitas Padjadjaran, Kota Bandung, Rabu (10/10/2012).
Dengan membidik pangsa pasar baru, volume ekspor Indonesia diharapkan bisa meningkat. Menurut dia, saat ini, ekspor Indonesia masih tergantung kepada bebearpa Negara saja. Seperti ke Cina dan India. Sementara, pertumbuhan ekonomi di Negara tersebut sempat terkoreksi.
“Selain mencari market baru, kita berharap besar ekonomi Cina bisa kembali membaik. Paling tidak, pertumbuhan ekonomi mereka bisa diatas 8 persen. itu yang bisa menolong ekspor Indonesia,” pungkas dia.
Diakui dia, perlambatan ekspor Indonesia diperkirakan akan terus terjadi apabila tidak ada upaya kongkrit meningkatkan volume perdagangan ke luar negeri. “Kita tidak mungkin menjual harga barang kita murah agar eskspor bisa naik atau membiarkan rupiah melemah. Tapi masalahnya, apakah dimand-nya ada. Karena, memang ekonomi dunia saat ini kurang baik,” kata dia.
Melambatnya ekspor Indonesia, lanjut dia, berbanding terbalik dengan potensi pertumbuhan impor ke Indonesia. Ekonomi Indonesia yang terus membaik, diperkirakan akan meningkatkan impor ke Tanah Air.
Terlebih, selama ini ekspor barang konsumtif cukup besar. Pemerintah, juga tidak mungkin menahan impor dengan mengurangi konsumsi dalam negeri. Karena akan berakibat pada perlambatan ekonomi nasional.
Salah satu upaya mengurangi impor, yaitu memaksimalkan konten lokal. Industri dalam negeri mesti konsisten menggunakan konten lokal. Namun demikian, persoalan tersebut mesti diatur, agar bisa ditaati semua pihak.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VI Lucky Fathul Aziz Hadibrata mengakui, walaupun ekspor nasional devisit, namun eskpor Jabar masih tecatat menunjukkan peningkatan.
Walaupun, di beberapa sektor terjadi perlambatan. Selama Januari-Juni 2012, total ekspor Jabar mencapai USD6,81 miliar. Atau naik dari pencapaian pada periode yang sama tahun lalu sekitar USD5 miliar.
Beberapa produk yang menjadi andalan ekspor Jabar di antaranya mesin dan perlengkapan elektronik dengan nilain ekspor senilai USD2,3 miliar. Disusul tekstil dan produk tekstil (TPT) USD1,8 miliar.
Namun demikian, dua produk yang mengalami perlambatan eskpor yaitu mesin dan TPT. Ekspor mesin selama Januari-Juni 2012 melambat 7 persen daripada periode yang sama 2011. Sedangkan TPT, turun 17 persen daripada momen yang sama 2011.
“Jabar harus mengambil langkah diversifikasi. Yaitu melakukan pengembangan pasar ekspor baru. Misalnya, ke negara-negara kawasan Afrika Selatan, Timur Tengah, termasuk Asia,” imbuh dia.
(gpr)
Lihat Juga :