Boikot IMF-Bank Dunia meluas
Kamis, 11 Oktober 2012 - 11:04 WIB
Boikot IMF-Bank Dunia meluas
A
A
A
Sindonews.com - Gubernur Bank Sentral China (PBOC) menarik diri dari pertemuan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) yang dilangsungkan di Jepang pekan ini.
Keputusan tersebut merupakan imbas dari eskalasi ketegangan antara Jepang dan China terkait sengketa wilayah kepulauan yang sebelumnya mengganggu hubungan dagang dan politik kedua negara.
Ketidakhadiran orang nomor satu di otoritas perbankan Negeri Panda ini menunjukkan bahwa sentimen negatif akibat sengketa pulau di Laut China Selatan itu semakin buruk.
Sehari sebelumnya empat bank besar China yang dijadwalkan hadir pada pertemuan di Tokyo juga menyatakan memboikot acara tersebut. Menurut kantor berita Xinhua, keempat bank tersebut adalah Bank Industri dan Komersial China (ICBC), Bank of China, China Construction Bank, dan Agricultural Bank of China.
Dikutip BBC, Gubernur PBOC Zhou Xiaochuan sedianya dijadwalkan menjadi salah satu pembicara pada pertemuan tahunan yang baru pertama kalinya diadakan di luar Amerika Serikat (AS) itu.
“Kami mendapat informasi dua hari lalu bahwa Gubernur Zhou akan membatalkan kehadirannya untuk acara ini,” kata juru bicara IMF kepada BBC kemarin.
Dia menambahkan, IMF sudah mendapat konfirmasi bahwa PBOC akan diwakili oleh deputi gubernur Yi Gang pada pertemuan tahunan tersebut. Selain Gubernur PBOC, China juga kemungkinan tidak akan mengirim Menteri Keuangan Xie Xuren. Media Pemerintah China melaporkan, Xie akan digantikan oleh wakilnya yakni Zhu Guangyao.
Sementara itu, IMF menyatakan, krisis utang zona euro telah menurunkan keyakinan dalam sistem keuangan global. IMF mendesak para pembuat kebijakan Eropa agar meningkatkan integrasi keuangan dan fiskal di kawasan mata uang tunggal euro.
“Krisis utang di Eropa merupakan ancaman utama dan risiko terhadap stabilitas keuangan global yang telah meningkat dalam enam bulan terakhir sehingga menyebabkan rapuhnya kepercayaan,” ujar IMF dalam pertemuan tahunan dengan Bank Dunia di Tokyo, Jepang, dikutip Reuters kemarin.
Lembaga keuangan internasional tersebut menambahkan, lambatnya kemajuan zona euro menyebabkan perbankan Eropa melepas aset-asetnya dalam dua tahun terakhir ini. IMF mencatat sekitar USD2,8 triliun aset Eropa lari ke luar wilayah itu untuk memangkas risiko kerugian. Jumlah tersebut meningkat USD200 miliar dari prediksi enam bulan silam.
Menurut IMF, kondisi tersebut akan berpotensi menurunkan penyaluran kredit hingga 9 persen pada akhir 2013 yang akibatnya bisa melemahkan pertumbuhan ekonomi zona euro.
Pada saat yang sama, laporan stabilitas keuangan global IMF (GFSR) menunjukkan, meskipun ada langkah-langkah penting yang telah diambil oleh para pembuat kebijakan, agenda mengenai kemajuan kawasan Eropa masih penting guna mengekspos blok mata uang tunggal tersebut.
Direktur Moneter dan Pasar Modal IMF Jose Vinals mengungkapkan, masalah Eropa harus menjadi sebuah pelajaran bagi Amerika Serikat (AS) dan Jepang yang masih menunda beberapa kebijakan terkait masalah keuangan.
Sebelumnya dalam laporan World Economic Outlook 2012 IMF menyatakan, perlambatan ekonomi global telah semakin memburuk sehingga lembaga tersebut memangkas proyeksi pertumbuhan untuk kedua kalinya sejak April lalu.
Menurut IMF, tahun ini pertumbuhan ekonomi global hanya akan mencapai 3,3 persen, lebih lemah dibanding proyeksi sebelumnya 3,5 persen. IMF juga memperingatkan kepada para pembuat kebijakan AS dan Eropa bahwa kegagalan dalam memperbaiki perekonomian negara masing-masing dapat memperpanjang kemerosotan ekonomi.
Pekan lalu Menteri Keuangan Kanada Jim Flaherty kecewa atas kemajuan zona euro dalam menyelesaikan krisis utangnya. “Krisis utang Eropa saat ini menjadi sangat bahaya,” imbuh dia.
Bulan lalu Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) mengumumkan rencana pembelian obligasi pemerintah zona euro yang bermasalah, untuk mengembalikan kepercayaan pasar.
“Kami siap melakukan apa pun yang diperlukan guna menyelamatkan zona euro pada musim panas ini,” tutur Gubernur ECB Mario Draghi, dikutip BBC.
Menanggapi hal itu IMF menyatakan, meski ada program dari ECB,tetapi belum menimbulkan kepercayaan dari investor swasta. Lebih lanjut laporan IMF menunjukkan, risiko dari zona euro dapat menular ke pasar negara berkembang, di mana pertumbuhannya sudah melambat.
Negara-negara di Eropa Tengah dan Timur merupakan yang paling rentan terhadap guncangan keuangan, mengingat sudah berakarnya eksposur ke zona euro.
Keputusan tersebut merupakan imbas dari eskalasi ketegangan antara Jepang dan China terkait sengketa wilayah kepulauan yang sebelumnya mengganggu hubungan dagang dan politik kedua negara.
Ketidakhadiran orang nomor satu di otoritas perbankan Negeri Panda ini menunjukkan bahwa sentimen negatif akibat sengketa pulau di Laut China Selatan itu semakin buruk.
Sehari sebelumnya empat bank besar China yang dijadwalkan hadir pada pertemuan di Tokyo juga menyatakan memboikot acara tersebut. Menurut kantor berita Xinhua, keempat bank tersebut adalah Bank Industri dan Komersial China (ICBC), Bank of China, China Construction Bank, dan Agricultural Bank of China.
Dikutip BBC, Gubernur PBOC Zhou Xiaochuan sedianya dijadwalkan menjadi salah satu pembicara pada pertemuan tahunan yang baru pertama kalinya diadakan di luar Amerika Serikat (AS) itu.
“Kami mendapat informasi dua hari lalu bahwa Gubernur Zhou akan membatalkan kehadirannya untuk acara ini,” kata juru bicara IMF kepada BBC kemarin.
Dia menambahkan, IMF sudah mendapat konfirmasi bahwa PBOC akan diwakili oleh deputi gubernur Yi Gang pada pertemuan tahunan tersebut. Selain Gubernur PBOC, China juga kemungkinan tidak akan mengirim Menteri Keuangan Xie Xuren. Media Pemerintah China melaporkan, Xie akan digantikan oleh wakilnya yakni Zhu Guangyao.
Sementara itu, IMF menyatakan, krisis utang zona euro telah menurunkan keyakinan dalam sistem keuangan global. IMF mendesak para pembuat kebijakan Eropa agar meningkatkan integrasi keuangan dan fiskal di kawasan mata uang tunggal euro.
“Krisis utang di Eropa merupakan ancaman utama dan risiko terhadap stabilitas keuangan global yang telah meningkat dalam enam bulan terakhir sehingga menyebabkan rapuhnya kepercayaan,” ujar IMF dalam pertemuan tahunan dengan Bank Dunia di Tokyo, Jepang, dikutip Reuters kemarin.
Lembaga keuangan internasional tersebut menambahkan, lambatnya kemajuan zona euro menyebabkan perbankan Eropa melepas aset-asetnya dalam dua tahun terakhir ini. IMF mencatat sekitar USD2,8 triliun aset Eropa lari ke luar wilayah itu untuk memangkas risiko kerugian. Jumlah tersebut meningkat USD200 miliar dari prediksi enam bulan silam.
Menurut IMF, kondisi tersebut akan berpotensi menurunkan penyaluran kredit hingga 9 persen pada akhir 2013 yang akibatnya bisa melemahkan pertumbuhan ekonomi zona euro.
Pada saat yang sama, laporan stabilitas keuangan global IMF (GFSR) menunjukkan, meskipun ada langkah-langkah penting yang telah diambil oleh para pembuat kebijakan, agenda mengenai kemajuan kawasan Eropa masih penting guna mengekspos blok mata uang tunggal tersebut.
Direktur Moneter dan Pasar Modal IMF Jose Vinals mengungkapkan, masalah Eropa harus menjadi sebuah pelajaran bagi Amerika Serikat (AS) dan Jepang yang masih menunda beberapa kebijakan terkait masalah keuangan.
Sebelumnya dalam laporan World Economic Outlook 2012 IMF menyatakan, perlambatan ekonomi global telah semakin memburuk sehingga lembaga tersebut memangkas proyeksi pertumbuhan untuk kedua kalinya sejak April lalu.
Menurut IMF, tahun ini pertumbuhan ekonomi global hanya akan mencapai 3,3 persen, lebih lemah dibanding proyeksi sebelumnya 3,5 persen. IMF juga memperingatkan kepada para pembuat kebijakan AS dan Eropa bahwa kegagalan dalam memperbaiki perekonomian negara masing-masing dapat memperpanjang kemerosotan ekonomi.
Pekan lalu Menteri Keuangan Kanada Jim Flaherty kecewa atas kemajuan zona euro dalam menyelesaikan krisis utangnya. “Krisis utang Eropa saat ini menjadi sangat bahaya,” imbuh dia.
Bulan lalu Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) mengumumkan rencana pembelian obligasi pemerintah zona euro yang bermasalah, untuk mengembalikan kepercayaan pasar.
“Kami siap melakukan apa pun yang diperlukan guna menyelamatkan zona euro pada musim panas ini,” tutur Gubernur ECB Mario Draghi, dikutip BBC.
Menanggapi hal itu IMF menyatakan, meski ada program dari ECB,tetapi belum menimbulkan kepercayaan dari investor swasta. Lebih lanjut laporan IMF menunjukkan, risiko dari zona euro dapat menular ke pasar negara berkembang, di mana pertumbuhannya sudah melambat.
Negara-negara di Eropa Tengah dan Timur merupakan yang paling rentan terhadap guncangan keuangan, mengingat sudah berakarnya eksposur ke zona euro.
(gpr)
Lihat Juga :