IMF peringatkan negara berkembang

Jum'at, 12 Oktober 2012 - 10:13 WIB
IMF peringatkan negara...
IMF peringatkan negara berkembang
A A A
Sindonews.com - Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memperingatkan, prospek ekonomi negara-negara berkembang saat ini menghadapi tantangan akibat krisis keuangan yang terjadi di Eropa.

Untuk itu, negara berkembang harus memberikan perhatian serius terhadap segala adanya ketidakpastian baik di pasar domestik maupun di luar negeri.

IMF juga menilai, saat ini negara-negara berpendapatan rendah masih rentan bukan hanya karena tingginya harga pangan,tetapi juga adanya ancaman banyaknya orang yang akan kembali ke jurang kemiskinan.

”Pada area ini kami memerlukan tindakan untuk mengatasi ketidakpastian,” ujar Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde dalam keterangannya yang dilansir situs resmi IMF kemarin.

Seperti diberitakan, IMF memangkas pertumbuhan ekonomi global untuk tahun ini menjadi hanya 3,3 persen, terendah sejak resesi 2009 silam. Untuk tahun depan, lembaga donor yang bermarkas di Washington, Amerika Serikat (AS), itu juga menurunkan proyeksinya menjadi hanya 3,6 persen.

Sebagai perbandingan, pada prediksi yang dibuat IMF Juli lalu, pertumbuhan ekonomi global diprediksi 3,5 persen di 2012 dan 3,9 persen di tahun berikutnya.

Lagarde berada di Tokyo untuk mengikuti pertemuan tahunan IMF dengan Bank Dunia akhir pekan ini. Pertemuan tersebut akan membahas berbagai persoalan ekonomi termasuk masalah krisis utang yang masih terjadi di beberapa wilayah di Eropa dan AS.

Pertemuan yang baru pertama kali di adakan di luar AS itu akan diikuti oleh sejumlah pimpinan bank sentral dan pemerintah dari berbagai negara di dunia.

Namun, pertemuan tersebut tidak akan diikuti oleh pimpinan Bank Sentral China (PBOC) Zhou Xiaochuan dan Menteri Keuangan China karena masalah sengketa kepulauan dengan Jepang.

Selain itu, sejumlah perbankan besar China juga memboikot pertemuan tersebut akibat meningkatnya ketegangan kedua negara. Menanggapi boikot China pada pertemuan IMF dengan Bank Dunia, Lagarde menyatakan bahwa Negeri Panda ”kehilangan” momentum jika tidak mengirim dua pejabat tertinggi di sektor keuangan di pada pertemuan tersebut.

Menurut Lagarde, beratnya sengketa wilayah antara raksasa Asia memang telah mengganggu hubungan kedua negara. Untuk itu, dia menyerukan Beijing dan Tokyo -yang terlibat dalam pertikaian atas batas kepulauan di Laut China Timur-, segera menyelesaikan masalah tersebut secepatnya.

”Negara-negara di wilayah ini sangat penting bagi perekonomian global. Kami memiliki banyak isu-isu substantif untuk membahas, akan ada perdebatan besar. Saya pikir mereka kehilangan dengan tidak menghadiri pertemuan itu,” kata Lagarde di Tokyo kemarin.

China sendiri belum memberikan alasan resmi tentang pembatalan kehadiran pejabat nomor satu di Bank Sentral China dan Kementerian Keuangan China.

Namun, Rabu (10/10) lalu seorang pejabat IMF menyatakan, PBOC dan Kementrian Keuangan China akan mengirimkan wakilnya pada acara tersebut.

Sementara, Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim mengatakan, pihaknya juga memberikan perhatian akibat dampak ketegangan hubungan antara Jepang dan China. Dia menginginkan masalah tersebut cepat diselesaikan di tengah banyaknya perbedaan.

”Sejarah dan situasi politik di Asia Timur sangat kompleks. Tetapi, dalam pandangan saya masalah ini akan diselesaikan dalam beberapa bulan ke depan,” katanya.

Di bagian lain, krisis utang Eropa yang belum juga mereda mendorong lembaga pemeringkat Standard & Poor’s (S&P) memangkas peringkat utang Spanyol sebanyak dua level menjadi BBB- dari sebelumnya BBB+. Keputusan S&P membuat rating utang Negeri Matador kini hanya satu tingkat di atas level sampah atau junk.

Di samping itu, S&P juga memberikan status outlook negatif untuk peringkat utang Spanyol. Penurunan peringkat utang tersebut disampaikan hanya beberapa hari setelah Spanyol mengumumkan paket penghematan anggaran kelima dalam kurang dari setahun.

Spanyol juga baru saja mengumumkan detil hasil stress test perbankannya. Sebelumnya Pemerintah Spanyol mendapat persetujuan dari Uni Eropa untuk mendapatkan dan talangan sebesar 100 miliar euro atau USD128 miliar untuk mengatasi krisis perbankan.

”Masalah pensiun kemungkinan akan menjadi tantangan bagi target reformasi fiskal, ini bukan menjadi satu-satunya risiko. Kami juga memberikan perhatian pada rendahnya pertumbuhan serta pengang-guran,” ujar ekonom S&P dikutip Reuters kemarin.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Profil Kristalina Georgieva,...
Profil Kristalina Georgieva, Mantan CEO Bank Dunia yang Jadi Direktur IMF
IMF: Sistem Perbankan...
IMF: Sistem Perbankan RI Stabil Berkat Kebijakan Berani dan Tepat Waktu
Bom Utang Argentina...
Bom Utang Argentina Siap Meledak, Pembicaraan dengan IMF Stagnan
10 Negara yang Memiliki...
10 Negara yang Memiliki Utang Terbanyak kepada IMF
IMF Proyeksi Ekonomi...
IMF Proyeksi Ekonomi RI Hanya 0,5% di 2020
Respons Permintaan IMF...
Respons Permintaan IMF Soal Pencabutan Hilirisasi, Hipmi: Indonesia Tak Bisa Didikte!
Berita Terkini
S&P Tahan RI Masih Investment...
S&P Tahan RI Masih Investment Grade, Fuad Bawazier Prediksi Ekonomi Bangkit 6 Bulan Lagi!
29 menit yang lalu
Transaksi Serba Digital,...
Transaksi Serba Digital, Pembelian Token Listrik Semakin Praktis
1 jam yang lalu
BI Injeksi Likuiditas...
BI Injeksi Likuiditas Rp837,11 Triliun, Tekanan di Pasar Uang Mulai Reda
1 jam yang lalu
Mantan Menkeu Ungkap...
Mantan Menkeu Ungkap 3 Gol Besar Sistem Ekspor Satu Pintu yang Dipuji S&P
2 jam yang lalu
MAMI Kelola Aset Rp125...
MAMI Kelola Aset Rp125 Triliun hingga Juni 2026, Catat Lebih 2,6 Juta Investor
2 jam yang lalu
Elnusa Petrofin Pastikan...
Elnusa Petrofin Pastikan Distribusi BBM di Sumatra Utara Kembali Normal
3 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved