Hilirisasi kakao terhambat produksi

Minggu, 14 Oktober 2012 - 15:00 WIB
Hilirisasi kakao terhambat...
Hilirisasi kakao terhambat produksi
A A A
Sindonews.com - Niat pemerintah untuk memberikan nilai tambah kepada kakao, sepertinya dihadapkan beberapa kendala. Bukan permasalahan investasi pabrik yang akan mengolah kakao, tapi lebih kepada produksi nasional.

Kakao merupakan salah satu komoditas andalan utama Indonesia dari sektor perkebunan. Indonesia dinobatkan sebagai negara produsen terbesar ketiga setelah Pantai Gading dan Ghana.

Wakil Menteri Perindustrian Alex SW Retraubun menyebutkan, pola hilirisasi untuk bahan baku coklat tersebut patut dilakukan. Manfaatnya, dapat seperti crude palm oil (cpo).

"Kakau itu nomor tiga di dunia, kalau itu patut di hilirisasi. jangan berbagga diri dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang kita punya, jadi hilirisasinya kita juga harus punya," ucapnya akhir pekan lalu, di Jakarta.

Hal senada juga diakui Sekretaris Jenderal Asosiasi Kakao Indonesia, Dakhri Sanusi. Hilirisasi yang tertuang pada Peraturan Menteri Keuangan No 67/PMK.011/2010 tentang penetapan barang ekspor yang dikenakan bea keluar dan tarif bea keluar, menurutnya disambut baik para pengusaha kakao di Indonesia.

"saya kira itu menurut kami tidak ada masalah ya kalau di lakukan seperti itu," ujar Dakhri.

Akan tetapi, pemerintah juga harus memperhatikan produksi kakao saat ini. Idealnya ketika aturan tersebut dikeluarkan, produksi kakao harus mencapai 1 juta ton. Sehingga, investasi pabrik pengolahan tidak percuma. Bahkan jika produksi tidak mencukupi, pengusaha akan mengambil langkah impor.

"Yang jadi persoalan itu apakah bahan baku itu cukup, nah sekarang kan tantangan kita itu adalah diproduksi. iya artinya apakah cukup produksi kakao kita untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri," jelasnya.

Sementara itu, Menteri Pertanian Suswono menargetkan produksi kakao akan mencapai 1 juta ton di tahun 2015. Hal ini seiring dengan program Gernas Kakao pada 2009 dimana ada perbaikan tanaman, pemberdayaan petani, pengendalian hama dan perbaikan mutu kakao. Dampaknya dimungkinkan akan terlihat di tahun 2014-2015.

"2009, Kita lakukan program peningkatan produksi dengan nama Gernas, dan kita targetkan 1 ton per Ha dan memang cukup lama waktunya," kata Suswono. (mai)
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Laju Ekspor Biji Kakao...
Laju Ekspor Biji Kakao Sulsel Tetap Kencang di Masa Pandemi Covid-19
Harga Kakao Turun di...
Harga Kakao Turun di Tingkat Petani
Platform Webtoon Berstandar...
Platform Webtoon Berstandar Internasional ‘Kakao Webtoon’ Diluncurkan di Indonesia
Tingkatkan Nilai Produk...
Tingkatkan Nilai Produk Kakao, Kemendag Jajaki Kerja Sama dengan Italia
PT Mars Target Dukung...
PT Mars Target Dukung Peningkatan Kesejahteraan 9.000 Petani Kakao
Melihat Proses Produksi...
Melihat Proses Produksi Coklat di Doesoen Kakao
Berita Terkini
Concord Industry Tegaskan...
Concord Industry Tegaskan Komitmen Perkuat Industri Keramik di Keramika 2026
12 menit yang lalu
Kurs Tembus Rp18 Ribu,...
Kurs Tembus Rp18 Ribu, Gubernur BI Siapkan 2 Jurus Jaga Nilai Tukar Rupiah
46 menit yang lalu
Menangkap Pangsa Terbesar...
Menangkap Pangsa Terbesar Wisata Medis, Malaysia Fair 2026 Hadir di Jakarta
1 jam yang lalu
Petani Sawit: Margin...
Petani Sawit: Margin dan Kewenangan BUMN Tentukan Harga Jadi Beban Berat Ekosistem Sawit
2 jam yang lalu
Dasco Panggil Menkeu...
Dasco Panggil Menkeu dan Gubernur BI: Evaluasi Perkembangan Ekonomi
4 jam yang lalu
Lompatan Besar Transportasi...
Lompatan Besar Transportasi Publik Jakarta: Terbaik Kedua di ASEAN, Posisi ke-27 Dunia
7 jam yang lalu
Infografis
Penjualan Mobil Anjlok,...
Penjualan Mobil Anjlok, Volkswagen akan Produksi Senjata
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved