Kualitas penyaluran indikator sukses KUR
Senin, 15 Oktober 2012 - 12:06 WIB
Kualitas penyaluran indikator sukses KUR
A
A
A
Sindonews.com - Indikator keberhasilan penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) seharusnya tidak hanya dilihat dari jumlah kredit yang disalurkan tetapi juga bagaimana kualitas penyaluran tersebut.
Kepala ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti mengatakan, jumlah penyaluran KUR yang tinggi memang menggambarkan besarnya penyerapan kredit bagi debitur KUR yang didominasi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Namun, jumlah kredit yang tinggi juga harus dibarengi dengan kualitas penyerapannya.
Tanpa kualitas yang bagus, jumlah kredit yang tinggi justru bisa mendorong non-performing loans (NPL) atau kredit macet. ”Kualitas harus dilihat dari NPLnya. Performa KUR juga harus bagus. NPL yang rendah menunjukkan pemanfaatan KUR yang optimal karena keuangan debitur yang membaik,” tutur Destry saat dihubungi kemarin.
Diketahui, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan belum lama ini menerbitkan kajian mengenai risiko fiskal atas kesinambungan program KUR.
Dalam kajian BKF disebutkan adanya risiko yang dapat mengganggu kesinambungan fiskal program KUR. Kekhawatiran muncul karena tidak maksimalnya pengawasan serta tidak jelasnya indikator keberhasilan KUR.
Indikator keberhasilan mobilisasi dana KUR sejauh ini lebih didasarkan pada target plafon yakni 10 kali jumlah penyertaan modal negara (PMN) atau Rp20 triliun.
KUR pertama kali disalurkan pada 2007. Secara akumulatif, kredit yang telah disalurkan melalui program ini hampir mencapai lebih dari Rp85 triliun.Setiap tahun target penyerapan KUR terus ditambah.
Dirut Askrindo Antonius Chandra S mengemukakan, hingga kini nilai non-performing guarantee (NPG) yang ada di Askrindo mencapai 5,2 persen. Antonius menjelaskan, tiap tahun klaim kredit macet yang harus ditutupi Askrindo semakin mengecil.
Kepala ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti mengatakan, jumlah penyaluran KUR yang tinggi memang menggambarkan besarnya penyerapan kredit bagi debitur KUR yang didominasi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Namun, jumlah kredit yang tinggi juga harus dibarengi dengan kualitas penyerapannya.
Tanpa kualitas yang bagus, jumlah kredit yang tinggi justru bisa mendorong non-performing loans (NPL) atau kredit macet. ”Kualitas harus dilihat dari NPLnya. Performa KUR juga harus bagus. NPL yang rendah menunjukkan pemanfaatan KUR yang optimal karena keuangan debitur yang membaik,” tutur Destry saat dihubungi kemarin.
Diketahui, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan belum lama ini menerbitkan kajian mengenai risiko fiskal atas kesinambungan program KUR.
Dalam kajian BKF disebutkan adanya risiko yang dapat mengganggu kesinambungan fiskal program KUR. Kekhawatiran muncul karena tidak maksimalnya pengawasan serta tidak jelasnya indikator keberhasilan KUR.
Indikator keberhasilan mobilisasi dana KUR sejauh ini lebih didasarkan pada target plafon yakni 10 kali jumlah penyertaan modal negara (PMN) atau Rp20 triliun.
KUR pertama kali disalurkan pada 2007. Secara akumulatif, kredit yang telah disalurkan melalui program ini hampir mencapai lebih dari Rp85 triliun.Setiap tahun target penyerapan KUR terus ditambah.
Dirut Askrindo Antonius Chandra S mengemukakan, hingga kini nilai non-performing guarantee (NPG) yang ada di Askrindo mencapai 5,2 persen. Antonius menjelaskan, tiap tahun klaim kredit macet yang harus ditutupi Askrindo semakin mengecil.
(gpr)
Lihat Juga :